Logistis Journal No. 167/Desember 2015
 
cover desember 2015

Editorial - Akhir Tahun
ingar yang ada. Yang turut meramaikan sepanjang 2015 adalah masalah ekonomi, politik dan hukum. Di ketiga bidang tersebut telah menorehkan banyak hal tentang wajah negara dan bangsa kita. Walaupun wajah tersebut tidak bisa begitu ceria lebih banyak cemberut bahkan kadang mengenaskan.
Paling menonjol adalah ketidak pastian kurs rupiah terhadap dolar US yang terus membubung naik menyebabkan banyak sektor usaha kelimpungan. Tapi sekaligus banyak juga usaha mendapatkan keuntungan dari naiknya kurs tersebut. Di sektor ekonomi inilah yang akan mampu memberikan wajah sesungguhnya masyarakat Indonesia. Apakah akan merasakan getir naiknya berbagai bahan pokok, banyaknya pengangguran dan melemahnya daya beli masyarakat. Karena masalah ekonomi, khususnya dampak kebijakan pemerintah akan sangat berpengaruh pada seberapa dalam merogoh kantong untuk berbelanja kebutuhan pokok sehari-hari. Kalau kantongnya banyak uang sampai disimpan di bank tidaklah menjadi persoolan, tapi bagi masyarakat kebanyakan tetap menjadi keresahan jika harga kebutuhan pokok membubung tinggi tanpa kendali.
Apapun kebijakan ekonomi di penghujung 2015 akan memberikan dampak tidak hanya pada kondisi perekonomian dalam negeri tapi juga pada pelaku usaha domestik ketika menghadapi 2016. Sebab di awal 2016 inilah kita akan menghadapi bentuk persaingan model apa, sekeras apa, sebanyak apa pesaingnya, saat Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dilaksanakan secara efektif. Jika semua sektor ekonomi dibuka untuk dimasuki oleh seluruh pelaku usaha dari negara tetangga ASEAN, maka kita seharusnya sudah selesai melakukan pemetaan (mapping) terhadap potensi usaha negara tetangga ASEAN yang akan meluruk masuk ke Indonedia.
Misal, Thailand dengan kemampuan rekayasa sektor pertanian dan perkebunannya, apakah akan memanfaatkan potensi alam dan tanah Indonesia yang lebih luas dan subur dibanding Thailand untuk investasi usaha di lahan-lahan yang belum tergarap di Indonesia. Malaysia dan Singapura yang banyak pelaku usaha kelas kakapnya sudah malang melintang menanamkan investasi usahanya di Indonesia apakah tidak semakin membabi buta melakukan investasi yang masuk ke ranah distribusi barang-barang ritel di Indonesia. Philipina dengan potensi SDM yang mampu memberikan pelayanan jasa, mulai dari medis sampai dengan pembantu rumah tangga.
Semua itu adalah ilustrasi yang hanya sebuah gambaran belaka atau terwujud karena suatu bentuk kekhawatiran. Namun bisa juga menjadi suatu realita yang harus dihadapi dengan segala kemampuan yang ada dan dipersiapkan selama ini. Entah siapa atau tidak siap kebijakan dan sudah disepakati dalam MEA sudah harus dilaksanakan oleh semua negara anggota ASEAN.
Untungnya semua dari insan warga negara Indonesia memiliki keyakinan teguh pada agama. Pasti sangat optimis dan begitu meyakini bahwa sebaik-baiknya rencana manusia masih lebih baik rencana Tuhan. (guslim-desb'15)


Daya Saing RI Menjelang MEA Terus Menurun
JAKARTA (LOGISTICS) : Laporan peringkat daya saing Indonesia 2015-2016 sebagaimana dikeluarkan Forum Ekonomi Dunia (FED) pada September 2015, terus menurun.
Indonesia pada laporan yang dilakukan terhadap 140 negara itu berada di posisi 37 dunia atau turun tiga peringkat dibanding tahun lalu. Sementara Swiss, Singapura, dan Amerika Serikat masih menjadi penghuni tiga besar negara paling berdaya saing di dunia pada 2015.
Ada 113 indikator yang digunakan FED untuk mengukur produktivitas suatu negara di antaranya adalah infrastruktur, inovasi dan lingkungan makro ekonomi.
Indonesia berada di posisi 37 dengan nilai 4,52 sedangkan Singapura yang berada di posisi dua dengan nilai 5,68. Malaysia naik dua peringkat ke posisi 18 (5,23), dan Thailand (4,64) meski turun satu peringkat, tetapi tetap berada di atas Indonesia dengan ada di posisi 32.
Sementara Filipina dan Vietnam meski ada di bawah Indonesia, tetapi ke dua negara itu berhasil naik signifikan. Filipina (4,39) berada di posisi 47, melompat 5 peringkat dari tahun lalu. Sedangkan Vietnam (4,30) melejit 12 peringkat ke posisi 56.
Persatuan Insinyur Indonesia (PII) hingga medio Desember tahun ini pun menilai sampai saat ini banyak sektor di Indonesia belum berdaya untuk bersaing pada pasar bebas ASEAN (MEA).
"Waktu sudah habis (untuk persiapan, red). Namun, banyak sektor di Indonesia belum berdaya memasuki pasar bebas ASEAN mulai Januari 2016," kata Ketua Umum PII, Ir Bobby Gafur Umar, pada seminar "Insinyur Indonesia Menghadapi MEA : Penguatan Industri Manufaktur, Migas, Minerba dan Konstruksi" beberapa waktu lalu.
"Setidaknya ada tiga sektor yang perlu dipacu secara sungguh-sungguh yakni konstruksi, infrastruktur dan manufaktur. Selain itu, pada sisi regulasi harus disederhanakan," katanya.
Tak takut kompetisi
Presiden Joko Widodo juga menekankan pentingnya kemampuan untuk berkompetisi menghadapi persaingan, seperti saat memasuki era MEA.
Presiden berharap masyarakat tidak takut terhadap persaingan. "Tinggal dua minggu lagi MEA dibuka. Banyak yang bertanya pada saya, apakah kita siap?" ucap Presiden Jokowi ketika berbicara pada Kongres ke-20 Persatuan Insinyur Indonesia (PII) 2015.
Sebenarnya, kata Kepala Negara, hampir semua kepala negara ketika bertemu dirinya justru mengkhawatirkan negara mereka kebanjiran produk dari Indonesia. Mereka beranggapan justru Indonesia yang diuntungkan dengan era persaingan nanti.
"Jadi, visi ke depan visi kompetisi, harus berani," ujar Presiden.
Untuk menyambut MEA pun, Presiden menyebutkan bahwa infrastruktur menjadi fokus pemerintah dan telah disiapkan anggaran sebesar Rp313 triliun untuk membangun infrastruktur tersebut.
"Kita nanti akan bangun jalan. Sekarang sudah tidak mau mundur-mundur," kata Presiden sambil menyebut bahwa panjang jalan tol yang dibangun sejak merdeka hingga sekarang hanya 800 km. Lima tahun ke depan, pemerintah minimal akan membangun 1.000 km.
Sementara itu, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono menekankan pentingnya ketahanan masyarakat konstruksi untuk menghadapi MEA mulai 2016.
"Selama ini kita sering mendengar kata-kata ketahanan seperti ketahanan pangan, ketahanan energi dan ketahanan sosial budaya. Sekarang adalah saatnya kita memberikan perhatian yang serius kepada ketahanan masyarakat konstruksi dalam menghadapi masyarakat ekonomi ASEAN 2016 dan WTO 2020," kata Menteri Basuki.
Penekanan itu bukan tanpa alasan sebab jangan sampai karena keterbatasan pihak terkait, potensi pertumbuhan dan pembangunan insfrastruktur di Indonesia menjadi sasaran empuk asing, baik dari segi pelaku badan usahanya maupun tenaga kerja konstruksinya.
"Pasar konstruksi Indonesia memiliki nilai yang terus meningkat. Pada 2012, jumlahnya mencapai Rp411 triliun, setahun berikutnya naik menjadi Rp466 triliun dan tahun 2014 naik drastis menjadi sebesar Rp521,7 triliun," kata Basuki.
Sedangkan pada 2015, menurut data Gabungan Pelaksana Konstruksi Indonesia (Gapensi) diperkirakan mencapai Rp446 triliun.
Jumlah yang demikian besar itu, kata Direktur Jenderal Bina Konstruksi Kementerian PUPR, Yusid Toyib, berkontribusi sekitar 67 persen terhadap pasar konstruksi Asia Tenggara atau nomor empat Asia di bawah Tiongkok, Jepang dan India.
Karena itu wajar bila pasar konstruksi di Indonesia menjadi rebutan pengusaha dari negara lain. (Logistics/ant/hd)


Pemerintah Giat Lakukan Pendampingan Industri Kreatif Hadapi MEA
SOLO (LOGISTICS) : Masyarakat Ekonomi ASEAN segera diberlakukan yang berarti bangsa-bangsa Asia Tenggara itu mengalami aliran bebas barang, investasi, jasa, dan tenaga kerja terdidik dari dan ke masing-masing negara.
Persiapan Pemerintah Indonesia salah satunya melakukan pendampingan dan memfasilitasi pelaku industri ekonomi kreatif, dan usaha mikro, kecil, menengah (UMKM) di seluruh daerah kabupaten dan kota, termasuk Solo.
Salah satu perajin ekonomi kreatif, Denok Marty Astuti (27), warga Jalan Dahlia Nomor 28 Purwosari, Laweyan, Solo mengaku usahanya dengan memanfaatkan sejumlah limbah untuk dibuat barang yang memiliki nilai jual tinggi.
"Produknya meskipun dengan bahan baku limbah, tetapi mampu bersaing di pasar dengan produk pabrikan," kata Denok yang juga sebagai inspirator membuat kerajinan ekonomi kreatif bahan baku limbah.
Denok yang baru saja menghadiri pertemuan dengan kalangan pelaku usaha kreatif di Myanmar itu, mengaku tidak khawatir dalam menghadapi MEA karena banyak negara seperti Filipina, Vietnam, dan Myanmar justru tertarik dengan produk-produk kerajinan dari Indonesia.
Namun, katanya, soal harga dan produksi mungkin negara lain lebih murah karena dalam proses produksi, semuanya dikerjakan dengan mesin sehingga lebih efektif, sedang kerajinan dalam negeri masih secara manual.
Denok mengaku produk usaha kreatifnya memanfaatkan sejumlah limbah yang dibuat berbagai produk, seperti tas dari plastik, cedera mata gelang dari kain perca batik, tas dari bekas kaleng yang memiliki nilai jual.
"Saya ide kreatif itu, muncul setelah melihat banyak limbah yang dibuang sayang, dan ternyata dapat dimanfaatkan menjadi barang yang mempunyai nilai jual," kata Denok yang mengaku sering memberikan pelatihan kepada ibu-ibu rumah tangga untuk mencari uang tambahan keluarga.
Ia mencontohkan membuat kerajinan gelang selain dengan bahan baku kain perca, juga memanfaatkan botol plastik bekas air meneral, lem, dan tali pita untuk hiasan agar lebih cantik.
Perajin lain, Winarto (40), asal Sumber Banjarsari, Solo memproduksi suvenir berbentuk ayam bentina dan jantan dengan memanfaatkan bahan limbah bulu ayam.
"Saya menemukan ide kreatif membuat cedera mata ayam jago (jantan) dan betina pertama hanya coba-coba, tetapi ternyata banyak digemari oleh pembeli," katanya.
"Cendera mata ayam buatan saya ternyata seperti aslinya dan terlihat indah. Saya awalnya hanya membuat puluhan biji, ternyata laku laris terjual oleh pengunjung di Sunday Market Solo," katanya.
Harga produknya bervariasi antara Rp30 ribu hingga 35 ribu, sedangkan saat ini, dirinya menerima banyak pesanan, baik dari Solo dan sekitarnya, maupun luar daerah seperti Jakarta.
Selain itu, Winarto juga menekuni kerajinan miniatur patung petani.
"Patung dari karung goni itu, dibuat petani dengan memakai caping, berpakaian tradisional menumbuk padi di alat lesung, mencari kayu, dan sebuah gerobak pedati sebagai kendaraan pengangkut zaman dahulu," kata Winarto.
Pemasaran miniatur patung karung goni buatanya sudah sampai ke mana-mana. Konsumen produk itu datang dari Surabaya, Bandung, Makassar, Yogyakarta, Semarang, dan Bali.
Dia mengatakan para perajin harus berani bersaing di pasar bebas MEA, sedangkan pemerintah daerah memberikan pendampingan kepada kalangan itu.
Christian Haryanto, perajin keranjang buah dari limbah kertas koran asal Desa Keradenan, Serangan, Colomadu, Kabupaten Karanganyar menyatakan kekhawatirannya menghadapi MEA karena perajin yang kebanyakan produksinya masih dengan cara manual akan kalah bersaing dengan produk luar negeri yang kebanyakan sudah menggunakan alat modern.
"Produk luar kebanyakan proses produksinya menggunakan mesin lebih efektif sehingga harga di pasar bisa lebih murah dibanding manual yang membutukan banyak tenaga kerja ongkos mahal," kata Christian.
Permintaan keranjang buah produksinya dua bulan terakhir ini rata-rata mencapai 4.000 buah per bulan atau naik dua kali lipat dibanding hari biasanya.
Menyinggung soal persiapan para perajin ekonomi kreatif dalam menghadapi pasar bebas MEA di dalam negeri, Christian mengatakan banyak usaha mikro, kecil, menengah yang khawatir karena masih kurangnya sosialisasi dari pemerintah daerah.
Namun, soal kualitas barang dalam persaingan pasar dengan produksi luar negeri, pihaknya berani bersaing.
"Tetapi dukungan pemda tetap diharapkan terutama bantuan permodalan dan peralatan yang lebih modern untuk meningkatkan produksi," katanya.
UMKM Yogyakarta minta pendampingan hadapi MEA
Komunitas Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Daerah Istimewa Yogyakarta meminta pemerintah daerah mengintensifkan pendampingan agar pelaku usaha kecil mampu bersaing saat Masyarakat Ekonomi ASEAN diberlakukan pada 1 Januari 2016.
"Tanpa pendampingan serius, UMKM di DIY sulit bersaing saat MEA diberlakukan," kata Ketua Umum Komunitas Usaha Mikro Kecil Menengah (KUMKM) DIY Prasetyo Atmosutidjo di Yogyakarta, Sabtu (19/12/2015).
Menurut dia, hingga kini masih banyak pelaku UMKM yang belum betul-betul memahami tantangan yang akan dihadapi saat MEA.
Padahal, katanya, tanpa kesiapan yang memadai masyarakat bahkan pelaku usaha bakal menjadi penonton di negeri sendiri sebab akan banyak barang dan jasa yang masuk di pasar Indonesia dengan kualitas bersaing.
Sebaliknya, jika kesiapan itu telah memadai, sejatinya MEA merupakan kesempatan bagi UMKM untuk memperluas akses pasar di negara-negara ASEAN.
Oleh sebab itu, ia berharap pemerintah daerah melalui Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UMKM daerah mengintensifkan berbagai pendampingan dengan memberikan pelatihan bagi pelaku UMKM.
"Perlu pelatihan-pelatihan bagi pengusaha secara intensif, misalnya dengan menanamkan disiplin kerja dalam membangun usaha," kata dia
Selain pendampingan, ia mengatakan hal mendasar yang dibutuhkan UMKM saat ini yakni menyangkut kemudahan akses permodalan.
Ia menilai akses permodalan di kebanyakan perbankan masih susah ditembu. Padahal, untuk menghadapi tantangan MEA, kemampuan bertahan UMKM perlu diperkuat salah satunya lewat akses pinjaman modal.
“Kami berharap tidak ada lagi prosedur yang berbelit-belit yang mempersulit pelaku UMKM mendapatkan pinjaman modal," kata Prasetyo. (Logistics/ant/hd)
 


Pemerintah Menargetkan Indonesia Jadi Pengekspor Kakao Terbesar Dunia
KENDARI (LOGISTICS) : Pemerintah sangat serius untuk melakukan proses pengembangan budidaya tanaman ekspor kakao sehingga komoditas itu bisa menjadi andalan penghasil devisa negara.
Secara khusus Wakil Presiden RI Muhammad Jusuf Kalla mengajak daerah-daerah penghasil kakao untuk meningkatkan produksi sehingga dapat membawa Indonesia menjadi negara penghasil kakao terbesar di dunia.
"Saat ini produksi kakao kita masih berada pada urutan ke tiga dunia di bawah Pantai Gading dan Ghana. Dengan luas lahan sebesar 1,7 juta hektare sebenarnya sudah dapat mengangkat Indonesia menjadi urutan pertama dunia," ujarnya di Kendari, Minggu (20/12/15).
Lebih jauh peningkatan yang diharapkan adalah produksi petani yang sebelumnya hanya 500 kg/hektare ditingkatkan menjadi satu ton/hektare.
Untuk mewujudkan hal tersebut, perlu adanya intensifikasi penyuluhan agar petani kakao dapat mengerti cara budidaya komoditi tersebut dengan baik. “Harus ada pendampingan, penyuluhan, dan bibit bagi petani agar petani kita dapat meningkatkan produksinya,” ujarnya.
Fokus mengatasi permasalahan kurang memadainya penyuluhan serta minimnya jumlah bibit yang dinilai merupakan beberapa persoalan utama dari pengembangan komoditas tersebut di Tanah Air, selain umur tanaman yang juga telah tua sehingga produktifitasnya berkurang.
Maka dari itu harus ada peremajaan tanaman. selain itu petani juga harus didorong dengan memberikan bantuan permodalan berupa kredit usaha rakyat (KUR) agar membantu mereka dalam segi permodalan.
Data yang dihimpun oleh redaksi majalah Logistik menyebutkan bahwa tanaman cokelat di Indonesia pertama kali dibudidayakan pada 1921 dan berkembang pesat di daerah-daerah pulau Jawa. Sekarang tanaman cokelat sudah menyebar di seluruh Indonesia. Perkembangan cokelat sangat pesat, karena semakin meningkatnya kebutuhan akan tanaman jenis itu, baik untuk konsumsi dalam negeri maupun ekspor.
Tanaman Kakao merupakan tanaman perkebunaan berprospek menjanjikan. Tetapi jika faktor tanah yang semakin keras dan miskin unsur hara terutama unsur hara mikro dan hormon alami, faktor iklim dan cuaca, faktor hama dan penyakit tanaman, serta faktor pemeliharaan lainnya tidak diperhatikan maka tingkat produksi dan kualitas akan rendah.
Sementara itu diketahui bahwa wilayah Eropa sangat membutuhkan pasokan kakao yang sangat tinggi. Negara tujuan ekspor untuk kakao (Theobroma Cacao L ) dan produk kakao ini terbesar untuk Uni Eropa adalah Jerman, Perancis, Belgia, Italia, Austria dan Spanyol..Ekspor biji kakao pada September 2012 mencapai 21.024,56 metrik ton (MT), naik 64% dibandingkan Agustus 2012 sebesar 4.568,42 MT.
Bila dibandingkan dengan periode sama tahun lalu, ekspor biji kakao pada September 2012 naik 37%.Menurut Data Kementerian Perdagangan menunjukkan, volume ekspor kakao olahan pada Januari-Juli 2012 mencapai 121.000 ton, naik 37,5% bandingkan periode sama 2011 sebesar 88.000 ton. Nilai ekspor kakao tahun 2010 tercatat US$ 1,6 miliar. produksi biji kakao Indonesia selama 2012 bisa mencapai sekitar 500.000 ton atau 50.000 ton lebih banyak dari tahun sebelumnya.
Data International Cacao and Coffee Organization / ICCO bahwa kebutuhan kakao dunia meningkat sebesar 3,299 juta ton. Dan data pada saat ini produksi biji kakao hanya 3,288 juta ton. Di Indonesia kakao menjadi salah satu komoditi unggulan. Pada tahun 2006 produksi kakao Indonesia mencapai 435.000 ton, dan Indonesia termasuk sebagai penghasil kakao terbesar ketiga setelah Pantai Gading, Ghana di Afrika yang pangsa produksi sebesar 13,23% dari total kakao dunia. Berdasarkan angka ini bisa ditingkatkan hingga mencapai 600.000 ton pada tahun 2011. (Berdasarkan data media terkait, data diolah F. Hero K Purba).
Ekspor kakao berubah baik dalam tonase maupun negara tujuannya sejak hilirisasi ditetapkan dengan pengenaan Bea Keluaran. Indonesia merupakan produsen kakao kedua terbesar dunia, dengan menyumbang 18 % dari pasar global. Untuk hilirisasi kakao sudah berjalan sejak 2009. Ekspor kakao untuk produk downstream tiga yang merupakan produk akhir olahan kakao hanya US$ 74,9 juta pada 2009, namun pada 2011 sudah mencapai US$ 209,3 juta. Kenaikan mencapai tiga kali lipat. Untuk produk downstream I atau produk intermediate kakao dari nilai ekspornya US$ 250,4 juta pada 2009 naik menjadi US$ 518,9 juta pada 2011.
Industri dalam negeri dapat meningkatan jatah biji kakao. Tahun 2011, industri pengolahan mendapat kuota sekitar 207.000 ton. Tahun depan, pasar domestik diberi jatah untuk menyerap 250.000 ton biji kakao produksi nasional. Namun, alokasi jatah bahan baku itu tidak setara dengan target produksi industri pengolahan sebesar 400.000 ton pada 2012.
Khasiat coklat dari chocolate shop untuk kesehatan adalah sebagai antioksidan, antioksidan dalam coklat untuk chocolate souvenir diperoleh dari biji kakao yang mengandung antioksidan flavonoid yang berguna untuk menahan radikal bebas. Kandungan kakao (biji cokelat) lebih dari 70% juga memiliki manfaat untuk kesehatan, karena cokelat kaya akan kandungan antioksidan yaitu fenol dan flavonoid.
Dengan adanya antiosidan, akan mampu untuk menangkap radikal bebas dalam tubuh. Produksi kakao mempunyai arti yang strategis dan penting karena pasar ekspor biji kakao Indonesia masih sangat terbuka dan pasar domestik masih belum tergarap. Permasalahan utama yang dihadapi perkebunan kakao dapat diatasi dengan penerapan fermentasi pada pengolahan biji pasca panen dan pengembangan produk hilir kakao berupa serbuk kakao. (Logistics/hd)


INSA Surabaya Tarik Ribuan Kapal Dari APBS
SURABAYA (LOGISTICS) : Asosiasi perusahaan pelayaran Indonesia National Shipowners Association (INSA) Surabaya akan menarik ribuan unit kapal dari Alur Pelayaran Barat Surabaya (APBS) terkait aturan otoritas pelabuhan setempat.
"Seluruh pengusaha kapal di bawah naungan INSA pastinya merasa keberatan dengan aturan baru yang disahkan oleh Kementerian Perhubungan," kata Ketua DPC INSA Surabaya, Stenvens H. Lesawengan ketika dikonfirmasi Antara di Surabaya, Jumat (18/12/2015).
Ia mengatakan hal ini terkait dengan aturan Kantor Otoritas Pelabuhan Utama Tanjung Perak Surabaya yang menginstruksikan kapal dengan kedalaman draf lebih dari 9,5 meter Low Water Spring (LWS) harus melewati alur baru APBS dan mulai dikenakan tarif jasa penggunaan.
Menurut dia tarif jasa di alur baru APBS mulai berlaku pada Sabtu (19/12/2015). Dengan rincian besaran tarif untuk kapal besar bermuatan lebih dari 20.000 gross tonnage (GT) senilai 0,5 dolar AS per GT untuk sekali lewat bagi kapal luar negeri dan Rp2.500 per GT per sekali lewat untuk kapal dalam negeri.
"Selama ini kapal besar dengan draf 9,5 meter LWS atau lebih dapat melewati alur lama APBS tanpa biaya jasa penggunaan atau fee channel, sehingga peraturan baru itu dinilai bertentangan dengan surat edaran pemerintah terkait," ujarnya.
Surat edaran pemerintah terkait, lanjutnya, pada 24 November 2014 menjelaskan tetap mempertahankan kedalaman di alur lama sedalam 9,5 meter LWS, sedangkan peraturan baru tersebut berbeda dengan apa yang sudah menjadi kebijakan pemerintah sebelumnya.
"Aturan APBS dari Kemenhub per Sabtu akan membunuh industri pelayaran. Kami yang aman-aman saja di alur lama sekarang dipaksa harus lewat jalur baru dengan tarif yang luar biasa mahal," jelasnya.
Lebih lanjut dia mengungkapkan sejak lama sekitar 2.000 unit kapal dengan kedalaman lebih dari 12 LWS masih bisa masuk alur lama APBS dengan tarif channel nol.
"Kami menyayangkan surat edaran dengan No. KU.501/03/01/OP.TPS.15 tentang pemberlakuan tarif jasa penggunaan APBS karena APBS yang digadang-gadang menjadi gerbang masuknya kapal besar ini akan memberhentikan minat perusahaan kapal besar untuk berlayar melalui APBS," jelasnya.
Ia berharap aturan yang akan dilaksanakan per Sabtu itu harus kembali pada kebijakan yang lama. Jika tidak, pihaknya tidak akan masuk Surabaya dan tidak akan melakukan aktivitas bongkar muat.

ASDP Siapkan 47 Kapal di Rute Ketapang-Gilimanuk hadapi Natal-Tahun Baru
PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) Ketapang di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, menyiagakan sebanyak 47 kapal untuk mengantisipasi lonjakan penumpang menjelang libur Natal 2015 dan Tahun Baru 2015.
Manajer Operasional PT Indonesia Ferry ASDP Ketapang, Wahyudi Susianto, Sabtu, mengatakan pihaknya sudah mengantisipasi lonjakan penumpang di pelabuhan penyeberangan Ketapang (Banyuwangi, Jawa Timur) menuju ke Gilimanuk (Jembrana, Bali), pada masa liburan panjang akhir tahun.
"Sebanyak 47 kapal yang terdiri dari 33 kapal roro dan 14 LCT sudah siap beroperasi untuk mengurai kepadatan penumpang selama libur panjang Natal dan Tahun Baru 2016," tuturnya.
Kendati demikian, lanjut dia, saat ini kapal yang beroperasi di Pelabuhan Ketapang-Gilimanuk untuk melayani penumpang sebanyak 32 armada karena masih belum terjadi peningkatan yang signifikan.
"Saat ini masih terpantau normal, jalur penyeberangan lebih banyak dipadati bus pariwisata, truk, dan kendaraan roda dua yang menuju ke Pulau Dewata," katanya.
Wahyudi memprediksi kepadatan penumpang di Pelabuhan Ketapang terjadi pada 26 Desember 2016 hingga menjelang Tahun Baru 2016, sehingga enam dermaga juga sudah disiapkan untuk sandaran kapal.
"Apabila dengan 47 kapal masih terjadi antrean dan kepadatan penumpang di pelabuhan, maka waktu sandar kapal akan diperpendek. Kapal akan segera diberangkatkan ketika penumpang sudah penuh," paparnya.
Setiap musim liburan sekolah dan libur akhir tahun, kunjungan wisata ke Pulau Bali mengalami peningkatan yang signifikan, sehingga jumlah pengguna jasa penyeberangan di Pelabuhan Ketapang-Gilimanuk juga mengalami kenaikan.
Sementara salah seorang penumpang ASDP Ketapang, Feronica mengaku sudah merencanakan liburan bersama keluarganya sekaligus merayakan Natal bersama sanak saudaranya ke Pulau Dewata.
"Perayaan Natal tahun ini memang keluarga besar kami ingin merayakan di Pulau Bali dan kebetulan masih ada saudara yang tinggal di Denpasar, sehingga bisa liburan sambil berkumpul dengan keluarga besar," katanya. (Logistics/ant/hd)


Gubernur Soekarwo Ajukan Usulan Indonesia Corporate
SURABAYA (LOGISTICS) : Gubernur Jawa Timur Soekarwo mengusulkan "Indonesia Corporate" atau antarprovinsi saling bantu dalam jaringan perdagangan sesuai potensi masing-masing.
"Kita sudah kembangkan Jatimnomics yang memiliki jaringan perdagangan dengan berbagai provinsi," katanya di Rektorat Unair Surabaya, Sabtu (19/12/2015).
Pejabat yang akrab disapa Pakde Karwo itu mengemukakan hal itu di hadapan ratusan mahasiswa dalam "Airlangga Leadership Program (ALP) 2015" yang digelar BEM Unair.
Dalam acara yang juga dihadiri Menpora H Imam Nahrawi, ia menjelaskan Jatimnomics tidak hanya membuat ekonomi tumbuh tapi gini-ratio (tingkat kesenjangan) pun rendah.
"Perekonomian Jatim tumbuh 5,86 persen pada tahun 2014 dan 5,44 persen pada tahun 2015, tapi hal yang sulit itu gini-ratio kita hanya 0,37 persen di tengah ekonomi yang tumbuh," katanya sambil menunjukkan potensi perwakilan dagang Jatim pada hampir semua provinsi.
Oleh karena itu, katanya, Jatimnomics dapat dikembangkan dalam skala nasional. "Artinya, kalau kita berada dalam satu jaringan perekonomian secara nasional, maka tidak akan ada defisit," katanya.
Selain itu, ketergantungan terhadap nilai tukar asing (dolar) pun tidak akan terjadi. "Jadi, kita nggak akan ada defisit dan rupiah nggak megap-megap (tidak bisa bernapas)," katanya.
Sementara itu, Menpora H Imam Nahrawi membeberkan faktor dibalik sikap kontroversi dirinya yang mengundang protes dari sejumlah orang terhadap dirinya.
"Kalau saya sekarang dinilai banyak kontroversi atau tidak menyenangkan pihak tertentu itu sebenarnya karena saya ingin bermanfaat untuk masyarakat umum," katanya.
Menurut dia, kontroversi itu selalu menyertai setiap kebijakan. "Jangankan kebijakan saya, bahkan keputusan Tuhan yang tidak menyenangkan manusia pun diprotes, seperti musibah yang kita alami," katanya.
Namun, satu hal yang penting adalah kebijakan seorang pemimpin itu harus untuk kepentingan orang banyak, bukan pribadi.
"Contohnya, saya mimpi Indonesia menjadi tuan rumah Formula-1 dengan memiliki sirkuit balap bertaraf internasional," katanya.
Selain itu, dirinya bermimpi agar ada kompetisi semua jenis olahraga memiliki kompetisi "pelapis" (umur 8-19 tahun), seperti Liga Santri atau kompetisi lainnya untuk lapis bawah.
"Saya juga ingin mendatangkan olahraga jenis baru dari Amerika. Semua itu untuk multi efek ekonomi dan kebanggan," katanya.
Tidak hanya itu, ia juga bermimpi pemuda Indonesia bebas dari narkoba. "Karena itu, saya minta Unair memelopori tes anti-narkoba untuk mahasiswanya. Nanti saya surati para rektor untuk hal itu," katanya.
Kepada para mahasiswa, Menpora berharap untuk tidak melihat keberhasilan seorang tokoh pada hari ini. "Pakde itu berhasil jangan hanya dilihat kondisi sekarang, tapi lihatlah proses panjang yang dilalui beliau sejak menjadi aktivis, cara belajar, dan perjuangan lainnya," katanya. (Logistics/ant/hd)


Menko Perekonomian Beberkan Kisi - Kisi Kebijakan Ekonomi 2016
JAKARTA (LOGISTICS) : Menteri Koordinator (Menko) bidang Perekonomian Darmin Nasution memberi kisi-kisi terkait paket kebijakan ekonomi yang akan dikeluarkan pemerintah pada tahun 2016 mendatang.
"Paket kebijakan ekonomi selama ini telah memberikan kepercayaan kepada pasar terhadap perkembangan ekonomi Indonesia. Untuk itu, pemerintah akan mengeluarkan kembali berbagai paket kebijakan deregulasi yang saat ini belum terjamah oleh pada tahun 2016," kata Darmin saat press gathering di Tangerang, Banten, Kamis (17/12/2015) malam.
Pada 2016, Darmin menjelaskan akan ada dua kebijakan yang kembali dikeluarkan untuk memberikan stimulus perkembangan industri dalam negeri.
Pertama adalah terkait dengab kebijakan dalam perizinan di daerah yang selama ini dianggap rumit dan dinilai menjadi hambatan investor masuk ke daerah akan dideregulasi oleh pemerintah.
"Salah satu yang belum disentuh oleh deregulasi adalah perizinan daerah, mau tidak mau kita masuk ke situ untuk stimulus, namun ada tantangan karena kita akan berhadapan dengan pemerintahan otonom," ucap Darmin.
Kebijakan kedua adalah proteksi sektor farmasi domestik. Kebijakan ini dinilai sangat penting karena selama ini sektor farmasi, petrokimia dan alat-alat kesehatan masih melalukan impor bahan baku sebesar 90 persen.
"Bahan baku kebutuhan farmasi dan alat kesehatan itu 90 persen impor. Jadi tahun depan pemerintah akan melakukan deregulasi agar industri dalam negeri menggunakan bahan baku dasar dalam negeri," ujar Darmin.
Kebijakan-kebijakan tersebut diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah karena menjadi penopang sektor makro dalam negeri, yang efeknya per tumbuhan ekonomi nasional dapat tumbuh di atas lima persen dengan mengandalkan bahan baku modal yang berasal dari dalam negeri.
Darmin menegaskan pemerintah akan kembali melanjutkan paket kebijakan ekonomi, karena hal ini akan berdampak baik pada perekonomian Indonesia dan sebagai bukti keseriusan pemerintah dalam me ningkatkan perekonomian nasional.
"Saat awal, pemerintah mengeluarkan paket kebijakan, pasar hanya melihat ini kebijakan biasa. Tapi begitu ada pekat kebijakan ketiga, masyarakat dan pasar baru melihat bahwa pemerintah serius meningkatkan ekonomi nasional," ujarnya.

Dirjen Pajak Kejar Setoran Pajak Rp146,3 Triliun
Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan harus mengejar tambahan penerimaan pajak sekitar Rp146,3 triliun dalam 14 hari di sisa waktu tahun anggaran 2015.
"Hingga saat ini (Kamis 17/12), kami baru memperoleh Rp72 triliun," kata Plt. Dirjen Pajak Kemenkeu Ken Dwijugiasteadi menjawab realisasi penerimaan pajak terkini, di Komisi XI DPR, Jakarta, Kamis malam.
Jumlah sisa penerimaan di kisaran Rp146,3 triliun itu diperoleh dari selisih target Ditjen Pajak pada Desember 2015 untuk Pajak Non Migas sebesar Rp218,3 triliun dan realisasi secara keseluruhan penerimaan pajak.
Jumlah tersebut belum ditambah dari penerimaan Pajak Penghasilan Migas yang diyakini Kemenkeu akan sesuai target di APBNP 2015 sebesar Rp49,5 triliun.
Ken mengaku masih optimistis target penerimaan Pajak Non-Migas di Desember itu tercapai, khususnya dengan upaya menemukan kembali (reinventing policy) dan pendekatan langsung kepada wajib pajak (WP) besar.
Berdasarkan data Kemenkeu, perkiraan pe nerimaan perpajakan hingga akhir tahun sebesar 85,8 persen dari target. Rinciannya Pajak Non-Migas sebesar 84,3 persen dari target sebesar Rp1.049 triliun, dan PPh Migas 100 persen sebesar Rp49,5 triliun. Adapun perkiraan penerimaan Bea dan Cukai sebesar 91,7 persen atau Rp178,8 triliun.
Sedangkan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) hingga akhir tahun diperkirakan 89,9 persen dari target atau Rp241,8 triliun.
Dengan asumsi pemerintah untuk membelanjakan anggaran hingga 92,2 persen atau Rp1.829,7 triliun, maka defisit anggaran 2015 diperkirakan Rp307,3 triliun atau 2,7 persen dari Produk Domestik Bruto.
Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro me maparkan sisa penerimaan terbesar berasal dari Pajak Non-Migas.
Menurut Bambang, Ditjen Pajak dapat memperoleh target penerimaan Desember 2015 sebesar Rp218,3 triliun, dengan himbauan langsung kepada WP yang berpotensi menghasilkan Rp51,3 triliun, pemeriksaan dan penagihan sebesar Rp40,7 triliun, penerimaan rutin Rp97,9 triliun dan sisanya dari ekstensifikasi, penyelidikan, serta revaluasi aset.
"Saya sendiri langsung terjun ke lapangan, dan menemui beberapa Wajib Pajak," kata Menkeu. (Logistics/ant/hd)


Industri Non Migas RI Diprediksi Tumbuh 5,5% pada 2015
JAKARTA (LOGISTICS) : Pertumbuhan industri non-migas hingga akhir 2015 diprediksi mencapai 5,5%, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 2014 yang mencapai 5,61%.
“Faktor utama melambatnya pertumbuhan 2015 adalah kondisi perekonomian global yang masih melemah," kata Menteri Perindustrian Saleh Husin di Jakarta, Jumat.
Pelemahan tersebut mengakibatkan permintaan produk industri sejumlah negara berkurang, sehingga memperngaruhi ekspor barang dari Indonesia.
Kondisi tersebut juga membenamkan Kemenperin mencapai target pertumbuhan industri pada 2015 yang dipatok 6,6%-6,8%.
Menurut data Kemenperin, ekspor produk industri hingga September 2015 mencapai US$ 81,26 miliar, turun 7,5% dibandingkan periode yang sama pada 2014 sebesar US$87,85 miliar.
Ekspor tersebut memberikan kontribusi sebesar 70,58 persen dari total ekspor nasional yang mencapai US$115,13 milliar.
Sementara itu, impor produk industri hingga September 2015 sebesar US$81,53 miliar, turun sebesar 12,4% dibandingkan periode yang sama pada 2014 sebesar US$93,07 miliar.
Untuk nilai investasi, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sektor industri hingga triwulan III/2015 mencapai Rp63,60 triliun atau tumbuh 52,01% dibanding periode yang sama pada 2014 sebesar Rp41,84 triliun.
Sedangkan Penanaman Modal Asing (PMA) sektor industri hingga triwulan III/2015 mencapai US$8,5 miliar atau turun 16,04% dibanding periode yang sama 2014 sebesar US$10,14 miliar.
Namun, kinerja sektor industri nasional tersebut dinilai masih lebih baik dibandingkan negara tetangga Malaysia sebesar 4,9%, Filipina sebesar 5,4%, Singapura sebesar -4,5% dan Thailand sebesar 0,9% pada periode yang sama.
Nilai Ekpor Non Migas Februari 2015
Nilai ekspor Indonesia Februari 2015 mencapai US$12,29 miliar atau mengalami penurunan sebesar 7,99% dibanding ekspor Januari 2015. Demikian juga bila dibanding Februari 2014 mengalami penurunan sebesar 16,02%.
Penuruan ekspor februari disebablan oleh menurunya ekspor non migas sebesar 7,83% dari U$$11,279,0 juta menjadi U$$10,395,5 juta, demikian juga ekspor migas turun sebesar 8,82% yaitu dari U$$2.076,8 juta menjadi U$$1.893,6 juta. Lebih lanjut penurunan ekspor migas di sebabkan oleh menurunya ekspor hasil minyak sebesar 2,13% menjadi U$$207,2 juta dan ekspor gas turun sebesar 25,61% menjadi U$$941,3 juta, sementara ekspor minyak mentah meningkat sebesar 24,25% menjadi U$$745,1 juta. Volume ekspor migas Februari 2015 terhadap Januari 2015 untuk minyak mentah naik sebesar 21,26% sementara hasil minyak dan gas turun masing-masing sebesar 10,28% dan 14,40%, sementara itu harga minyak mentah indonesia di pasar dunia naik dari U$$45,28 per barel pada Januari 2015 menjadi U$$54,32 barel pada Februari 2015. (Logistics/ant/hd)