Logistic Juli 2014

 Logistics Journal

 No. 150/Juli 2014

 cover-juli2014

 Editorial - Kemenangan
Kemenangan adalah sebuah kata yang menjadi dambaan hampir setiap individu, kelompok ataupun organisasi. Karena pada prinsipnya, dirasakan atau tidak dirasakan, secara langsung atau tidak langsung, dalam menjalankan proses kehidupan ini tidak akan lepas dari sebuah persaingan, kompetisi maupun “pertempuran'.
Ujung akhir yang akan dicapai dari persaingan. Kompetisi ataupun pertempuran adalah kemenangan. Kebanyakan orang hanya membayangkan suasana gegap gempita saat kemenangan itu diraih, namun jarang sekali bahkan cenderung melupakan proses menuju kemenangan itu. Kemenangan itu dikategorikan “kemenangan sempurna” kalau prosesnya tidak melanggar aturan atau kaidah etika yang menyertainya.
Bulan Ramadhan sebagai bulan yang memproses, melatih dan menguji bagi mereka yang menjalankan ibadah puasa akan diakhiri dengan sebuah kemenangan. Yaitu kemenangan dalam melatih, menguji dan menahan emosi dalam segala bentuk perwujudannya, tidak hanya lapar- dahaga. Menahan dan mengendalikan emosi tidaklah mudah, karena emosi itu sering berwujud multi-rupa sesuai dengan tingkat kebutuhan dan kepentingan setiap individu. Senyampang pemanfaatan emosi sebagai pendorong tidak merugikan manusia lainnya, atau merusak kepentingan kelompok lainnya, maka pencapaian kemenangannya tidak menyakiti diri orang lain dan lingkungan sekitarnya. Itulah kemenangan hakiki. Itulah yang diajarkan, dilatihkan serta dituntunkan selama bulan Ramadhan.
Pertanyaannya adalah setelah Hari Raya Idul Fitri atau dikenal juga dengan hari kemenangan bagi mereka yang menjalankan ibadah puasa, apakah proses menuju kemenangan itu masih membekas? Ataukah hanya proses perayaannya kemenangannya saja yang tertinggal? Padahal yang diharapkan adalah proses menuju kemenangan itulah yang seharusnya terus membekas dalam perilaku keseharian setelah berpuasa. Maksudnya, seluruh perilaku pasca Ramadhan juga tetap terjaga seperti layaknya pada saat masih Ramadhan. Misalnya, menahan dan mengendalikan emosi, suka berbagi, dan memperbanyak amal dan ibadah.
Hampir bersamaan di akhir Ramadhan ini juga kan ditentukan siapa yang memenangi pemilihan Presiden Republik Indonesia masa bakti 2014 – 2019. Siapapun Presiden yang terpilih janganlah hanya bisa dan ingat pada kemenangan yang diraihnya. Tapi selalu tetap “melawan lupa” terhadap proses perjuangannya yang melibatkan semua masyarakat pemilihnya, harapan-harapan, titipan amanah, mapun tumpuan perbaikan hidup dari para pemilih bahkan yang tidak memilihnya. Sehingga kemenangan dari Presiden yang terpilih semangatnya tetap mengikuti serta menjaga semangat saat proses menuju kemenangan, demikian pula agenda janji yang dibawa tetap seperti saat kampanye. Akankah kemenangan Ramadhan menginspirasi kemenangan Presiden terpilih untuk kemajuan Indonesia. (guslim-jul'14)

 
Pemerintah Siapkan Kebijakan Impor Beras
 
pemerintah-siapkan-impor-beras
 
JAKARTA (LOGISTICS) - Pemerintah Indonesia sudah menyiapkan kebijakan impor beras, guna mengantisipasi penurunan produksi padi. Karena berdasarkan prediksi Badan Pusat Statistik (BPS), produksi padi pada tahun ini akan turun beberapa persen.
Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi pun mengaku sudah memberikan arahan kepada Direktur Utama (Dirut) Bulog Sutarto Alimoeso untuk mengantisipasi turunnya prediksi angka ramalan (aram) yang 69,8 juta. "Artinya, terjadi kontraksi 2% dari tahun yang lalu," kata Lutfi saat di Kantor Kementerian Perdagangan (Kemendag), Jakarta, Rabu (2/7/14).
Selain itu, pemerintah juga harus mengantisipasi dampak iklim El Nino. Sesuai data BPS yang dilansir Selasa (1/7/14), produksi padi menurut Aram I sebanyak 69,87 juta ton gabah kering giling (GKG). Jumlah ini turun 1,41 juta ton atau 1,98% dibandingkan 2013.
Penurunan tersebut diprediksi terjadi akibat penurunan luas panen 265. 310 hektare atau 1,92%, dan produktivitasnya sebesar 0,03 kuintal per hektare alias 0,06%.
Adapun daerah yang diprediksi mengalami penurunan produksi padi pada tahunbu ini diantaranya Jawa Barat, Jawa Tengah, Banten, Sumatera Barat, dan Sumatera Selatan. Sementara kenaikan produksi padi diperkirakan terjadi di Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, Nusa Tenggara, Sulawesi Tenggara, dan Jawa Timur.
Lantas, berapa kuota impor berasnya? Lutfi enggan memberikan kepastian. Termasuk waktu pelaksanaan impor dan harga impor berasnya. Dia berdalih, ini untuk menjaga stabilitas harga.
"Angka, harga, dan timing untuk itu sudah saya berikan. Tapi, saya mohon diskresi itu sudah ada di tangan pemerintah untuk menjaga stabilitas agar tak terpojok kontaminasi spekulan yang ada," terangnya. (Logistics/hd)

 
Hasil Cukai Tembakau 2013
Capai Rp. 120 Triliun
 
hasil-cukai
 
 
LAMPUNG (LOGISTICS) : Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI) menyebutkan cukai tembakau dapat menyumbang pendapatan Rp120 triliun per tahun ke kas negara.
"Selain menyumbang pendapatan yang cukup besar, tenaga kerja yang berkecimpung di bidang tembakau sebanyak enam juta jiwa mulai dari hulu hingga hilir di Tanah Air," kata Wakil Sekretaris Jenderal AMTI Agung Suryanto di Bandarlampung, Sabtu (29/6/14).
Ia menyebutkan bahwa tenaga kerja yang bekerja di bidang tembakau itu mulai dari petani hingga pekerja di pabrik rokok yang tersebar di Tanah Air.
Artinya jika dilihat dari jumlah itu sekitar 24 juta jiwa menggantungkan hidupnya di bidang tembakau, bila diasumsikan satu kepala keluarga terdiri atas empat orang.
Di sisi lain, lanjutnya, AMTI mengharapkan adanya regulasi yang adil terkait produk tembakau yang dinilai masih kontradiksi antara industrialisasi tembakau dengan pengendalian tembakau termasuk masalah kesehatan.
"Beberapa waktu lalu muncul pertentangan opini terkait larangan merokok atau rokok itu haram. Sehingga masuk ke ranah agama, karena itu perlu regulasi yang jelas sehingga tidak melebar ke persoalan lain," jelasnya.
Terkait isu kesehatan, Agung mengakui bahwa merokok itu berdampak pada kesehatan, tetapi tidak pula pemerintah ikut-ikutan menandatangani konvensi pengendalian tembakau yang diusung Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
AMTI menghargai keputusan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang tidak bersedia menandatangani ratifikasi rencana aksesi Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) atau konvensi pengendalian tembakau menyusul tidak adanya kata sepakat sejumlah menteri.
Sementara itu, Dewan Pimpinan Daerah Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Lampung menolak rencana aksesi Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) atau konvensi pengendalian tembakau.
Ketua APTI Lampung Jumingan mengapresiasi dan mendukung terwujudnya peratutan nasional tentang produk tembakau yang tidak hanya akan melindungi kesehatan masyarakat Indonesia, khususnya permasalahan merokok di kalangan anak. Tetapi juga, melindungi kelangsungan industri tembakau nasional.
Namun, menurut dia, apabila Indonesia mengaksesi FCTC, maka semangat melindungi budi daya tembakau dan meningkatkan kesejahteraan rakyat akan terpinggirkan.
Ia menjelaskan, APTI Lampung berkomitmen untuk memperjuangkan kesinambungan kehidupan para petani tembakau di daerah itu, sesuai dengan visi dan misinya yakni meningkatkan kesejehateraan masyarakat petani tembakau serta melestarikan industri tembakau yang berkualitas.
Karena itu, APTI Lampung berharap agar pemerintah konsistensi mengimplementasikan PP 109/2012 tentang Pengendalian Dampak Tembakau Terhadap Kesehatan sebagai acuan pengendalian produk tembakau yang menjamin keseimbangan multi-aspek, yakni perlindungan kesehatan, perlindungan anak, perlindungan petani tembakau dan cengkeh, serta perlindungan kelangsungan industri tembakau nasional beserta tenaga kerja yang terlibat di dalamnya. (Logistics/hd)
 

 
PTPN X
Ekspor Perdana Etanol ke Filipina
 
ptpnx-ekspor-etanol
 
SURABAYA (LOGISTICS): PT Perkebunan Nusantara X (Persero) melalui anak usahanya PT Energi Agro Nusantara melakukan pengiriman ekspor perdana produk bioetanol "fuel grade" sebanyak 4.000 kiloliter ke Filipina.
Pelepasan truk tangki pengangkut bioetanol ekspor dilakukan Direktur Utama PTPN X Subiyono dan Direktur Utama PT Energi Agro Nusantara (Enero) Agus Budi Hartono di lokasi pabrik di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Rabu (2/7/14).
Lebih jauh pengiriman 4.000 KL bioetanol pesanan sebuah perusahaan di Filipina itu dilakukan dalam dua tahap melalui Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, Jawa Tengah.
"Kami terpaksa mengirim barang melalui Semarang, karena di Pelabuhan Tanjung Emas ada tangki khusus untuk mengirim bioetanol. Sebelumnya kami sudah survei ke pelabuhan di Surabaya, Gresik dan Pasuruan, tapi tidak menemukan tangki yang kami butuhkan," ungkap Agus Budi.
Disisi lain, dia mengemukakan sebelumnya ada beberapa negara yang berminat membeli produk bioetanol dari PT Enero, seperti Jepang dan Singapura, namun penawaran harga yang diberikan tidak sebagus dari Filipina.
"Sebenarnya kami lebih berharap produk bioetanol ini untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri sebagai energi alternatif, setelah makin menipisnya cadangan energi fosil. Akan tetapi, pemerintah belum memberikan respons positif dan harganya juga lebih rendah dibanding ekspor," tutur Agus Budi.
Menurut ia, harga bioetanol fuel grade dengan tingkat kemurnian 99,5 persen di dalam negeri sekitar Rp7.000-Rp7.500 per liter, sementara di pasar ekspor bisa mencapai Rp8.500-Rp9.000 per liter.
Sementara itu, Dirut PTPN X Subiyono menambahkan ekspor perdana ini menjadi awal mula dari upaya perseroan untuk memacu kinerja pabrik bioetanol pada masa mendatang.
Pabrik bioetanol produksi anak usaha PTPN X yang beroperasi di Mojokerto, memiliki desain kapasitas produksi 30.000 kiloliter per tahun. Bioetanol itu dihasilkan dari pengolahan hasil samping industri gula berupa tetes tebu dengan kebutuhan sekitar 120.000 ton per tahun yang disuplai pabrik gula milik PTPN X.
Kendati mampu menembus pasar ekspor, Subiyono mengaku kecewa dengan respons pasar dalam negeri yang minim terhadap pemanfaatan bioetanol untuk menopang ketahanan energi. Selain itu, pemerintah juga tidak serius mendorong pemanfaatan bahan bakar nabati seperti bioetanol yang dibuat dari tetes tebu (molases).
"Banyak orang bicara kedaulatan energi, tapi mana kenyataannya? Negeri kita impor BBM terus, karena realisasi produksi minyak menurun dan cadangan minyak bumi menipis. Sekarang ada potensi bioetanol yang sifatnya terbarukan dan ramah lingkungan, kok malah tidak dioptimalkan," tukas Subiyono.
Saat ini, PTPN X masih menjajaki kerja sama ekspor dengan sejumlah pihak lain di luar negeri, di antaranya Korea Selatan, Taiwan dan Belanda.
"Ada beberapa perusahaan yang sudah menyatakan minat terhadap produk bioetanol kami. Sudah ada pembicaraan dan semoga bisa segera terealisasi kontrak jual belinya. Tapi, sejujurnya saya kecewa karena niat bangun pabrik dulu adalah untuk menopang kedaulatan energi Indonesia, bukan untuk energi negara lain," tegas Subiyono. (Logistics/hd)

 
Garuda Indonesia
Mulai Terbangi Rute Surabaya - Jember
 
garuda-rute-sby-jember
 
Dengan armada pesawat ATR 72-600 berkapasitas 70 penumpang
JEMBER (LOGISTICS) : Armada pesawat maskapai Garuda Indonesia siap menerbangi rute Jember menuju Surabaya dan sebaliknya mulai 16 Juli 2014 dengan menggunakan pesawat jenis ATR 72-600 yang berkapasitas hingga 70 penumpang.
"Insyaallah Bandara Notohadinegoro akan beroperasi pada 16 Juli 2014 dan mohon doanya kepada seluruh masyarakat Jember agar dapat berjalan baik dan sukses demi kemajuan Kabupaten Jember ke depan," kata Bupati Jember MZA Djalal di Jember, Rabu (2/7/14).
Untuk tahap awal, lanjut dia, maskapai Garuda Indonesia hanya melayani satu kali penerbangan dalam sehari, baik rute Jember-Surabaya maupun Surabaya-Jember sambil melihat perkembangan minat masyarakat terhadap transportasi udara.
"Sambil melihat pasar, kalau antusias pasar cukup bagus maka bisa jadi jadwal penerbangan akan ditambah dua hingga tiga kali sehari, termasuk rencana penambahan rute ke daerah lain seperti Banyuwangi dan Pulau Bali," paparnya.
Berdasarkan nota kerja sama yang telah disepakati bersama antara Garuda dan Pemkab Jember, maskapai berpelat merah tersebut telah sepakat untuk mengoperasikan pesawat jenis ATR 72-600 dengan kapasitas 70 penumpang.
"Beroperasinya Bandara Notohadinegoro dapat memangkas waktu jarak tempuh transportasi darat yang selama ini banyak menjadi kendala dan dikeluhkan para investor dalam mengembangkan usahanya di Jember, sehingga saya berharap pertumbuhan ekonomi dapat meningkat," katanya.
Lebih jauh informasi yang dihimpun di lapangan, rencananya pesawat Garuda yang terbang ke Jember berangkat sekitar pukul 08.30 WIB dari Surabaya dan kembali sesaat setelah tiba di kabupaten yang dikenal sebagai "Kota Tembakau" itu.
Sementara itu maskapai Garuda menargetkan load factor atau tempat duduk dapat terisi 70% dari jumlah kapasitas 70 tempat duduk seiring dengan menjelang arus mudik dan balik Lebaran 2014, serta untuk menutupi beban operasional pada tahap awal.
Ruang penjualan tiket di bandara yang berada di Kecamatan Ajung tersebut juga sudah tersedia dan terdapat logo maskapai Garuda Indonesia, serta tercantum tarif Jember-Surabaya sebesar Rp275.000 dan Surabaya-Jember sebesar Rp350.000 dengan lama perjalanan sekitar 30 menit. (logistics/hd)

 
Inflasi Juni 2014 capai 1,03%
Inflasi di Jatim 0,36%
 
inflasi-juni
 
JAKARTA (LOGISTICS) : Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat laju inflasi pada Juni 2014 sebesar 0,43% atau lebih rendah dari inflasi pada Juni tahun lalu yang tercatat sebesar 1,03%.
"Inflasi Juni 2014 lebih rendah dari rata-rata inflasi Juni dalam empat tahun terakhir," kata Kepala BPS Suryamin di Jakarta, Selasa (1/7/14).
Menurut BPS, inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya indeks seluruh kelompok pengeluaran, seperti kelompok bahan makanan (0,99%); makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau (0,32%); dan perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar (0,38%).
Lebih jauh kenaikan indeks harga konsumen juga terjadi pada kelompok sandang (0,30%); kesehatan (0,36%); pendidikan, rekreasi, dan olah raga (0,08%); dan transpor, komunikasi, dan jasa keuangan (0,19%).
Secara khusus BPS mencatat tingkat inflasi tahun kalender (Januari - Juni ) 2014 sebesar 1,99% dan tingkat inflasi tahun ke tahun (Juni 2014 terhadap Juni 2013) sebesar 6,70%
Inflasi Jatim
Sampai dengan bulan Juni 2015 Inflasi Jawa Timur mencapai 0,36% atau lebih rendah dibandingkan kinerja inflasi nasional pada periode sama sebesar 0,43% karena pengendalian harga di provinsi ini baik.
"Dengan angka inflasi Jatim di bawah angka nasional, bisa dikatakan secara rata-rata kondisi ekonomi provinsi ini lebih baik dibandingkan provinsi lain di Indonesia," kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim, M Sairi Hasbullah, di Kantor BPS Jatim, Surabaya, Selasa (1/7/14).
Sairi menjelaskan selama bulan Juni, inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Sumenep sebesar 0,70%. Kemudian, posisi inflasi terendah di Kabupaten Jember 0,12%.
"Sementara, terkait andil inflasi di Jatim mayoritas didominasi komoditas bahan makanan 0,19% sedangkan sandang hanya sedikit atau 0,03%. Pendidikan dan rekreasi justru lebih sedikit andilnya terhadap inflasi yakni 0,005%," jelasa.
Dengan begitu, jelas dia, kondisi tersebut menjadi tantangan besar bagi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) untuk lebih menyikapi hal tersebut. Mengenai komoditas utama penyumbang inflasi, terlihat dari kenaikan harga bawang merah sebesar 19,10%dan menyumbang 0,072% terhadap inflasi.
"Lalu, harga telur ayam ras meningkat 7,83% dan menyumbang inflasi 0,062% dan harga bawang putih naik 19,03% dengan sumbangan inflasi 0,035%," pungkas Sairi (Logistics/hd)

 
Produk Pakaian Jadi Bali Banyak Diserap Pasar AS
Mengunguli Australia dan Inggris
 
produk-pakaian-jadi
 
DENPASAR (LOGISTICS) : Amerika Serikat menjadi pasar yang paling banyak menyerap pakaian jadi dari Bali mengungguli Australia dan Inggris.
"Selain Inggris di kawasan Eropa juga ada Prancis, Jerman, dan Belanda merupakan pembeli permanen pakaian buatan pengusaha kecil di Pulau Dewata, disamping dari Jepang dan Singapura," kata Ni Made Wardani, pengusaha pakaian jadi di Denpasar, Selasa (01/07/14).
Pengusaha pakaian jadi di Bali bertahan memelihara pangsa pasar mancanegara berkat mampu menciptakan rancangan busana yang unik dan menarik bagi konsumen, terutama ke AS dan negara-negara di kawasan Eropa lainnya.
Menurut dia, hampir 25% realisasi ekspor garmen Bali yang memasuki pasar AS. Disusul kemudian Australia sekitar 12,48% dan Inggris sekitar 10%. Lalu ada Singapura sekitar 9% dan Prancis 7%.
Produk tekstil dan produk tekstil (TPT) buatan masyarakat Bali yang memasuki pasar ekspor masih mendominan jika dibandingkan matadagangan nonmigas lainnya, namun tidak secerah tahun-tahun 1980an atau sebelum peristiwa Bom Bali.
Ia menambahkan bahwa pengusaha garmen di daerah ini selain masih gencar merambah pasar luar negeri dengan menerima pesanan dari rekan bisnisnya dari luar negeri dalam jumlah sangat terbatas, mulai melirik pasar dalam negeri (lokal).
"Kami mulai melirik pasar dalam negeri dan bersyukur bisa bertahan hidup dengan jumlah pesanan sangat terbatas akibat dari dampak resesi ekonomi yang menimpa konsumen di Amerika Serikat dan Eropa yang masih dirasakan hingga kini," kata dia.
Ia mengaku bersyukur karena bisa bertahan saja dalam menjalankan roda usaha mengingat kondisi pasar pakaian jadi buatan Bali merosot ke pasaran ekspor sejak dihapuskannya sistem kuota pada 2000-an.
Adanya tahun ajaran baru secara nasional banyak pakaian sekolah diproduksi di Bali kemudian dijual di daerah ini dan dikirim ke daerah lain untuk memenuhi permintaan bagi orang tua murid maupun sekolah yang melayani penerimaan murid baru.
Pengusaha pakaian sekarang ini panen untuk sementara dalam melayani keperluan anak-anak sekolah tanpa mengabaikan pesanan yang datang dari mitra kerja di mancanegara. Ekspor pakaian Bali masih ada tutur Wardana bersemangat.
Sementara itu, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bali mencatat bahwa perolehan devisa dari perdagangan pakaian jadi di daerah ini selama Januari-Maret 2014 mencapai US$35,4 juta, atau sekitar 26,6% dari jumlah perolehan devisa nonmigas Bali US$132,9 juta. (Logistics/hd)

 
Ekspor Mei 2014 Surplus US$0,07 miliar
Impor Mei 2014 capai capai US$14,76 miliar
 
ekspor-mei2014-surplus
 
JAKARTA (LOGISTICS) : Neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2014 mencatatkan surplus US$0,07 miliar, setelah pada bulan sebelumnya mengalami defisit sebesar US$1,96 miliar.
Kinerja neraca perdagangan tersebut dipengaruhi oleh neraca perdagangan nonmigas Mei 2014 yang berbalik dari defisit menjadi surplus, meskipun neraca perdagangan migas mencatatkan adanya peningkatan defisit jika dibandingkan kondisi pada April 2014 lalu.
Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) dalam keterangan resminya pada Selasa (1/7/14) mengungkapkan, neraca perdagangan nonmigas pada Mei 2014 mencatatkan surplus sebesar US$1,40 miliar, setelah sebelumnya mengalami defisit US$0,92 miliar pada April 2014. Capaian tersebut dipengaruhi oleh ekspor nonmigas yang meningkat 6,95% (mtm), sementara impor nonmigas terkontraksi 12,05% (mtm).
Peningkatan ekspor nonmigas terutama terjadi pada komoditas utama lemak dan minyak hewan/nabati. Selain itu, ekspor batubara dan ekspor produk manufaktur berupa berbagai produk kimia, alas kaki, dan kertas/karton juga mengalami peningkatan.
Menurut negara tujuannya, peningkatan ekspor nonmigas Mei 2014 terutama didukung oleh kenaikan ekspor ke Tiongkok, India, dan Uni Eropa.
Sementara itu, kontraksi impor nonmigas dipengaruhi oleh penurunan impor pada 8 dari 10 golongan barang utama seperti mesin dan peralatan mekanik, mesin dan peralatan listrik, serta besi dan baja.
Lebih lanjut ia mengungkapkan, perbaikan kinerja neraca perdagangan Mei 2014 tertahan karena adanya peningkatan defisit neraca perdagangan migas yang naik menjadi US$1,33 miliar, dari sebelumnya US$1,04 miliar pada April 2014.
Meningkatnya defisit neraca perdagangan migas tersebut dipengaruhi oleh adanya kontraksi ekspor migas sebesar 10,40% (mtm). Hal ini terjadi akibat turunnya ekspor gas dan hasil minyak. Sementara itu, impor migas justru tercatat meningkat 0,38% (mtm) akibat bertambahnya impor minyak mentah.
BI memandang, surplus neraca perdagangan Mei 2014 ini merupakan dukungan positif bagi kinerja transaksi berjalan triwulan II-2014. BI juga akan terus mencermati risiko global dan domestik yang dapat mempengaruhi prospek defisit transaksi berjalan dan ketahanan eksternal.
BPS: Impor Mei 2014 capai US$14,76 miliar
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor selama Mei 2014 mencapai US$14,76 miliar, turun 9,23% dibanding impor April 2014 (month on month/MoM) sebesar US$16,25 miliar.
"Penurunan impor pada Mei 2014 mengindikasikan bahwa pemerintah mampu menekan impor. Ini bisa menandakan bahwa sebagian kebutuhan sudah mulai dapat dipenuhi dari industri dalam negeri, juga kenaikan kemampuan perusahaan manufaktur dalam negeri," kata Kepala BPS Suryamin, dalam konferensi pers di Gedung BPS, Jakarta, Selasa (1/7/14).
Menurut Suryamin, penurunan impor periode Mei 2014 juga akibat para importir yang diperkirakan sudah merealisasikan impor sejak Maret maupun April.
"Impor sampai dengan Lebaran 2014 diperkirakan tidak akan terlalu tinggi. Kalaupun terjadi kenaikan diperkirakan tidak akan terlalu besar dibanding impor pada Maret maupun April 2014," ujarnya.
Ia menjelaskan, impor nonmigas pada Mei mencapai US$11,05 miliar, turun 12,05% dibanding April 2014, sedangkan impor gas mencapai US$3,71 miliar, naik 0,38% dibanding sebelumnya sebesar US$3,69 miliar.
Secara kumulatif nilai impor Januari-Mei 2014 mencapai US$74,24 miliar, turun 5,76 persen dibanding impor periode sama tahun 2013.
Kumulatif nilai impor terdiri atas impor migas sebesar US$18,40 miliar (turun 0,94), dan impor nonmigas sebesar US$55,84 miliar (turun 7,24%).
Nilai impor nonmigas terbesar Mei 2014 adalah golongan barang mesin dan peralatan mekanik dengan nilai US$2,05 miliar, turun 12,69% dibanding impor golongan barang yang sama April 2014.
Negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Mei 2014 yaitu Tiongkok dengan nilai US$2,51 miliar (22,68%), disusul Jepang US$1,26 miliar (11,36%), dan Singapura 0,83 miliar dolar AS (7,51%). Adapun impor nonmigas dari ASEAN mencapai pangsa pasar 22,09%, sementara dari Uni Eropa 9,49%.
Nilai impor berdasarkan golongan barang konsumsi, bahan baku penolong dan barang modal selama Januari-Mei 2014 mengalami penurunan dibanding periode sama tahun sebelumnya, masing-masing 1,14%, 5,84% dan 7,20%. (Logistics/hd)

 
Pemerintah Bakal Ekspor
Kelebihan Gas Alam Cair
 
gas-alam-cair
 
JAKARTA (LOGISTICS) : Pemerintah akan mengekspor kembali kelebihan produksi gas alam cair dari Kilang Badak di Bontang, Kaltim, sebanyak lima kargo karena tidak terserap di dalam negeri.
Pelaksana Tugas Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) J Widjonarko di Gedung DPR/MPR Jakarta, Kamis (03/07), mengatakan saat ini pihaknya masih mencari pembeli kelima kargo LNG tersebut. "Harus terjual dalam waktu segera," katanya.
Menurut dia, saat ini, produksi LNG dari Kilang Badak dan Tangguh, Papua sedang bagus-bagusnya. Sementara, konsumen domestik tidak bisa menyerapnya, sehingga mesti dilakukan ekspor.
Deputi Komersial SKK Migas Widhyawan Prawiraatmadja mengatakan, pihaknya kesulitan menjual ekses kargo tersebut karena harga sedang turun. "Kami menjualnya setengah mati," katanya.
Ekses lima kargo tersebut di luar 18 kargo yang sudah terjual sebelumnya ke BP Trading dengan harga 14,8 dolar AS per MMBTU pada Mei 2014.
Sisa kargo yang juga berasal dari Kilang Badak itu dikarenakan habis kontrak ekspor dengan pembeli di Jepang dan Korea Selatan pada periode 2013-2015.
Kelebihan atau sisa produksi LNG diperoleh setelah pemerintah mengalokasikan 91 kargo untuk memenuhi seluruh kebutuhan konsumen domestik selama 2014-2015.
Alokasi 91 kargo LNG untuk domestik terbagi atas terminal terapung (floating storage and regasification unit/FSRU) Jabar sebesar 54 kargo yang masing-masing 27 kargo pada 2014 dan 2015.
Pasokan 27 kargo per tahun tersebut berasal dari Kilang Badak sebesar 22 kargo dan Tangguh lima kargo.
Konsumen lainnya adalah FSRU Lampung sebanyak 19 kargo yang terdiri atas lima pada 2014 dan 14 untuk 2015. Pasokan LNG berasal dari Tangguh.
Selanjutnya, Terminal Arun, Aceh dengan alokasi 16 kargo pada 2015 yang berasal dari Tangguh 12 kargo dan Bontang empat kargo.
FSRU terakhir yang mendapat alokasi adalah Banten sebanyak dua kargo pada 2015.
Pipa Gas Arun
PT Pertamina Gas (Pertagas), anak perusahaan PT Pertamina (Persero), menargetkan proyek pipa gas ruas Arun-Belawan sepanjang 350 kilometer sudah siap beroperasi pada Oktober tahun ini.
"Sampai akhir Juni ini progress(kemajuan,red) proyek sudah 84 persen," kata Direktur Utama Pertagas, Hendra Jaya saat buka puasa bersama wartawan bidang energi di Jakarta, Rabu.
Hendra mengatakan kapasitas pipa yang membentang dari PT Arun di Aceh ke pembangkit listrik milik PLN di Belawan, Sumatera Utara itu mampu mengalirkan gas hingga 300 juta standar kaki kubik per hari (million standard cubic feet per day/mmscfd).
Alokasi gas tersebut berasal dari lapangan yang diproduksi oleh ExxonMobil Oil Indonesia Inc (EMOI)."Alokasi volume gas dari ExxonMobil itu sekitar 100 mmscfd," katanya.
Ia optimistis pembangunan pipa gas Arun-Belawan akan rampung sesuai target sehingga bisa mengisi kekosongan dari fasilitas terminal dan regasifikasi Arun.
Fasilitas terminal dan regasifikasi Arun dijadwalkan melakukan "shut down" pada Oktober mendatang dan baru bisa mengalirkan (on stream) pasokan LNG pada Januari 2015, kata Hendra.
Seluruh pasokan gas dari Arun tersebut nantinya digunakan untuk memenuhi kebutuhan pengoperasian Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) Belawan serta kalangan industri di Aceh dan Sumut.
"Penyediaan pasokan gas tersebut diharapkan mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi di kedua provinsi ini," ujarnya.
PT Pertagas yang berdiri sejak 2007 bergerak di bisnis transportasi migas, niaga gas, pemrosesan gas dan distribusi gas. Untuk pengembangan bisnisnya Pertagas membentuk lima anak perusahaan yaitu PT Pertagas Niaga (trading), Perta Samtan Gas (NGL pLant), Perta Arun Gas (Arun Regastification), Perta Daya Gas (pembangkitan) dan Perta Kalimantan Gas (proyek Simenggaris-Bunyu).
Pada 2013 Pertagas mampu meraih laba bersih sebesar Rp1,9 triliun jauh melampaui target Rp955 miliar. Sementara laba tahun ini ditargetkan mencapai Rp1,69 triliun dan realisasi laba hingga Mei 2014 sebesar Rp858 miliar. (Logistics/hd)

 
Arus Petikemas di TPS Hingga Mei 2014
Capai 554.851 TEU's
 
arus-petikemas
 
SURABAYA (LOGISTICS) : PT Terminal Petikemas Surabaya memerkirkan kenaikan troughput petikemas jelang lebaran tahun ini diperkirakan naik tipis.
Berdasarkan data yang dimiliki anak perusahaan PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) hingga Mei 2014 tercapai 406.499 boks atau 554.851 TEU's.
Jumlah petikemas yang masuk ke depo PT TPS hingga Mei kemarin terdiri dari 349.941 TEU's untuk petikemas internasional, dan petikemas domestik hanya 56.558 TEU's. Manajer Humas PT TPS, M.Solech kepada wartawan mengungkapkan bila kenaikan tahun ini hanya mengikuti trend.
“Sebetulnya kenaikan komoditi tahun ini tidak terlalu besar. Tetapi kalau dihitung dengan periode yang sama tahun lalu, kemungkinan naiknya tipis,” jelasnya saat dijumpai diruang kerjanya, Kamis (3/7/14).
Pada periode yang sama tahun lalu (hingga Mei 2013), jumlah petikemas tercatat 401.475 boks atau setara dengan 548.245 TEU's. Angka tersebut mengalami kenaikan kurang lebih 1,2% baik ukuran boks maupun TEU's.
Estimasi lonjakan barang tahun ini yang mendorong TPS berinvestasi guna memercepat layanan. “Salah satunya dengan melakukan pengadaan Rubber Tyred Gantry (RTG) sebanyak enam unit, per unit senilai USD 1,7 juta atau total Rp120 miliar dan sudah kita kita pasang,” lanjut pria yang juga pelatih selam itu.
Lebih jauh pembelian RTG ini diharapkan bisa memercepat pelayanan pengiriman maupun penerimaan barang. Catatan hingga bulan Mei lalu truck round time (TRT/ perputaran truck saat mengirim atau menerima barang) mencapai 26,93 menit per truck.
“Kedepan kita berharap bisa dibawah angka tersebut. Mudah-mudahan bisa mencapai 24 menit. Itu angka yang bagus,” tegas Solech. Catatan yang dimiliki TPS TRT tidak boleh melebihi 30 menit, agar bisa menakan antrean sekaligus memercepat pelayanan.(Logistics/hd)

 
Ekspor Udang Indonesia Capai US$6 miliar
 
ekspor-udang
 
MAKASAR (LOGISTICS) : Indonesia yang merupakan salah satu negara maritim di dunia berhasil merajai ekspor udangnya ke mancanegara pada 2013 dengan nilai ekspor mencapai US$6 milyar atau sekitar 600.000 ton.
"Indonesia yang menjadi salah satu negara kepulauan terbesar ini mempunyai potensi yang sangat besar dan melimpah dalam bidang kemaritiman dan itu dibuktikan dengan nilai ekspor kita ke luar negeri," ujar Menteri Kelautan dan Perikanan, Sharif C. Sutardjo, di kabupaten Takalar, Sulsel, Kamis (26/6/14).
Sharif yang melakukan panen udang tambak parsial di Desa Punga, Kecamatan Mangarabombang, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan itu mengaku bangga dengan semua pihak yang terlibat dalam pengembangan budidaya air laut itu.
Dia merincikan, ekspor udang kebeberapa negara Eropa dan Amerika itu perkilogramnya dihargai senilai US$10.000 untuk 1 ton udangnya yang jika dikalkulasikan sebanyak 600 ribu ton menghasilkan US$6 milyar.
Ia mengatakan, meningkatnya ekspor udang ke Benua Eropa dan Amerika itu dikarenakan tidak adanya pesaing Indonesia dalam hal mengekspor hasil lautnya.
Negara-negara yang menjadi saingan Indonesia dalam hal ekspor hasil laut itu seperti Thailandm Malaysia dan Vietnam mengalami kendala karena mendapat musibah wabah penyakit Early Mortality Syndrome (EMS) dan Indonesia terbebas dari itu sehingga menjadi pengekspor utama.
Dengan meningkatnya nilai ekspor pada sektor kelautan seperti dibidang perikanan itu juga menjadi nilai tambah dalam mendorong perekonomian nasional di tahun 2013 lalu dimana ekonomi Indonesia tumbuh 5,6%.
"Pertumbuhan ekonomi nasional pada tahun 2013 itu sekitar 5,6% tetapi untuk perikanan sendiri itu melampaui angka itu dan kita berhasil membukukan angka 6,9%," katanya.
Sharif menuturkan, udang merupakan salah satu komoditas utama dalam industrialisasi perikanan budidaya karena memiliki nilai ekonomis tinggi (high economic value) dan permintaan pasar tinggi (high demand product).
Trend positif ini, karena Indonesia tidak bermasalah dengan serangan wabah penyakit Early Mortality Syndrome (EMS) yang menyerang pembudidaya udang di negara produsen lain seperti Thailand, Malaysia dan Vietnam.
Menurut Sharif, usaha budidaya udang di tahun mendatang akan semakin memiliki peluang besar dipasar dunia, karena Indonesia bebas dari tuduhan subsidi atau dumping. Dimana, berdasarkan hasil penyelidikan Countervailing Duty (CVD) Department of Commerce Amerika Serikat terhadap impor produk udang beku dari Indonesia, tidak terbukti.
Lebih dari itu, diterapkannya National Residue Control Plan (NRCP) setiap tahun oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menjadikan produk udang Indonesia bebas residu dengan dicabutnya sanksi CD 220 oleh Komisi Uni Eropa.
"Adanya peningkatan permintaan udang tersebut juga dibarengi peningkatan harga udang. Hal ini merupakan peluang emas yang harus dimanfaatkan masyarakat pembudidaya udang, khususnya untuk meningkatkan produksi melalui optimalisasi pemanfaatan areal pertambakan secara maksimal," tuturnya. (Logistics/hd)