Logistics Journal
Edisi No.147/April 2014
cover april2014

Editorial - PRESIDEN
Tanggal 9 Juli 2014 adalah saat Pemilihan Presiden akan berlangsung. Sebagai pertanda akan dimulainya pemerintahan baru dengan kepala negara dan kepala pemerintahan yang dijabat oleh seorang Presiden terpilih. Itulah yang diterapkan oleh negara penganut sistem Presidensial, seperti yang diterapkan di negara kita Republik Indonesia.
Bagi sebagian masyarakat yang awam politik menganggap hiruk pikuk pemilihan presiden tersebut sudah ada yang mengurus, yaitu Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan partai politik yang memiliki calon-calon presiden. Diluar pihak-pihak tersebut adalah para komponen masyarakat yang tidak tahu secara persis siapa saja figur calon presiden yang akan dipilih. Masyarakat pemilih hanya menerima begitu saja informasi yang disediakan oleh media, cetak maupun elektronik, tentang rekam jejak seorang calon presiden.
Para pelaku usaha dari skala kecil, menengah dan besar akan sangat bergantung pada hasil pemilihan presiden. Khususnya pengusaha skala besar dan multinasional, isu-isu tentang siapa yang bakal menjadi presiden akan turut mempengaruhi pasar saham. Walau sebenarnya perkembangan pasar saham bukanlah menjadi indikator utama tentang ukuran daya tahan ekonomi suatu negara. Namun sudah menjadi salah kaprah penilaian kemajuan ekonomi suatu negara diukur dengan seberapa besar investasi asing yang masuk ke suatu negara, indikator utamanya adalah pasar saham di negara tersebut tumbuh dinamis atau tidak. Padahal kekuatan ekonomi yang menopang negara tersebut sebenarnya diukur dengan seberapa besar jumlah pelaku usaha yang mampu bertahan melakukan aktivitas usahanya guna memenuhi supply and demand seluruh warga negaranya.
Calon Presiden manakah yang paham dan memiliki program ekonomi yang pro-bisnis? Pro-bisnis yang tidak hanya sekedar paham tentang bagaimana negara menjadi daya tarik investasi, tapi presiden yang mampu menjamin keberlangsungan dan kepastian berusaha bagi seluruh pelaku usaha di semua skala usaha. Jangan sampai memperlakukan pelaku usaha seperti membelah bambu, menginjak bagian bawah dan mendorong bagian atas. Karena secara faktual jumlah pelaku usaha skala kecil sangatlah banyak dan menduduki dasar piramida ekonomi. Artinya, fundamental ekonomi kuat bukan hanya karena kondisi makro ekonomi yang didasarkan pada indikator besaran investasi dan naik turunnya saham di bursa saham, tapi juga diperkuat oleh pelaku usaha kecil yang berada di alas piramida yang benar-benar mejadi “pijakan yang dipijak” untuk keberlangsungan ekonomi negara.
Pelaku usaha sudah selayaknya kepada para calon presiden untuk memberikan suara, usulan bahkan kalau perlu memposisikan sebagai 'pressure group' melalui masing-masing asosiasi dimana mereka bernaung. Janganlah para pelaku usaha memberikan 'blank check' kepada para calon presiden. (guslim-april'14)

ujicoba teluklamong
Terminal Teluk Lamong Diuji Coba Mei 2014
SURABAYA (Logistics) : PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) atau Pelindo III memastikan bahwa Terminal Teluk Lamong akan diuji coba sesuai jadwal yang telah ditentukan yakni pada pertengahan Mei 2014.
Hal itu diungkapkan oleh Direktur Utama Pelindo III Djarwo Surjanto setelah memperoleh kepastian keberangkatan alat-alat pendukung operasional Terminal Teluk Lamong menuju Surabaya. Alat dimaksud berupa 2 unit Ship to Shore Crane (STS), 5 unit Automated Stacking Crane (ASC), dan 1 unit Automotive Terminal Tractor (ATT). Ketiga alat itu diperkirakan akan mulai berdatangan pada akhir April hingga awal Mei mendatang."Alat-alat tersebut dikirim dari berbagai negara. Ada dari China, Spanyol, Finlandia, Prancis, dan Rumania," kata Djarwo.
Ship to Shore Crane (STS) misalnya, alat itu dikirim dari Nantong, Provinsi Jiangsu, China yang akan diberangkatkan pada tanggal 20 April 2014 dan akan tiba di Surabaya dua minggu kemudian. Demikian halnya dengan Automated Stacking Crane (ASC) yang akan dikirim pada tanggal 15 April 2014 melalui Dalian, Provinsi Liaoning, China. Sedangkan Automotive Terminal Tractor (ATT) kini tengah dalam perjalanan menggunakan kapal dari Prancis menuju Surabaya.
“STS dan ASC memang dirakit/difabrikasi di negeri China. Di negara itulah kerangka untuk kedua alat dibuat, namun mesin dan instalasi lainnya tetap didatangkan dari Eropa," jelasnya.
Ditambahkan Djarwo, bahwa beberapa perlengkapan instalasi seperti kabel, serat optik, dan alat-alat pendukung lainnya kini telah tiba di Surabaya dan dan tengah dalam proses clearence oleh Bea dan Cukai. Beberapa instalasi itu nantinya akan digunakan untuk mendukung sistem otomatis yang akan digunakan pada Automated Stacking Crane (ASC).
Senior Manager Pemeliharaan Fasilitas Pelindo III Robby Dayoh selaku penanggungjawab alat memastikan alat-alat itu akan langsung dapat digunakan sesampainya di Surabaya kecuali Automated Stacking Crane (ASC). Hal itu terjadi karena ASC dikirim dalam bentuk bagian-bagian terpisah dan akan dirakit di Surabaya. Proses perakitan dan instalasi ASC diperkirakan memakan waktu 3 minggu untuk setiap ASC.
"ASC menggunakan sistem otomatis, sehingga perlu dirakit di lokasi tempat ASC berdiri. Kurang lebih akan memakan waktu lebih dari 12 minggu untuk memastikan kelima alat itu dapat berfungsi dengan baik," katanya.
Sementara untuk Ship to Shore Crane (STS) dan Automotive Terminal Tractor (ATT) dikirim dalam bentuk alat utuh dan telah diujicoba sebelumnya dari tempatnya diberangkatkan. Walau demikian, akan dilakukan ujicoba ulang untuk menyesuaikan dengan kondisi yang ada di Terminal Teluk Lamong.
Terminal Teluk Lamong Prioritaskan PelayananPT Terminal Teluk Lamong sengaja membatasi shipping line (perusahaan pelayaran) yang beroperasi di terminal anyar tersebut. Hal ini diharapkan untuk menekan tingginya arus barang petikemas pada full operation pada semester kedua tahun 2014 ini.
Pembatasan ini untuk mengantisipasi kemungkinan penambahan kapal dan rute dari shipping line. Sebab tahun ini banyak shipping line yang ingin melihat pelayanan Terminal Teluk Lamong.“Saat ini kita melayani Belawan (Medan), Balikpapan dan Indonesia Timur. Memang tidak semuanya kita layani, karena kita mencari terminal windows system (kedatangan kapal terjadwal) dulu”, Ujar Agung Kresno Sarwono Direktur Operasi dan Teknik PT Terminal Teluk Lamong.
Agung Kresno selanjutnya menambahkan, pelayanan ini untuk meminimalisir rute yang belum windows system, tetapi kedepannya tidak tertutup kemungkinan ada penambahan rute lain. Selain itu anak perusahaan PT Pelabuhan Indonesia III ini meningkatkan supply terlebih dahulu dibanding demand (permintaan).
“Kuncinya adalah service (pelayanan), percuma juga kalau Terminal Teluk Lamong mengambil semua rute, sementara pelayanan tidak optimal. Tidak memunculkan solusi, malah menambah masalah. Apalagi banyak shipping line yang sudah berancang-ancang menambah kapal, dan otomatis menambah petikemas”, kata Agung.
Terminal Teluk Lamong diperkirakan beroperasi penuh pada pertengahan tahun 2014 baik domestic maupun internasional. Sebelum full operation ini, PT Terminal Teluk Lamong akan melakukan uji coba dua kali seminggu menggunakan kapal Spil dengan rute Surabaya-Samarinda.
“Terminal Teluk Lamong perlu uji coba dahulu, kita butuh menguji TOS (terminal operation system) dan banyak kru baru, yang masih butuh penyesuaian dan uji coba ini akan dilakukan sepanjang dua bulan”, pungkas Agung.
Sejumlah shipping line berencana akan melakukan penambahan kapal maupun rute. Rata-rata shipping line wait and see, seperti apa pelayanan di Teluk Lamong. Tidak tertutup kemungkinan akan melakukan penambahan rute dan kapal bila pelayanan cepat dan bagus. (Logistics/hd)

dermaga banjarmasin
Dermaga Baru Terminal Petikemas Banjarmasin (TPKB)
Siap Beroperasi
BANJARMASIN (Logistics) : Dermaga baru Terminal Petikemas Banjarmasin (TPKB) sepanjang 265 meter x 34,5 meter mulai siap untuk dioperasionalisasikan.
Pembangunan dermaga petikemas yangdibangun oleh kontraktor PT Wijaya Karya, pelaksanaan pemancangan perdananya dilakukan pada tanggal 13 April 2012 silam.
Dermaga ini sebenarnya telah diresmikan oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono pada acara peresmian proyek MP3EI di Banjarbaru pada tanggal 23 Oktober 2013 lalu.
General Manajer Pelindo III Cabang Banjarmasin Hengki jajang Herasmana mengatakan bahwa dengan selesainya pembangunan dermaga ini, diharapkan dapat menambah kapasitas pelayanan yang ada. Jika sebelumnya dengan dermaga petikemas eksisting hanya sepanjang 240 meter dan hanya mampu ditambati 2 kapal sekaligus,setidaknya ada tambahan tambatan untuk 3 kapal lagi, sehingga total panjang dermaga petikemas menjadi 505 meter, yang dapat menampung 5 unit kapal petikemas sekaligus. “Hal ini berpotensi terjadi penambahan jumlah kunjungan kapal sebanyak 29 call, semula jumlah kunjungan kapal hanya 159 call setiap bulannya”, ujar Hengki.
Hengki menambahkan, selain meningkatkan fasilitas pelabuhan, pelindo III juga meningkatkan upaya penang gulangan lingkungan dengan pengoperasian Mobil Penyapu Jalan dan Mobil PMK. Mobil penyapu jalan bermerk Duelvo 200 Quatro ini mampu menyapu luasan jalan sebanyak 78.000 m2 perjam. Mobil penyapu jalan ini mampu membersihkan kotoran seperti daun, debu, kertas, kerikil. Dengan penambahan alat ini tentunya dapat meningkatkan kinerja kebersihan yang ada.
“Tema modern, green and clean port ini akan terus diusung sebagai komitmen manajemen untuk menuju pelabuhan yang berwawasan lingkungan sebagai mana disebutkan dalam Undang - undang 17 tahun 2008 tentang Pelayaran, diamanatkan tentang per lindungan lingkungan maritim yakni kondisi terpenuhi prosedur dan persyaratan pencegahan dan penang gulangan pencemaran dari kegiatan kepelabuhanan”, pungkas Hengki.
Ketua APBMI Banjarmasin, Jumadri Masrun mengapresiasi atas konsistensi Pelindo III dalam pengelolaan lingkungan hidup. Sebagai pelaku sejarah dari asal muasal Pelabuhan Banjarmasin, Jumadri sempat meragukan bahwa pelabuhan tak mungkin berkembang karena keterbatasan yang ada. “Namun saya tak menyangka Pelabuhan Banjarmasin dapat berkembang semodern ini”, ungkap Jumadri.
Terkait dengan kesiapan pengoperasian dermaga baru Terminal Petikemas Banjarmasin (TPKB), juru bicara PT Pelindo III Edi Priyanto mengatakan bahwa pembangunan dermaga baru di Terminal Petikemas Banjarmasin (TPKB) sebagai upaya dan respon positif PT Pelindo III dalam mengant isipasi peningkatan arus kunjungan kapal dan petikemas di Pelabuhan Banjarmasin.
Edi selanjutnya merinci bahwa realisasi arus kapal pada tahun 2013 di Pelabuhan Banjarmasin meningkat 8-9% dibandingkan tahun sebelumnya, dimana tahun 2013 tercatat sebanyak 17.253 unit kapal dengan berat mencapai 98.181.591 Gross Tonage (GT). Sedangkan realisasi khusus kapal jenis petikemas pada tahun 2013 meningkat 10% (dalam satuan unit) dan meningkat 78% (dalam satuan GT) dibandingkan tahun sebelumnya, dimana realisasi arus kapal jenis petikemas tahun 2013 tercatat 1.137 unit dengan berat mencapai 7.207.642 GT. Ini menunjukkan terjadi pening katan arus barang yang masuk maupun keluar melalui Pelabuhan Banjarmasin.
Sedangkan realisasi arus petikemas pada tahun 2013 tercatat 387.954 Box atau setara 428.479 Teus atau meningkat tipis 2 % dibandingkan tahun sebelumnya, namun realisasi arus petikemas pada tahun 2012 mengalami peningkatan sebesar 15% dibandingkan tahun sebelumnya, dimana tercatat 384.323 Box atau 421.561 Teus. (Logistics/hd)

mea 2015
Kesiapan Indonesia Hadapi
MEA 2015 baru 83%
SOLO (Logistics): Kesiapan Indonesia dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN pada akhir 2015 mencapai 83%, dan diharapkan dalam beberapa waktu ke depan akan terus meningkat.
"Berdasarkan skor yang ada saat ini Indonesia sudah mencapai 82 – 83%," kata Direktur Jenderal Kerja Sama Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan Iman Pambagyo di sela-sela Senior Economics Official Meeting (SEOM) di Solo, Kamis (24/4/14).
Iman mengatakan pencapaian sebesar 83% tersebut masih masuk dalam kategori pencapaian yang rendah dalam ASEAN apabila dibandingkan dengan negara anggota seperti Singapura dan Brunei Darussalam.
"Tapi kita tekankan, jangan membandingkan Indonesia dengan negara yang memiliki skor tinggi seperti Singapura dan Brunei, karena perekonomian kita berbeda," kata Iman.
Menurut Iman, pencapaian skor tersebut berbeda dengan Singapura dan Brunei Darussalam dikarenakan kegiatan produksi Indonesia mencakup wilayah yang cukup luas jika dibandingkan dengan negara-negara tersebut.
Iman menambahkan, salah satu yang harus menjadi perhatian adalah bagaimana Indonesia mampu melihat MEA tersebut sebagai suatu kesempatan untuk lebih mengembangkan perekonomian Indonesia.
Menurut Iman, beberapa kesempatan tersebut bisa diambil dari adanya penurunan tarif yang sudah dibuka sejak tahun 2010 lalu, dan juga bidang jasa meskipun masih ada beberapa sektor yang masih menunggu Mutual Recognition Agreement (MRA) terkait dengan standar profesi.
“Secara umum menurut saya, kita sudah menyatu dengan ASEAN. Sekarang yang harus kita tanamkan adalah bahwa pasar kita adalah ASEAN bukan hanya Indonesia, itu yang perlu terus kita kembangkan," ujar Iman.
Iman menyebutkan memang masih ada beberapa kendala dalam tingkat nasional untuk men jalankan kesepakatan regional tersebut, namun permasalahan khususnya yang menyangkut `legislative barrier` tersebut bukan hanya dihadapi oleh Indonesia saja.
"Akan tetapi komitmen adalah komitmen, kita akan mencoba mencari jalan keluar yang tentunya tetap memper timbangkan kepentingan Indonesia," ujar Iman.
Menurut Iman, dengan masuknya Indonesia di dalam ASEAN harus mampu mengambil manfaatnya, namun harus diingat bahwa posisi ASEAN tidak bisa menunggu melainkan Indonesia yang harus mampu menggali kesempatan itu.
Iman menjelaskan, langkah-langkah yang harus ditempuh khususnya mendekati MEA 2015 tersebut akan semakin sulit, dikarenakan adanya kesepakatan di tingkat regional ASEAN itu memerlukan beberapa penyesuaian seperti diper lukannya peraturan perundang-undangan di masing-masing negara.
"Jadi kita harus melihat MEA itu merupakan proses panjang, dan tidak berhenti pada 2015 saja karena jika kita pendekatannya seperti itu mungkin 3-4 tahun setelah 2015, negara lain akan melihat kita tidak kredibel," tambah Iman.
Pada 2012 lalu, pendapatan per kapita di kawasan tersebut meningkat dari US$2.267 menjadi US$3.759. Selain itu juga ada peningkatan in vestasi dari investor asing (FDI) dari US$92 miliar menjadi US$114 miliar pada tahun 2011.
ASEAN beranggota 10 negara. Populasi ASEAN pada 2012 mencapai 617,68 juta jiwa dengan pendapatan domestik bruto kurang lebih sebanyak US$2,1 triliun .
Pada akhir tahun 2015 nanti, akan diberlakukan MEA dimana akan terjadi integrasi 10 negara Asia Teng¬gara dalam suatu kawasan eko¬nomi eksklusif yang menciptakan akses pasar antar negara yang lebih luas.(Logistics/hd)

kopi tebaik
29 Jenis Kopi Terbaik Indonesia
Akan Dipamerkan di AS
JAKARTA (Logistis): Indonesia akan memperkenalkan 29 jenis kopi yang termasuk kategori specialty coffee di Amerika Serikat (AS). Beragam jenis kopi tersebut rencananya dipamerkan dalam acara Specialty Coffee Association of America (SCAA) ke-26 yang akan berlangsung pada 24-27 April 2014 di Seattle, Amerika Serikat.
"Jumlah uang yang dibelanjakan untuk specialty coffee di AS setiap tahunnya mencapai USD 18 miliar. Peminum kopi di AS jumlahnya mencapai 100 juta orang setiap harinya. Ini menunjukkan pasar untuk komoditas kopi di AS cukup potensial," kata Ni Made Ayu Marthini, Atas Perdagangan di Washington, D.C dalam rilisnya, Kamis (24/4/2014).
Menurut SCAA, kopi dikategorikan specialty jika nilainya mencapai 80 poin atau lebih dalam skala nilai maksimum 100 poin. Kopi jenis ini tumbuh di lingkungan dengan iklim yang ideal. Rasa dan aroma yang khas dari jenis kopi ini dihasilkan dari karakteristik khusus dan komposisi tanah tempat kopi ini tumbuh.
Menurut Made Marthini, perdagangan jenis kopi premium ini mengalami pertumbuhan yang paling pesat di AS, yaitu 1%-20% dalam 25 tahun terakhir. Tidak hanya menampilkan biji kopi, dalam kesempatan ini Indonesia juga akan mengadakan acara cupping session untuk menguji cita rasa, aroma, dan spesifikasi kopi Indonesia.
Selain itu, selama pameran berlangsung, Indonesia juga akan mempertunjukkan cara penyajian tradisional (seduh) kopi tarik dari Aceh dan kopi kahwa dari Sumatera Barat. Dalam acara tersebut, beberapa jenis specialty coffee dari enam daerah di Indonesia, yaitu Sumatera, Jawa, Flores, Bali, Sulawesi, dan Papua.
Paviliun Indonesia juga mengundang para petani kopi dari Gayo, Aceh untuk hadir dalam pameran ini agar dapat menjelaskan secara langsung proses produksi kopi mereka kepada para pengunjung atau buyers yang hadir.
"Jika berhasil meningkat, perdagangan specialty coffee ini pada akhirnya akan menguntungkan para petani dan meningkatkan kesejahteraan mereka," kata Made Marthini. (Logistics/hd)

koperasi pegawai p3
KOPERASI PEGAWAI PELINDO III
BAGIKAN SHU Rp. 5,5 MILIAR
SURABAYA (Logistics): Rapat Anggota Tahunan (RAT) Koperasi Pegawai PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) disingkat dengan Kopelindo III menyetujui membagikan Sisa Hasil Usaha (SHU) tahun buku 2013 sebesar Rp. 5,593 miliar. RAT Kopelindo III tersebut digelar di Gedung pertemuan Indrapura Surabaya hari Kamis, 24 April 2014.
Dalam laporan pertanggungjawaban pengurus dan pengawas kinerja pengelolaan Koperasi tahun buku 2013 secara umum mengalami peningkatan dan melampaui anggaran/target yang telah ditetapkan. Realisasi pendapatan tercatat Rp. 58,665 miliar atau malampaui target sebesar 140% dan mengalami kemaikan 115% dibandingkan dengan pendapatan tahun buku sebelumnya. Demikian dalam hal pencapaian Sisa Hasil Usaha (SHU) tercatat Rp. 5,593 miliar meningkat 108% dibandingkan SHU tahun buku sebelumnya. Sedangkan total aset Kopelindo III per 31 Desember 2013 mencapai Rp. 19,228 miliar mengalami peningkatan sebesar 116% dibandingkan dengan tahun 2012.
“Hasil audit atas laporan Keuangan Koperasi Pegawai Pelindo III Surabaya Koperasi Pegawai Pelindo III Surabaya Tahun Buku 2013 yang diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Krisnawan, Achsin dan Alamsyah nomor : GA.C/14.021004/KPPI-HK tanggal 21 April 2014 dengan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP)”, ujar Ketua I Pengurus Kopelindo III Agus Hermawan.
Dengan berlakunya Undang-undang Perkoperasian No. 17 Tahun 2012 tentang pembagian koperasi sesuai bidang usahanya, mengharuskan Kopelindo III menjadi salah satu bidang usaha saja yaitu koperasi simpan pinjam. “Namun Kopelindo III saat ini telah beradaptasi terhadap regulasi undang-undang perkoperasian yang baru dengan membentuk anak usaha baru yaitu PT APERINDO PRIMA UTAMA yang bergerak dalam kegiatan usaha utama jasa pengamanan dan penyedia tenaga kerja, jasa kebersihan, jasa tour dan travel serta jasa pemborongan (general trading)”, Ujar Agus Hermawan.
Sementara itu Direktur Personalia dan Umum PT Pelindo III (Persero) A Edy Hidayat N memberikan apresiasi dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas kerja keras dan capaian yang telah dicapai oleh Kopelindo III Surabaya selama tahun buku 2013, diantaranya telah berhasil mengukir prestasi dalam hal pencapaian Laba Usaha Kopelindo III diatas anggaran tahun 2013, berperan aktif Kopelindo 3 dalam kegiatan CSR Pelindo III dalam mendukung penyediaan bantuan paket sembako.
“Kopelindo III juga konsistensi dalam penerapan program penghargaan anak berprestasi kepada anak anggota Kopelindo III dan pemberian bantuan pendidikan dan bea siswa diberikan kepada anak-anak (yatim/piatu) dari mantan anggota Kopelindo III (telah meninggal dunia) serta juga diberikan kepada anak-anak tenaga kerja khusus (seperti : petugas cleaning service, foto copy, driver/sopir)” jelas Edy.
Edy dalam sambutan pembukaan RAT Kopelindo III mengatakan bahwa keberhasilan koperasi diindikasikan dari terselenggaranya Rapat Anggota Tahunan (RAT) yang dilaksanakan secara rutin. “Selain itu indikator lainnya adalah peningkatan kualitas SDM dan layanan, seberapa besar modal sendiri berbanding dengan pinjaman, SHU yang terus meningkat, dan pengelolaan keuangan”, jelas Edy.
“Pada tahun 2012 lalu Kopelindo III yang beranggotakan 2.125 orang telah mengukir beberapa prestasi, antara lain memperoleh penghargaan peringkat pertama dalam bidang koperasi jasa tingkat Jawa Timur yang dianugerahkan oleh Gubernur Provinsi Jawa Timur dan penghargaan koperasi award dan peringkat pertama dalam bidang koperasi jasa tingkat Nasional yang dianugerahkan oleh Menteri Koperasi dan UKM, pungkasnya.
Sebagaimana diketahui sebelumnya, pendirian anak usaha PT Pelindo III yang bernama PT Pelindo Daya Sejahtera (PDS) dilakukan melalui akuisisi PT Persada Jasa Utama (anak perusahaan Koperasi Pegawai Pelabuhan Indonesia III (Kopelindo III)) yang bergerak dibidang penyediaan jasa tenaga kerja dan jasa pemborongan serta penyediaan barang dan jasa penunjang perusahaan, dengan modal disetor sebesar Rp. 17,5 miliar dengan komposisi kepemilikan saham 90 % PT Pelindo III dan sisanya sebesar 10% Kopelindo III.(Logistics/hd)

pelindo3 gandeng tnial
PELINDO III AKAN GANDENG TNI AL
AWASI DAN AMANKAN PENDALAMAN ALUR
SURABAYA (Logistics): PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) setelah menandatangani Surat Perjanjian Pemborongan Pekerjaan Pengerukan Alur Pelayaran Barat Surabaya (APBS) dengan Van Oord Dredging and Marine contractors BV (Van Oord) pada akhir Maret 2014 lalu, kini BUMN Kepelabuhanan tersebut akan kembali menggelar penandatangan piagam kesepakatan bersama dengan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) terkait dengan pendalaman alur laut dan pembaharuan peta alur pelayaran surabaya. Kegiatan tersebut direncanakan akan diselenggarakan besok Kamis, 10 April 2014 di Markas Besar Angkatan Laut Cilangkap Jakarta Timur.
Pelindo III selaku Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Kepelabuhanan yang mengoperasikan pelabuhan pada 7 (tujuh) Propinsi telah melakukan berbagai upaya guna mendukung kelancaran logistik diantaranya program revitalisasi pelabuhan dengan program peningkatan fasilitas pokok maupun pendukung pelabuhan. Kemudian optimalisasi melalui rekonfigurasi dan penataan pelabuhan serta melakukan modernisasi melalui penyediaan dan penggantian peralatan berteknologi terbaru serta memperbaharui sistem pendukung operasional.
“Rencana penandatanganan piagam kesepakatan besok pagi merupakan upaya PT Pelindo III dalam rangka mewujudkan efisiensi biaya logistik dengan bekerjasamadengan TNI Angkatan Laut khususnya dalam rangka pengawasan dan pengamanan pendalaman alur laut di daerah alur pelayaran Surabaya serta pembaharuan peta di daerah alur pelayaran Surabaya”, ujar Kepala Humas PT Pelindo III Edi Priyanto.
Keterbatasan alur pelayaran keluar maupun menuju sebuah pelabuhan menjadi salah satu faktor penghambat pertumbuhan perekonomian suatu daerah, karena kapal yang membawa barang menjadi terbatas volumenya sehingga berdampak pada terjadinya inefisiensi biaya logistik. Sebagaimana diketahui bahwa pengangkutan barang dan perdagangan di Indonesia saat ini masih didominasi menggunakan transportasi laut.(Logistics/hd)

obligasi negara
Pemerintah Lelang Obligasi Negara
Rp. 8 triliun, Akhir April 2014
JAKARTA (Logistics): Pemerintah berencana melelang obligasi atau surat utang negara dalam mata uang rupiah dengan jumlah indikatif Rp8 triliun pada 29 April 2014.
Keterangan tertulis Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan di Jakarta, Kamis, menyebutkan penjualan SUN melalui lelang itu untuk memenuhi sebagian dari target pembiayaan dalam APBN 2014.
SUN yang akan dilelang mempunyai nominal per unit sebesar Rp1 juta. Terdapat enam seri SUN yang akan dilelang, yaitu SPN12140731 (penjualan kembali), SPN12150501 (penerbitan baru), FR0067 (penjualan kembali), FR0068 (penjualan kembali), FR0069 (penjualan kembali) dan FR0071 (penjualan kembali).
Pembayaran bunga untuk SPN12140731 dilakukan secara diskonto, SUN ini akan jatuh tempo 31 Juli 2014. Pembayaran bunga SPN12150501 juga secara diskonto. SUN ini akan jatuh tempo 1 Mei 2015.
Seri FR0067 memiliki tingkat bunga tetap 8,75% dan jatuh tempo 15 Februari 2044. Seri FR0068 dengan tingkat bunga tetap 8,38% dan jatuh tempo 15 Maret 2034. Seri FR0069 memiliki tingkat bunga tetap 7,88% dan akan jatuh tempo 15 April 2029. Seri FR0071 memiliki tingkat bunga tetap 9,0% dan jatuh tempo 15 Maret 2029.
Penjualan SUN tersebut akan dilaksanakan meng gunakan sistem pelelangan yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia. Lelang bersifat terbuka dan menggunakan metode harga beragam.
Pemerintah memiliki hak untuk menjual ke enam seri SUN tersebut lebih besar atau lebih kecil daripada jumlah indikatif yang ditentukan. (Logistics/hd)

kenaikan tdl
Pemerintah Belum Tentukan Kompensasi Kenaikan TDL
JAKARTA (Logistics): Pemerintah dalam hal ini Kementrian Perindustrian (Kemenperin) belum menentukan kompensasi kepada perusahaan, terkait dengan kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) per 1 Mei 2014.
Direktur Jenderal Basis Industri Manufaktur KEMENPERIN Harjanto mengaku masih berpikir bagaimana mencari peluang dalam memberikan kompensasi agar industri bisa tetap kompetitif. "Artinya kedalaman dari penggunaan industri dalam negeri bisa kita gunakan," kata Harjanto usai pembukaan Pameran "Indo Intertex-Inatex-Indo Dyechem" di Jiexpo Kemayoran, Jakarta, Rabu (23/4/14).
Harjanto meyakini, kenaikan TDL akan berdampak pada membeludaknya barang impor. "Daya saing kita turun secara otomatis akibat kenaikan listrik, akan masuk barang impor yang banyak, kalau `cost` (biaya) naik. Dia (industri dalam negeri) akan kalah bersaing sehingga orang akan pilih mengimpor," ungkapnya.
Adapun produk yang diperkirakan paling terkena dampak kenaikan TDL adalah produk hulu. "Untuk itu, salah satu PR (Pekerjaan Rumah) kita bersama bagaimana mengurangi dampak impor dari bahan baku tekstil karena dengan kenaikan listrik, yang di hulu yang kena dampak maksimal," terangnya.
Dia juga mengatakan belum ada balasan dari surat yang dikirimkan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terkait solusi dari kenaikan TDL. "Saya belum tahu, tapi sudah dikirim. Ada juga masukan dari asosiasi," bebernya.
Harjanto berharap bisa memberikan kelonggaran untuk industri, terutama Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) karena dampaknya signifikan. "Naiknya agak signifikan. Kita kuatir akan memberikan dampak pada industri dalam negeri," ujarnya.
Seperti diketahui, pemerintah akan menaikkan TDL pada 1 Mei 2014 untuk perusahaan sektor industri golongan menengah I3 terbuka atau "go public", dan golongan I4 industri besar secara bertahap.
Penyesuaian tarif untuk golongan industri I3 yang sudah "go public" dilakukan secara bertahap dengan kenaikan sebesar 8,6%setiap empat bulan mulai 1 Mei 2014. Dengan demikian, pada 2014 terdapat kenaikan tarif pelanggan industri I3 "go public" sebesar 17,8%, dan 2015 sebesar 17,8%. (Logistics/hd)

pelindo3 konsorsium
Pelindo III dan Konsorsium
Bangun Jalan Pelabuhan Bumiharjo
KOTAWARINGIN BARAT (Logistics) : Gabungan sembilan perusahaan yang dimotori oleh PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) atau Pelindo II telah menyelesaikan pembangunan jalan akses menuju Pelabuhan Bumiharjo Kalimantan Tengah sepanjang 2,6 Km dengan biaya Rp12,78 miliar.
Kesembilan perusahaan itu adalah Pelindo III, PT Sinar Alam Permai, PT Gunung Sejahtera Ibu Pertiwi, PT Tapian Nadenggan, PT Api Metra Palma, PT Kapuas Prima Coal, PT Sarana Sampit Mentaya Utama, PT Gamareksa Mekar Sari, dan PT Indotruba Tengah. Pembangunan jalan itu dilakukan karena akses jalan pada ruas tersebut rusak parah dan merupakan jalan akses satu-satunya menuju Pelabuhan Bumiharjo.
Direktur Utama Pelindo III Djarwo Surjanto mengatakan pembangunan jalan pada ruas tersebut sangat mendesak untuk dilakukan. Oleh karenanya, Djarwo meminta kepada perusahaan-perusahaan yang berkepentingan menggunakan ruas jalan itu untuk bersama-sama dengan Pelindo III melakukan pembangunan jalan.
"Intensitas truk yang melewati jalan tersebut cukup tinggi. Baik itu pengangkut CPO, barang, batubara maupun petikemas. Untuk keselamatan muatan dan pengemudi truk maka ruas jalan itu perlu diperbaiki," kata Djarwo yang merupakan wakil gabungan perusahaan pada acara peresmian ruas jalan akses Pelabuhan Bumiharjo, Selasa (25/3/14).
Ditambahkan Djarwo, sebelum dilakukan pembangunan, ruas jalan tersebut berlubang bahkan tak jarang pula ditemui truk terguling di tempat itu.
Bupati Kotawaringin Barat Ujang Iskandar saat meresmikan jalan tersebut memberikan penghargaan kepada gabungan perusahaan. Selaku kepala daerah, dirinya berharap dengan selesainya pembangunan jalan maka dapat membantu meningkatkan perekonomian daerah yang dipimpinnya.
Dia juga meminta kepada perusahaan-perusahaan lain yang ada di wilayahnya untuk bersama-sama pemerintah daerah membangun Kotawaringin Barat. "Dengan selesainya jalan ini semoga akses ke pelabuhan lebih lancar, pengiriman barang juga semakin lancar dan perekonomian semakin meningkat," katanya.
Ditemui di tempat yang sama, General Manager Pelindo III Cabang Kumai Bambang Fry mengungkapkan dengan selesainya ruas jalan menuju Pelabuhan Bumiharjo maka akses ke pelabuhan itu semakin mudah.
Bambang menyebutkan bahwa lebih dari 60% barang yang ada di Kotawaringin Barat ini dipasok melalui Pelabuhan Bumiharjo. "Ada dua pelabuhan yang kami kelola, yakni Pelabuhan Panglima Utar di Kumai dan Pelabuhan Bumiharjo. Enam puluh persennya melalui Pelabuhan Bumiharjo," jelas Bambang.
Menurut data yang ada, tahun 2013 lalu di dua pelabuhan yang dikelola oleh Pelindo III itu tercatat ada 3.776 unit kunjungan kapal. Dari kapal sejumlah tersebut terdapat muatan barang sebanyak 3,9 juta ton dan petikemas sebanyak 17.298 teu's serta beberapa muatan lainnya.
Jumlah tersebut meningkat tajam jika dibandingkan dengan tahun 2009. Lima tahun lalu hanya tercatat 3.114 unit kunjungan kapal dengan buatan barang 2,2 juta ton dan petikemas 8.301 teu's. "Kapal-kapal yang datang ke pelabuhan kami juga semakin besar, tahun 2013 bobot kapal mencapai 6,1 juta GT sedangkan tahun 2009 hanya 3,6 juta GT," lanjutnya.
Bambang optimis jika arus kapal dan barang di dua pelabuhan yang dikelolanya akan terus meningkat seiring dengan pengembangan yang dilakukan oleh Pelindo III khususnya di Pelabuhan Bumiharjo. (hd/Logistics)