Logistics Journal No. 154/Nopember 2014
 cov Nopm 2014
 
EDITORIAL - NAIK LAGI, UPAH + BBM
Semacam ritual horor bagi para pelaku usaha di setiap akhir tahun. Yaitu kenaikan upah pekerja yang harus diputuskan oleh setiap kepala daerah mulai dari bupati, walikota dan gubernur sebelum tutup tahun. Awal tahun sudah menggunakan patokan upah yang baru. Lebih seru lagi ketika seacara bersamaan kenaikan BBM di putuskan. Maka lengkaplah hiruk pikuk dunia usaha dengan kebijakan mogok stop operasi seluruh anggota ORGANDA, khususnya moda angkutan barang dan penumpang, walau tidak seluruhnya dipatuhi oleh anggotanya.
Upah dan BBM adalah dua faktor yang saling terkait langsung disetiap perubahan keduanya. Kenaikan angka nominal di keduanya akan memberi dampak negatif atau dikenal dengan “domino effect” kepada sektor-sektor ekonomi atau kehidupan lainnya. Penurunan daya beli, inflasi naik, daya saing melemah dan masih banyak efek ikutan lainnya. Namun kenaikan adalah sebuah realitas kebijakan pemerintah yang harus diterima oleh semua pihak. Adaptasi dan daya bertahan untuk melanjutkan aktivitas kehidupan dunia usaha harus tetap dilakukan ibarat “demam akhir tahun” yang pasti terjadi.
Dunia usaha tidak mengenal belas kasihan atau “merengek”, yang ada hanya bisa bertahan atau tidak bisa beradaptasi dan mati karena seleksi alam. Bencana alam sekalipun, bisa menjadi menghambat dan mematikan suatu bentuk usaha, tapi sekaligus menumbuhkan bentuk bisnis baru yang mampu menyesuaikan dengan keadaan. Bahkan yang lebih ekstrem, kelompok pelaku usaha secara terorganisir bisa melakukan lobby dan mempengaruhi kebijakan pemerintah sebagai regulator untuk membuat regulasi yang menguntungkan anggota kelompok usahanya.
Bentuk upaya para pelaku usaha yang terorganisir secara global mampu meyakinkan pemerintahnya di masing-masing negara untuk melakukan suatu kelompok atau cluster ekonomi di beberapa kawasan tertentu untuk melakukan kesepakatan dengan negara-negara sasaran kegiatan ekonomi. Hal ini nampak dari beberapa kesepakatan “government to government” yang tidak lagi bersifat bilateral atau multi lateral, namun sudah berbicara kesepatan G to G dalam satu kawasan ekonomi tertentu, seperti APEC, ASEM, MEE maupun MEA.
Menjadi rahasia umum hasil kesepakatan global di bidang ekonomi selalu lebih menguntungkan pelaku usaha asing atau pelaku usaha yang memiliki modal lebih kuat. Sedangkan skala usaha kecil menengah haruslah mengikuti kemampuan dari asosiasi-asosiasinya dalam memperjuangkan kepentingan bisnisnya. Sehingga kenaikan BBM maupun upah pekerja janganlah merengek minta dikasihani, namun tetaplah menjadi pelaku usaha yang kreatif dan kuat bertahan dalam kondisi apapun, kebijakan tidak menguntungkanpun harus ditelan dengan pahit untuk menjadi obat bukan meracuni usaha. Janganlah minta atau menunggu perlindungan usaha dari pemerintah, yang hanya bisa melindungi adalah sesama pelaku usaha senasib bersama asosiasinya. (guslim-nop'14)

bea cukai1
 
Bea Cukai Setor Rp.131,3 Triliun
JAKARTA (LOGISTICS) : Pemerintah menyatakan bahwa hingga akhir Oktober 2014, sektor kepabeanan dan cukai telah menyumbang Rp131,3 triliun penerimaan negara, atau sekitar 75,6% dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2014.
Dari jumlah tersebut, penerimaan bea masuk mencapai Rp26,7 triliun, atau sekitar 91,1% dari target proporsional penerimaan bea masuk sampai dengan 31 Oktober 2014 yang sebesar Rp29,7 triliun.
Dalam konferensi pers perkembangan ekonomi dan arah kebijakan kepabeanan Indonesia, Direktur Penerimaan dan Peraturan Kepabeanan dan Cukai, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC), Susiwijono mengemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi realisasi penerimaan bea masuk.
Beberapa faktor tersebut antara lain pertama, pertumbuhan ekonomi yang terkoreksi, baik perekonomian global maupun domestik. Kedua, terjadinya penurunan nilai impor, di mana pada Januari hingga September 2014 nilai impor mengalami penurunan sebesar 4,26% menjadi US$134,4 miliar.
Ketiga, telah diberlakukannya Free Trade Agreement (FTA), di mana sepanjang Januari hingga September 2014 telah ada 7 skema FTA yang telah berlaku, dengan melibatkan lebih dari 16 negara. “Data importasi di KPU (Kantor Pelayanan Utama) Bea dan Cukai Tanjung Priok menunjukkan bahwa 42,5% dokumen PIB (Pemberitahuan Impor Barang) sudah menggunakan fasilitas FTA, atau setara dengan 38,2% dari total nilai impor sudah menggunakan fasilitas FTA,” ungkapnya.
Pemerintah secara khususnya menyampaikan bahwa pada triwulan III-2014, realisasi penerimaan cukai menjadi penyumbang tertinggi penerimaan negara dari bea dan cukai.
Secara khusus Ke-menterian Keuangan men-yampaikan bahwa tercatat, hingga 31 Oktober 2014, penerimaan cukai mencapai Rp93,9 triliun atau 96% dari target proporsionalnya yang sebesar Rp97,9 triliun.
Lebih jauh menurut Direktur Penerimaan dan Peraturan Kepabeanan dan Cukai (PPKC) Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Susiwijono, beberapa faktor yang mempengaruhi belum tercapainya target realisasi penerimaan cukai tersebut antara lain pertama, tidak adanya kenaikan tarif cukai hasil tembakau pada tahun 2014 ini.
Kedua, melesetnya perkiraan volume produksi hasil tembakau pada tahun ini. “Perkiraan volume produksi hasil tembakau 2014 sebesar 346 miliar batang, meleset dari proyeksi awal sebesar 356-359 miliar batang,” jelasnya dalam konferensi pers perkembangan ekonomi dan arah kebijakan kepabeanan Indonesia sebagaimana dikutip dari Siaran Pers Kemenkeu Minggu (16/11/14).
Ketiga, hilangnya potensi penerimaan cukai akibat penutupan pabrik sigaret kretek tangan (SKT) PT HM Sampoerna di Lumajang dan Jember. “Dengan potensi cukai yang hilang diperkirakan sebesar Rp479,4 miliar,” ungkapnya. Selain itu, lanjutnya, pemutusan hubungan kerja buruh PT HM Sampoerna, PT Gudang Garam dan PT Bentoel juga mengakibatkan hilangnya potensi sebagian penerimaan cukai dari penurunan produksi SKT.
Faktor lain yang mempengaruhi realisasi penerimaan cukai hingga triwulan III-2014 ini adalah pemberlakuan ketentuan peringatan kesehatan dan isu kesehatan lainnya. Faktor terakhir adalah pengenaan pajak rokok sebesar 10% dari nilai cukai hasil tembakau per 1 Januari 2014.
Menanggapi hal ini, Direktur PPKC menegaskan bahwa DJBC akan melakukan berbagai upaya optimalisasi penerimaan cukai untuk mengejar target penerimaan cukai tahun ini. Upaya yang akan ditempuh DJBC antara lain dengan memperketat pengawasan dan penindakan.
“Mengingat tidak ada kenaikan tarif cukai hasil tembakau pada tahun 2014, maka operasi pengawasan dan penindakan akan menjadi instrumen utama dalam upaya optimalisasi dan pengamanan target realisasi penerimaan cukai,” urainya. (logistics/hd)

 
indonesia ka
Indonesia Siapkan KA
Sebagai Angkutan Logistik Sembako
JAKARTA (LOGISTICS) Pemerintah berencana mendistribusikan bahan kebutuhan pokok menggunakan kereta api untuk memangkas biaya logistik.
"Saya dengan Menteri Perhubungan akan membahas logistik itu sendiri, bagaimana memanfaatkan jalur kereta api agar lebih cepat dan memotong biaya distribusi," kata Menteri Perdagangan Rachmat Gobel usai melakukan kunjungan ke Pasar Klender SS di Jakarta, Jumat.
Menurut Rachmat, pemerintah akan membicarakan rencana penggunaan kereta api untuk mengangkut bahan pokok serta penyiapan fasilitas-fasilitas pendukungnya dengan pihak terkait.
"Jalur distribusi ini kami bicarakan sama-sama. Mungkin jika pakai kereta api itu juga harus ada gudang yang harus disiapkan untuk tempat penampungan. Pada tahun depan harus bisa berjalan," ujar Rachmat.
Dia juga mengatakan bahwa biaya distribusi bahan pokok sampai sekarang masih besar.
"Bisa 17-20%, dan jika ada jalan macet atau jembatan rusak itu juga akan menambah biaya. Oleh karena itu, kenapa saya harus mempelajari jalur logistik dari pertanian ke pasar dan harus dibahas sama-sama?" ujar Rachmat.
Saat ini, menurut dia, biaya logistik Indonesia sudah sangat tinggi, yakni mencapai antara 25% sampai 30% terhadap produk domestik bruto (PDB).
Biaya logistik Indonesia merupakan salah satu yang termahal di kawasan ASEAN. Indonesia berada di peringkat 53 daftar Logistics Performance Index 2014 dari Bank Dunia.
Peringkat Indonesia jauh di bawah Singapura yang berada di posisi kelima dunia, Malaysia di peringkat 25, Thailand (35), dan Vietnam.
Sementara itu rencana penggunaan KA sebagai moda bagi angkutan logistik kebutuhan pokok mendapat tanggapan positif dari Ketua ALFI Jatim Hengki Pratoko.
“Sebenarnya langkah itu mesti diimbangi dengan penyiapan sejumlah infra struktur agar penerapan dan pemanfaatn lebih besar atas moda KA sebagai angkutan logistik bisa di jalankan secara maksimal,” kata Hengki.
Secara khusus Hengki menyatakan penggunaan KA sebagai angkutan logistik mesti ditunjang oleh kesiapan PT KAI sebagai operator tunggal kereta api, mengingat kondisi ini yang masih diragukan oleh kalangan pengusaha.
“Kalau soal tarif dipastikan biaya angkutan logistik via KA akan jauh lebih murah mengingat satu rangkaian KA bisa mengangkut lebih banyak barang dan muatan. Namun, kesiapan PT KAI untuk memberikan jadwal dan kepastian akan angkutan itu perlu disosialisasikan ke publik,” ujarnya.
Penggunaan KA sebagai angkutan logistik, kata Hengki, telah dilakukan dibanyak negara maju.
“Indonesia relatif ke tinggalan dalam memacu porsi penggunaan angkutan logistik untuk KA. Ini bisa dimaklumi mengingat supra struktur KA di Indonesia belum memadai. Misal, terkait jalur rel yang relatif masih tunggal sehingga menggangu proses penamba han jadwal frekuensi angkutan dan trayek KA mengingat bila rel tunggal akan selalu berpapasan, berbeda bila sudah rel ganda,” tegasnya.
Secara khusus Hengki sangat optimis kedepan angkutan KA akan memiliki peran penting dan akan mengambil porsi besar dalam angkutan logistik nasional.
“Ini tinggal keseriusan pemerintah saja, bila pemerintah serius membangun infrastruktur KA secara nasional maka harapan itu [KA sebagai angkutan logistik utama nasional] akan bisa terwujud,” ujarnya.
Bila itu bisa terwujud, kata Hengki, maka otomatis akan membantu mengurai kemacetan angkutan darat lewat jalan oleh kendaraan bisa dikurangi. (logistics/hd)

bbm naik
 
Akibat BBM Naik
Ekonomi Jatim Melemah Dan Inflasi Naik
SURABAYA (Logistics) - Kenaikan bahan bakar minyak (BBM) di kisaran 30% tidak hanya bisa memacu kenaikan inflasi di Provinsi Jawa Timur, tetapi juga akan memicu kekuatiran para pelaku usaha di Jatim, diantaranya perekonomian lokal akan terganggu dan iklim investasi juga diprediksi melambat.
Wakil Ketua Umum Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jatim Nelson Sembiring mengatakan kuatiran terhadap putusan perintah dalam menaikan harga BBM. Dia menilai keputusan pemerintah menaikan harga BBM ini terkesan terburu-buru, di saat pemerintahan Presiden Joko Widodo baru berumur sebulan.
“Sebenarnya harga BBM naik itu memang sepenuhnya hak pemerintahan, namun alangkah bijaksananya apabila pemerintahan yang baru ini melihat kondisi masyarakat saat ini sebelum menaikan harga BBM, karena imbasnya akan panjang, dan ditakutkan iklim usaha di dalam negeri juga akan terganggu,” kata Nelson di Surabaya, Kamis (20/11/14).
Namun, Nelson yang juga Direktur Eksekutif Business Development Center Kadin Jatim itumeyakini ketetapan pemerintah menaikkan BBM subsidi tersebut akan memicu banyak spekulasi. Harga berbagai kebutuhan juga akan naik tanpa standarisasi yang jelas. “Belum lagi, keinginan warga untuk melakukan pembelian BBM subsidi besar-besaran dan meningkatnya upaya penimbunan.”
Kenaikan harga BBM sebesar Rp2000 atau naik 30,77% dari harga sebelumnya, akan berdampak pada kenaikan inflasi di provinsi Jatim sebesar 2,1% – 2,3%. Tim pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Jawa Timur (Jatim) menilai akan ada tekanan harga pada beberapa komoditas bahan makanan akibat pengurangan subsidi BBM.
“Inflasi diharapkan akan kembali pada lintasan sasaran yaitu 4%±1% pada tahun 2015,” kata Kepala Perwakilan BI Wilayah IV, Dwi Pranoto, Kamis (20/11/14).
Dwi menjelaskan kenaikan harga BBM ini diperkirakan akan berdampak tingkat kenaikan harga barang secara umum dalam tiga putaran. Dampak kenaikan harga pada putaran pertama (first round effect) berasal dari sumbangan kenaikan harga bensin dan solar bersubsidi itu sendiri yang masing-masing memberikan sumbangan inflasi sebesar 1,36% dan 0,08%.
Selanjutnya kenaikan harga yang terjadi pada putaran kedua atau second round effect diperkirakan berasal dari tarif biaya angkutan atau transportasi yang diperkirakan akan me ngalami kenaikan inflasi sebesar 0,39%.
Dan kenaikan harga pada putaran ketiga (third round effect) berasal dari kenaikan biaya produksi dan distribusi sebesar 0,30%. Respon kenaikan inflasi ini diperkirakan akan berakhir sampai dengan bulan keenam pasca kenaikan BBM.
Menyikapi kondisi saat ini, TPID Jatim memandang perlunya peran pemerintah daerah untuk memperkuat ketahanan pangan melalui penguatan produksi, mem perlancar distribusi dan konektivitas wilayah di Jawa Timur guna memastikan ketersediaan pasokan di seluruh wilayah. Terkait dengan hal ini, Badan Ketahanan Pangan Jatim memastikan ketersediaan atau kecukupan komoditas – komoditas pangan untuk konsumsi pangan di Jawa Timur.
Langkah–langkah strategis untuk penguatan produksi dan ketahanan pangan akan tetap menjadi upaya prioritas yang akan dilakukan oleh pemerintah provinsi Jawa Timur. Di sisi lain, Disperindag Jawa Timur juga tetap terus mengoptimalkan pemantauan harga bahan makanan di pasaran, dengan jumlah titik pantau sebanyak 103 pasar di seluruh Jawa Timur.
“Selanjutnya, sebagai respon atas kenaikan harga BBM serta potensi tekanan inflasi kedepan, TPID secara berkala akan melakukan pembahasan mengenai perkembangan inflasi terkini dan potensi risiko inflasi di tahun 2015, mereko mendasikan kebijakan, regulasi atau langkah–langkah jangka pendek maupun menengah untuk mengantisipasi kondisi ini,” ujarnya. Dalam jangka pendek, pelaksanaan Operasi Pasar masih perlu dilakukan di daerah-daerah yang mengalami dampak terbesar kenaikan harga BBM, serta upaya optimalisasi kebijakan Bantuan Ongkos Angkut dan mengendalikan ekspektasi yang telah dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Jatim guna membantu mempertahankan daya beli masyarakat.
Berdasarkan lokasi ka bupaten/kota yang masuk dalam perhitungan inflasi di Jatim, kenaikan inflasi tertinggi diperkirakan terjadi di kabupaten Jember dengan perkiraan dampak inflasi sebesar 2,94%, disusul oleh Kediri (2,59%), Malang (2,58%), dan Probolinggo (2,40%). Sementara itu, keempat kota lainnya diperkirakan akan mengalami kenaikan inflasi lebih rendah, yaitu Sumenep (1,24%), Madiun (1,87%), Surabaya (1,92%) dan Banyuwangi (1,96%).
Perbedaan respon angka kenaikan inflasi di masing-masing daerah tersebut terkait dengan perbedaan bobot konsumsi BBM di masing-masing wilayah. (logistics/hd)

progres tol
 
Laporan Khusus
Progres Ruas Tol di Indonesia - Jembatan Soekarno Manado
Pemerintah memastikan proses kontruksi dan pembangunan Jembatan Soekarno yang berlokasi di Manado, Sulawesi Utara akan bisa dituntaskan pada 2015.
Hal ini disampaikan secara langsung oleh Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto.
"Jembatan Soekarno selesai tahun depan [2015] dan bisa langsung dimanfaatkan masyarakat Sulawesi Utara," kata Djoko Kirmanto di Manado, Minggu (12/10/14).
Lebih jauh Djoko Kirmanto mengatakan pembangunan jembatan tersebut akan selesai tahun depan sesuai target Kementerian PU.
Sementara itu Menteri PU mengatakan bagian yang belum diselesaikan tinggal 29 meter, sedangkan yang lainnya sudah selesai dikerjakan, tinggal menunggu penyambungan saja, maka jembatan tersebut akan rampung. "Kini pengecoran badan jalan atau landasanya, dan diperkirakan selesai awal Januari 2015 dan sisanya tinggal penyelesaian akhir saja," katanya.
Djoko Kirmanto mengakui penyelesaian jembatan tersebut menghadapi berbagai kendala, namun bisa diatasi dan kini tinggal menunggu penyelesaiannya untuk diker jakan.
Menteri PU pun yakin dengan selesainya jembatan tersebut, maka perekonomian Sulawesi Utara khususnya Manado akan makin bergeliat, karena ada mobilitas penduduk jadi makin lancar sehingga akses ke pusat-pusat ekonomi lebih cepat.
Wakil Wali Kota Manado Harley Mangindaan yang ikut melihat mengatakan sangat mengapresiasi apa yang dilakukan Kementerian PU, sebab sangat berarti bagi seluruh warga Manado, apalagi menghubungkan ke pusat ekonomi.
"Jika selesai awal tahun depan, tentu dampak positifnya akan sangat terasa oleh seluruh warga Manado, khususnya yang ada di Tuminting, Bunaken dan Singkal yang selalu memerlukan waktu lama untuk mengakses pusat ekonomi," katanya.
ol Medan - Binjai
Pemerintah kini semakin serius untuk melakukan proses pembangunan sejumlah infrastruktur transportasi khususnya ruas jalan tol di luar Jawa guna proses peningkatan pemerataan dan mempermudah arus barang dan logistik.
Secara khusus Menteri Koordinator Perekonomian Chairul Tanjung bersama dengan Wakil Menteri Pekerjaan Umum (PU) Hermanto Dardak telah mencanangkan pembangunan jalan tol Medan – Binjai, di Medan Sumatera Utara pada akhir pekan ini.
Lebih jauh dalam sambutannya Wakil Menteri PU mengungkapkan bahwa jalan tol Medan – Binjai merupakan bagian dari rencana Jalan Tol Trans Pulau Sumatera yang mempunyai peranan penting dalam menjalankan roda perekonomian di Pulau Sumatera termasuk Provinsi Sumatera Utara.
Lebih dalam Hermanto Dardak menjelaskan bahwa ruas Tol Binjai-Medan ini akan terkoneksi langsung dengan jalan Tol Belawan – Medan – Tanjung Morawa yang telah beroperasi dan jalan tol Medan – Kualanamu – Tebing Tinggi yang sedang dalam tahap konstruksi.
“Jalan Tol ini merupakan satu dari empat ruas jalan tol Pulau Sumatera yang pelaksanaan pengusahaannya ditugaskan kepada PT Hutama Karya [Persero] berdasarkan Perpres Nomor 100 Tahun 2014 yang diterbitkan 17 September 2014 yang lalu,” kata Hermanto.
Keempat jalan tol tersebut, tambah Hermanto, adalah jalan tol Medan – Binjai (15,8 km), Tol Palembang – Simpang Indralaya (22 km), Tol Pekanbaru – Dumai (135 km), dan Tol Bakauheni – Terbanggi Besar (150 km).
Pembangunan Jalan Tol Medan – Binjai, kata Wamen PU, diharapkan dapat meningkatkan konektivitas untuk mengembangkan potensi ekonomi daerah dan memberikan manfaat penyerapan tenaga kerja baik selama masa konstruksi maupun setelah beroperasi.
“Kementerian PU sesuai dengan kewenangannya, akan terus memfasilitasi dan mendukung langkah yang diperlukan untuk percepatan pembangunan jalan tol ini, “ tambah Wamen PU.
Wamen PU berharap pembangunan yang didukung oleh pendanaan yang kuat dan mitra yang professional tersebut, dapat dilaksanakan dengan baik, tepat waktu dan mengikuti semua ketentuan yang berlaku.
Seperti diketahui, dalam rangka mendorong pengembangan wilayah di Pulau Sumatera dan untuk mendukung pertumbuhan perekonomian nasional serta mendukung pelaksanaan MP3EI tahun 2010-2028, Pemerintah berkomitmen mempercepat pembangunan jalan tol di Pulau Sumatera.
Untuk mewujudkan rencana tersebut, Pemerintah melalui Perpres 100 tahun 2014, melakukan pengusahaan jalan tol yang pelaksanaannya menugaskan kepada BUMN yang seluruh modalnya dimiliki oleh Negara, yaitu PT Hutama Karya (Persero). Hal ini juga sejalan dengan peraturan Pemerintah No. 43 Tahun 2013 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Pemerintah No. 15 Tahun 2005 tentang jalan tol.
Wamen PU mengatakan, dalam pelaksanaanya, pendanaan PT. Hutama Karya berasal dari penyertaan modal negara, penerusan pinjaman Pemerintah, penerbitan obligasi, pinjaman PT. Hutama Karya, dan/atau bentuk pendanaan lain dari Badan Investasi Pemerintah lainnya.
“Selain itu, untuk melaksanakan pembangunan jalan tol tersebut, PT. Hutama Karya diberikan jaminan Pemerintah terkait kewajiban pembayaran PT. Hutama Karya serta pemberian insentif baik dalam bentuk masa tenggang pengembalian pinjaman dan tingkat suku bunga pinjaman,” tutur Wamen PU.
Sementara itu Menko Perekonomian Chairul Tanjung berpesan kepada PT. Hutama Karya, selaku BUMN yang ditugaskan membangun Tol Trans Sumatera, agar menerapkan strategi bangun-jual.
Artinya, bila Ruas Medan-Binjau sudah tuntas pada 2017, maka Hutama Karya menjualnya ke perusahaan lain untuk mendapatkan dana, yang bisa dipakai untuk membangun ruas Tol Trans Sumatera lainnya.
"Pesan saya satu, setelah selesai, jangan dikelola. Tapi segera jual, dengan dijual maka Hutama Karya akan mendapat keuntungan luar biasa, percaya sama saya. Dengan dijual uangnya dipakai untuk bangun yang lain lagi," kata Menko Perekonomian..
Seperti diketahui dari 23 ruas tol Trans Sumatera sepanjang 2.600 Km, ada 4 ruas tol yang jadi prioritas utama yang akan digarap oleh PT Hutama Karya."Saya minta dikerjakan lebih dahulu, pertama adalah ruas Medan-Binjai (17 Km). Nilai investasinya Rp 1,6 triliun. Tanahnya melampaui 70% tanah PTPN (PT Perkebunan Nusantara)," katanya.
Prioritas Kedua tol Trans Sumatera yang akan dibangun adalah ruas Palembang-Indralaya. Ruas Palembang-Indralaya 22 km, investasinya Rp 3,6 trilun.
"Ruas ketiga dan keempat boleh nanti satu dan dua itu selesai, atau terkonsolidasi. Yaitu Pekanbaru-Dumai 14,2 triliun. Lalu Bakauheni-Terbanggi Besar investasi Rp 16,9 triliun. Dua terakhir boleh belakangan," kata CT.(Logistics/hd)

 
PT BJTI, TRASFORMASI ORGANISASI, MENCAPAI 1 JUTA TEUS
Wawancara dengan Dirut PT BJTI, Putut Sri Muljanto.
SURABAYA (LOGISTICS)- Dengan semakin kencangnya perubahan baik dari sisi mikro maupun makro perusahaan, maka tantangan dan peluang bisnispun berubah dengan sangat cepat dan bahkan tak terduga. Dibutuhkan suatu fleksibilitas bagi organisasi dan orang-orang yang ada di dalam organisasi tersebut untuk menyikapi dan “menggeluti” perubahan tersebut untuk tetap bisa tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan. Kunci dari semua itu adalah Excellence People atau SDM Unggul, yaitu unggul dalam pengetahuan, ketrampilan, sikap dan teknologi yang pada akhirnya berdampak terhadap kinerja unggul.
Mencetak SDM Unggul bukanlah suatu hal yang mudah namun juga bukan suatu hal yang tidak mungkin untuk dilakukan. Untuk itu dibutuhkan Excellence Organization atau Organisasi Unggul untuk mencetak SDM Unggul sebagai wadah “menggodok” mereka menjadi insan yang tangguh, bertanggungjawab, kreatif, professional, bersinergy dan beretika.
Memandang pentingnya menciptakan lingkungan Organisasi Unggul sebagai tempat mencetak SDM Unggul untuk Berkinerja Unggul, maka Direksi PT BJTI, yang “dikomandani” oleh Putut Sri Muljanto, berkomitmen melakukan Transformasi Organisasi yang digulirkan sejak awal tahun 2014. Perubahan ini adalah suatu hal yang alami dan akan dihadapi oleh semua organisasi. Namun, yang menjadi tantangan terbesar bagi Direksi dan Manajemen adalah masa transisi yang harus dilalui oleh seluruh jajaran dalam organisasi dengan adanya perubahan tersebut.
maka berikut cukilan wawancara kami dengan Direktur Utama, Putut Sri Muljanto.
Mohon diceritakan PT BJTI saat ini dan yang akan datang seperti harapan Bapak?
PT BJTI mengalamai transformasi bisnis yang cukup pesat, terbukti dengan kenaikan aset sebesar 282 % dimana tahun 2012 tercatat sebesar 919 Milyar Rupiah menjadi ± 2,6 Triliun rupiah, tercatat bahwa terminal berlian Tahun 2013 mempunyai market share di Pelabuhan Tanjung Perak sebesar 33,13 %, dan yang patut dicatat bahwa tahun 2014 ini, sejarah baru bagi Terminal Berlian yang dikelola PT BJTI selama 13 tahun karena dari data hingga triwulan III, arus petikemas terminal berlian tahun ini diperkirakan melebihi angka 1 juta TEUS.
Yang diharapkan di masa mendatang:
Pertama, Fokus Kegiatan B/M Petikemas Domestik di Terminal Berlian. Dalam mendukung program penataan pelabuhan Tanjung Perak, Terminal Berlian focus pelayanan petikemas domestic. Hal tersebut diharapkan dapat meningkatkan kinerja dan pelayanan terminal. Salah satu yang diperlukan adalah perluasan kapasitas terpasang lapangan penumpukan, sehingga diharapkan kegiatan bongkar muat dapat dilakukan dengan system full stack seluruhnya dan tidak ada lagi kegiatan truck lossing. Perubahan pola operasi tersebut akan mampu meningkatkan kapasitas terminal berlian menjadi 1,5 juta teus.
Kedua, Optimalisasi Kegiatan Usaha di Terminal Multiguna Kupang dan terminal satui dengan penambahan fasilitas dan peralatan (Penambahan Alat Fasilitas B/M.
Ketiga, Pengembangan dan pengelolaan Anak Perusahaan dan perusahaan afiliasi: 1. PT. Berlian Manyar Sejahtera , Fokus Bisnis : bidang Kepelabuhanan di Manyar –Gresik, 2. PT. Berkah Kawasan Manyar Sejahtera , Fokus Bisnis : Bidang Industrial Estate di Manyar –Gresik, 3. PT. Terminal Nilam Utama, Fokus Bisnis : Terminal Oil & Gas di Terminal Nilam Utara-Sby.
Dalam perjalanan bisnis PT BJTI lebih dari sepuluh dasawarsa ini, apa yang menggerakkan Direksi dan Manajemen melakukan Transformasi Organisasi?
Perusahaan ini mengalami pertumbuhan yang luar biasa dalam sepuluh tahun ini. Perkembangan bisnis perusahaan seyogyanya diikuti dengan perkembangan pengelolaan organisasi dan SDM. Agar dapat menghadapi era persaingan dan perubahan lingkungan bisnis, diperlukan transformasi organisasi dan pengelolaan SDM. Kondisi saat ini SDM PT BJTI telah memasuki zona nyaman, sehingga diperlukan dorongan dan pemicu untuk menciptakan sebuah tantangan baru. Membangunkan dan menunjukkan bahwa ada tantangan dan tujuan perusahaan yang harus dicapai bersama.
Perubahan apa sajakah yang telah dilakukan oleh Direksi dan Manajemen PT BJTI dalam Transformasi Organisasi ini?
Transformasi dilakukan dari mulai hal yang kecil dan sederhana. Guna menumbuhkan kebersamaan, seluruh pegawai mulai dari petugas kebersihan sampai dengan top levelmanajemen makan siang bersama. Dalam kesempatan makan tersebut akan tercipta dialog dan hubungan harmonis antar pegawai maupun pegawai dan manajemen. Perubahan jam kerja untuk petugas operasional, yang diwajibkan hadir 30 menit sebelum kegiatan dimulai. Perubahan struktur organisasi dan penghasilan yang disesuaikan dengan kondisi operasional dan beban kerja. Pimpinan tanpa kenal lelah menunjukkan hasil atau dampak dari transformasi yang diinginkan sehingga pegawai tahu bahwa transformasi organisasi yang dilakukan memang akan memberikan dampak positif bagi semua pihak. Pemimpin harus terus-menerus menanamkan sense of belonging pegawai terhadap organisasi.
Apakah dalam melakukan transformasi tersebut, Direksi dan Manajemen melakukan suatu persiapan terlebih dahulu? Apa saja langkah-langkah strategis yang dilakukan ?
Disadari bahwa pemimpin dalam hal ini Direksi merupakan “role model” yang sangat penting dalam transformasi organisasi karena tingkat keberhasilan transformasi organisasi menjadi jauh lebih tinggi jika ada keterlibatan dari pemimpin organisasi. Namun demikian, ini bukan berarti keterlibatan pemimpin organisasi merupakan penentu utama keberhasilan transformasi, dukungan pegawai yang suatu saat juga akan menjadi pemimpin juga turut serta membantu keberhasilan transformasi.
Dalam rangka mensukseskan transformasi kelembagaan di BJTI, Direksi dan Manajemen memainkan perannya sebagai berikut:
Pertama, mencontohkan perubahan cara berfikir dan perilaku yang diharapkan sehingga sebelum mengubah sesuatu, seseorang harus berubah terlebih dahulu.
Kedua, membangun komitmen yang kuat sehingga pemimpin harus bisa memetakan stakeholder dalam organisasi dan membuat keputusan bagi mereka yang resisten dan menghambat keberhasilan transformasi organisasi.
Ketiga, membuat transformasi yang penuh makna, Hal ini bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran dan rasa membutuhkan bertransformasi. Pemimpin dapat melakukannya dengan menceritakan kesuksesan transformasi yang bersifat personal
Adapun beberapa langkah yang diambil adalah :
Pertama, menumbuhkan Jiwa Perubahan, dimana setiap orang akan merasa terdorong untuk segera melakukan perubahan yang dilakukan. Hal ini dapat dilakukan jika ditemukannya alasan / faktor yang benar-benar kuat mengapa perubahan perlu dilakukan. Untuk itu perlu ditunjukkan fakta/ data yang dapat dilihat, dirasakan, disentuh agar orang-orang mau dan merasa perlu untuk berubah. Jika orang tidak melihat adanya data / fakta bahwa mereka harus berubah maka yang terjadi adalah orang-orang tidak akan mau berubah. Mereka akan tetap berada di zona nyaman karena mereka merasa tidak ada alasan yang kuat untuk berubah. Harus ada rasa 'keterdesakan' yang bisa dilihat selain oleh pemimpin juga oleh orang yang dipimpinnya.
Kemudian langkah kedua, membantu pembentukan kelompok yang akan memandu proses perubahan (change agents) yang mempunyai kapabilitas yang memadai baik dari sisi anggota kelompok maupun metode pelaksanaannya. Untuk berubah diperlukan orang-orang yang yakin bahwa perubahan akan mengarah ke arah yang lebih baik. Karena itu perlu dibentuk kelompok yang tugasnya menunjukkan antusiasme, komitmen, kepercayaan bahwa dengan perubahan yang akan dilakukan akan menghasilkan hasil yang lebih baik. Mereka inilah agen-agen perubahan yang akan mendorong orang-orang disekitarnya untuk mendukung jalannya perubahan. Karena itu perlu dilakukan komunikasi yang rutin dengan para agen ini agar memantapkan tujuan perubahan, saling mendukung dan meminimalisir rasa frustasi yang mungkin timbul.
Yang ketiga, Visi dan strategi yang disampaikan harus komunikasikan sehingga terjadi kesamaan dan pemahaman yang baik serta dapat diterima di seluruh jajaran.
Keempat, jangan berhenti, lanjutkan terus proses perubahan sebelum visi terwujud. Lakukan terus upaya untuk meningkatkan Jiwa Perubahan sehingga nyala api perubahan tidak redup di tengah jalan.
Bagaimana mengawal proses perubahan ini sehingga berjalan dengan efektif dan produktif ?
Make change stick, memastikan agar perubahan tertanam sebagai budaya perusahaan sehingga perubahan benar-benar mengakar sampai ke struktur organisasi yang paling bawah. Karena bila satu saja tahapan itu dilewati, maka kita hanya akan menghasilkan apa yang disebutnya sebagai illusion of speed (kecepatan maya) yang dapat menghasilkan perubahan yang tidak sempurna.
Menyampaikan secara “gamblang” rencana jangka panjang perusahaan kedepan kepada seluruh pegawai sehingga paham akan tujuan dan arah perkembangan perusahaan. Pemahaman akan tujuan perusahaan akan menyatukan gerak dan langkah dalam menjalankan proses perubahan.
Melakukan evaluasi, kontrol dan secara terus menerus mengingatkan pegawai tentang tantangan dan yang akan dihadapi dan tujuan bersama kedepan.
Melakukan dialog dan sharing dengan pegawai serta mendengarkan masukan dan ide yang diberikan untuk perbaikan perusahaan. Berusahan meciptakan suasana kekeluargaan, sehingga pegawai berani berdiskusi dan menyampaikan pendapat.
Peluang-peluang apa yang Bapak lihat ke depannya dengan dilakukannya Transformasi Organisasi ini?
Pegawai akan memahami bahwa setiap orang memiliki kontribusi kepada perusahaan dan setiap pegawai tahu perbedaan kontribusi yang diberikan kepada perusahaan. Hal tersebut akan mendorong pegawai untuk berprestasi dan memberikan kontribusi terbaik kepada perusahaan. Pengukuran kinerja yang kuantitatif mutlak untuk diterapkan sehingga semua pegawai merasa punya ukuran yang jelas dan obyektif yang dapat dipergunakanuntuk mengukur produktifitas dan kinerjanya. Kedepan kinerja perusahaan ini dapat dibagikan pada seluruh pegawai dengan bagian atau porsi/ puzzle masing-masing yang pada akhirnya akan membentuk sebuah gambar dari kepingan puzzle.
Kami yakin bahwa Transformasi Organisasi suatu program berkelanjutan, namun sejauh ini bagaimana dampaknya terhadap target 1 juta Teus yang dicanangkan oleh Direksi?
Transformasi Organisasi yang salah satunya mengubah strategi PT. BJTI dengan fokus ke terminal petikemas domestik untuk kegiatan di Terminal Berlian, kesiapan pandu maupun tunda, optimalisasi waktu kerja (24 jam) dan menambah sejumlah fasilitas lapangan penumpukan di wilayah lini I sebagai penunjang kegiatan di Terminal Berlian terbukti mampu memberikan kenaikan signifikan baik arus kapal maupun arus petikemas sampai dengan triwulan III ini, dan kami berharap apabila Terminal Berlian tahun ini dapat melakukan B/M petikemas internasional dan domestik sebanyak 1 juta Teus, maka tahun depan juga bisa menjadi tonggak sejarah 1 juta Teus khusus untuk petikemas domestik.
Apakah harapan dari Direksi kepada seluruh jajaran yang ada di PT BJTI ke depannya dengan telah digulirkannya Transformasi Organisasi ini?
Setiap Pegawai mempunyai peran sehingga mereka semua dapat mengatasi secara efektif rintangan-rintangan yang timbul yang dapat memantapkan pengalaman dalam mengelola perubahan sehingga dapat meningkatkan kepercayaan diri. Selain itu perlu juga dukungan dalam bentuk alat-alat (resources) yang memadai agar semua orang dapat bertindak untuk mencapai visi. Termasuk pula adalah dorongan agar team mampu keluar dari pola pikir standar dan dapat 'keluar' mengambil langkah-langkah terobosan yang belum pernah dilakukan sebelumnya.
Dari wawancara ini semoga bisa menjadi insight dan semangat bagi perusahaan lainnya melakukan Transformasi Organisasi untuk mencetak SDM unggul yang menghantar perusahaan berkinerja unggul. (Logistics/hd)

bjti
BJTI Raih Bongkar Muat 1 juta TEUS Di Terminal Berlian
Terminal Berlian Menjadi Terproduktif Di Dunia
SURABAYA (Logistics) - PT Berlian Jasa Terminal Indonesia yang mengoperasikan Terminal Berlian boleh berbangga diri menyusul anak perusahaan PT Pelabuhan Indonesia III yang mengoperasikan Terminal Berlian memberikan kinerja luar biasa.
Terminal Berlian yang merupakan Terminal Petikemas Domestik / Lokal dinilai sebagai yang paling produktif, tidak hanya di Indonesia, tapi juga dunia dengan bukti pencapaian 1 juta TEUs.
Hal ini karena di Dunia ini tidak ada container lokal/domestik yang bisa tembus 1 juta TEUs.
“Apabila kita melihat PSA Singapore atau Shanghay Port itu hanya selaku hub port saja, sedangkan jika kita melihat data, Terminal Domestik di Makassar hanya sekitar 600 ribu Teus Petikemas saja“ujar Ketua DPC INSA Indonesia National Ship-owner Asociation (INSA) Surabaya,Steven H. Lasawengen.
Lebih jauh menurut Putut Sri Muljanto, Direktur Utama PT BJTI target handling 1 juta TEUs di Terminal Berlian yang terwujud di akhir tahun 2014 ini didukung oleh adanya kenaikan arus kunjungan kapal maupun arus petikemas. Handling 1 juta TEUs di Terminal Berlian telah tercapai pada hari Minggu tanggal 23 Nopember 2014 pukul 15.21 WIB saat bongkar MV. Mentaya River milik Pelayaran PT. Meratus Line.Beberapa faktor yang mendukung pencapaian produksi B/M Petikemas 1 juta Teus, yaitu :
a. Optimalisasi kerja 24 jam
b. Operator alat Utama Bongkar Muat 30 menit sebelum pergantian shift sudah berada di lokasi dan siap untuk bekerja.
c. Kesiapan Pelayanan Pandu dan Tunda
d. Clusterisasi Penggunaan Terminal
e. Kesiapan Alat Bongkar Muat
f. Minimalisasi Kecelakaan Kerja
g. Perluasan Lapangan Penumpukan dan Fasilitas Pelabuhan
Dengan Luas Dermaga 7,5 Ha dengan panjang tambatan 1620 M, Terminal Berlian mampu menghandle kegiatan B/M sebesar 33,13% dari total kegiatan handling petikemas secara keseluruhan di Pelabuhan Tanjung Perak. Rute kapal di Terminal Berlian melayani 36 kota tujuan terdiri dari 2 kota Tujuan Indonesia Barat dan 34 kota tujuan Indonesia Timur, atas clusterisasi di Terminal berlian diprediksi akhir Desember 2014 B/M Petikemas Domestik mencapai 1 Juta Teus, sedangkan total Petikemas yang dihandling (Domestik-Internasional) sebesar 1,1 Juta Teus.
Dalam sambutannya di acara selebrasi 1 juta teus di Terminal Berlian, Sahat S. Simatupang, Kepala Otoritas Pelabuhan Utama Tanjung Perak mengatakan bahwa ke berhasilan BJTI adalah keberhasilan kita semua, semoga 1 juta teus ini bisa dipertahankan dan ditingkatkan, dan apabila Alur Pelayaran Barat Surabaya (APBS) selesai di Maret 2015 maka keamanan dan ketertiban Pelayaran, draft masuk kapal bisa dikontrol ini salah satu pendorong untuk menaikkan trafik petikemas di Pelabuhan Tanjung Perak.
Sedangkan Djarwo Surjanto selaku direktur utama PT Pelindo III menambahkan bahwa selaku Kuasa Pemegang Saham, sangat bahagia atas pencapaian 1 juta Teus di tahun ke 13 BJTI beroperasi di Terminal Berlian, dengan lapangan penumpukan “hanya” 7,5 hektar dan dwelling time (waktu tunggu) kapal 5 hari, seharusnya angka produksi Petikemas Terminal Berlian diperkirakan 500 ribu Teus Saja, tapi bukti pencapaian 1 juta Teus ini adalah fakta bahwa cara berfikir “out of the box” dari manajemen telah membuahkan hasil yang luar biasa. Ditambahkan pula bahwa ke depan suplai lapangan penumpukan dari luar Terminal Berlian harus dikembangkan agar bisa tembus 1,5 juta teus Petikemas. Bahwa Pada 1 januari 2015 proses penataan Terminal baik Curah Maupun Petikemas akan dilakukan, sehingga Teminal Berlian, Terminal Nilam, Terminal Petikemas Surabaya dan Terminal Teluk Lamong harus bersaing untuk mencari pasar dan diserahkan kepada mekanisme pasar, untuk bersaing dalam services dan tidak diatur siapa yang akan menggunakan jasa di terminal tersebut, utamanya ini dilakukan untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada pelanggan dan pengguna jasa.
Sementara itu dijelaskan Petikemas (container) sendiri merupakan sebuah peti berbentuk persegi panjang yang dirancang khusus dengan ukuran tertentu. Terbuat dari besi maupun alumunium, memiliki pintu pada salah satu sisinya, serta dapat digunakan berulang kali. Petikemas juga digunakan sebagai tempat untuk menyimpan sekaligus mengangkut muatan yang ada di dalamnya. Ukuran muatan dalam kegiatan pembongkaran maupun pemuatan barang dengan meng gunakan petikemas dinyatakan dalam TEUs (Twenty Foot Equivalent Units). Oleh karena ukuran standar dari petikemas atau kontainer dimulai dari panjang 20 kaki, maka satu petikemas 20' dinyatakan 1 (satu) TEUs dan petikemas 40' dinyatakan sebagai 2 TEUs atau sering dinyatakan dalam FEUS (Forty Foot Equivalent Units). (Logistik/hd)

komuditas karet
Indonesia Dorong Kenaikan Harga Jual Ekspor Komoditas Karet Alam
JAKARTA (LOGISTICS) : Pemerintah Indonesia tengah mengupayakan untuk meningkatkan harga jual karet alam mengingat Indonesia merupakan produsen terbesar komoditas ekspor tersebut dimana harga jual karet alam dunia mengalami penurunan signifikan.
Upaya itu dilakukan dan diperjuangkan oleh Pemerintah Indonesia pada pertemuan Dewan Karet Tripartit Internasional (ITRC).
Lebih jauh Menteri Perdagangan Rachmat Gobel menghadiri pertemuan Dewan Karet Tripartit Internasional (ITRC) yang diikuti sejumlah menteri dari negara produsen, untuk memperjuangkan kenaikan harga komoditas tersebut yang anjlok dalam tiga tahun terakhir.
Hadir pada pertemuan ITRC di Kuala Lumpur, Malaysia, Kamis (20/11/14), tersebut, Menteri Perladangan Komoditi Malaysia, Datuk Amar Douglas Uggah, serta Menteri Pertanian dan Koperasi Thailand, Petipong Pungbun Na Ayudhya, di samping perwakilan dari negara lainnya di Asean yang juga menjadi produsen karet seperti Kamboja, Myanmar, Laos, dan Vietnam (CLMV).
ITRC beranggotakan Indonesia, Malaysia, dan Thailand yang menguasai sekitar 67 persen produsen karet alam dunia. Sementara empat negara Asean lainnya (CLMV) menguasai 10 persen produksi karet alam dunia.
Indonesia, Malaysia, dan Thailand, yang menguasai 79% pasar ekspor karet alam dunia itu berupaya menemukan jalan agar pasokan tidak berlebihan guna mendongkrak harga karet alam yang pada November jatuh hingga US$1,54 perkg.
"Harga tersebut su dah jauh di bawah biaya produksi yang mengakibat kan harga beli kepada petani karet juga mengalami tekanan," kata Mendag Rachmat Gobel.
Padahal di tiga negara tersebut ada lebih dari empat juta petani yang hidup dari perkebunan karet alam.
Di Indonesia sendiri, menurut data Kemendag, ada 2,4 juta petani karet yang membutuhkan perhatian. "Jadi pertemuan ini sangat penting untuk meningkatkan pendapatan petani," kata Rachmat.
Karet merupakan salah satu unggulan ekspor Indonesia. Pada 2010 ekspor komoditas tersebut mencapai US$7,3 miliar dan melonjak pada 2011 menjadi US$11,7 miliar.
Lonjakan ekspor itu terjadi karena harga karet dunia naik mencapai empat dolar AS per kilogram. Namun pada 2013, ekspor komoditas tersebut anjlok menjadi US$6,9 miliar akibat terus menurunnya harga karet alam di pasar dunia.(logistics/hd)

menperin saleh
 
MENPERIN : Pemda Harus Dukung Pengembangan
Kawasan Industri Dan Sentra Industri
(Hal ini secara khusus disampaikan oleh Menteri Perindustrian (Menperin) Saleh Husin)
KUPANG (LOGISTICS): Pemerintah daerah di Indoensia diminta untuk lebih aktif guna mengetahui secara benar berbagai sentra industri yang ada dan potensial untuk dikembangkan sekaligus dikelola untuk pendapatan asli daerah (PAD) menuju kesejahteraan bersama.
"Pemerintah Daerah di kabupaten/kota yang mengetahui persis karakteristik wilayah dan potensi daerah yang ada cocok untuk dikembangkan atau dibangun industri kecil hingga menengah yang kemudian menyerap tenaga kerja dan meningkatakan PAD lalu mensejahterakan masyarakat setempat, sehingga perlu proaktif," katanya di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/11/14).
Secara lebih dalam Saleh Husin menilai, NTT yang berbasis kepulauan sangat potensial dengan garam industri yang tersebar merata hampir di semua kabupatennya, sehinggga perlu mendapatkan perhatiaan serius untuk dikembangkan dan dikelola menjadi usaha garam rakyat untuk meningkatkan pendapatan warga.
Kabupaten Manggarai Timur, menurut dia, juga berpotensi mengembangkan garam rakyat di lahan seluas 3.500 hektare, sementara yang dimanfaatkan baru 60,3 hektare yang menghasilkan garam sebanyak 53 ton.
Adapun Kabupaten Nagekeo memiliki potensi pengembangan lahan garam rakyat seluas 2.000 hektare dengan tingkat pemanfaatan saat ini 14,8 hektare dengan hasil diperoleh 24,9 ton. Manggarai Timur potensi lahan garamnya 5.000 hektare, dan pemanfaataan saat ini 16,3 hektare dengan hasilnya 42,1 ton.
Selain itu, Kabupaten Ende potensi lahan garamnya 200 hektare dengan pemanfaatan 4,5 hektare dan produksi 5,9 ton, serta Kabupaten Alor potensi lahan garamnya 31 hektare dengan pemanfaatan 3,3 hektare dan produksi 1,9 ton.
"Dengan potensi lahan garam rakyat yang ada apabila dikelola dengan baik maka NTT bisa memenuhi kebutuhan sendiri. Sementara beberapa wilayah yang potensial untuk garam industry, bisa difokuskan untuk memenuhi kebutuhan garam nasional," ujar Saleh.
Kementerian Perindustrian, menurut dia, terbuka sekaligus siap menindaklanjuti setiap usulan industri garam di NTT, setelah melakukan kajian berbagai aspek,
 
mulai dari kesiapan lahan untuk industri, kesiapan sumber daya manusia (SDM) dan pengembangan pasar domestik maupun global.
Saleh Husin mengatakan hal itu usai menyaksikan penandatanganan nota kesepakatan bersama pengembangan garam antara PT. Cheetham Salt dengan Bupati Nagekeo Elias Djo dan PT Garam dengan Bupati Kupang, Ayub Titu Eki, di Kupang.
Usai diskusi dengan komponen terkait pengembangan industri kecil dan menengah di wilayah itu, didampingi Gubernur NTT Frans Lebu Raya dan Ketua DPRD NTT Anwar Pua Geno, Menteri meninjau PT Semen Kupang, Usaha Kerajinan Industri Kecil seperti Ina Ndao dan Dekranasda NTT. (logistics/hd)