Logiatics Journal Edisi No : 144/Januari 2014
 
cover
 

 
Editorial - Tahun 2014
Tahun 2014 mendapatkan julukan tahun politik dan tahun ekonomi. Walau pesona sihirnya lebih kuat sebagai tahun politik daripada tahun ekonomi. Padahal sampai dengan 29 Januari 2014 posisi rupiah bertengger di Rp. 12.154 per 1 USD. Artinya, cuaca ekonomi nasional secara makro tidaklah terlalu baik bagi para pelaku usaha. Sedangkan cuaca politik nasional lebih produktif menghasilkan issu-issu politik yang mempengaruhi langsung bahkan mampu menekan kondisi perekonomian nasional.
Sebagai tahun politik, di 2014 ini banyak ekspektasi yang dibebankan pada proses suksesi politik yang terjadi, baik di lembaga legislatif maupun di level pempimpin nasional atau lembaga kepresidenan. Karena dari kedua lembaga inilah yang akan menerbitkan berbagai kebijakan strategis di berbagai sektor kegiatan ekonomi. Sehingga kualifikasi personal dari orang-orang yang akan menduduki di kedua lembaga tersebut harus benar-benar mumpuni dalam memahami kebutuhan dan kepentingan ekonomi secara mikro maupun makro.
Orang-orang yang direkrut dan diproses melalui lembaga politik (partai politik) diharuskan memberikan kontribusi kebijakan strategis di bidang ekonomi. Bidang ekonomi inilah yang akan memenuhi hajat hidup orang banyak pada kenyataannya dipertaruhkan pada orang-orang dengan latar belakang politik yang hanya sebagian kecil paham tentang problematika ekonomi.
Sebagai pelaku usaha memang harus menyiapkan daya tahan usahanya di suasana cuaca politik dan ekonomi yang tidak terlalu memihak dan menguntungkan bagi pengusaha. Karena sejelek apapun atmosfir dunia usaha yang ada, kemampuan bertahan (survival) adalah wajib dilakukan oleh pelaku usaha di sektor apapun, termasuk sektor usaha jasa forwarding dan logistik.
Dengan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat yang melemah dan hutang luar negeri pemerintah yang sudah tembus Rp. 3.000 triliun, bukanlah hal yang mudah untuk memperbaiki realitas ekonomi yang ada. Akankah ada kebijakan pemerintah yang akan berpihak kepada dunia usaha dalam menghadapi penerapan Masyarakat Ekonomia ASEAN di tahun 2015. Karena pelaku usaha tidak butuh lagi serangkaian seminar atau kajian-kajian yang bersifat saran dan nasihat, yang dibutuhkan paket kebijakan dalam bentuk aksi nyata yang pro-bisnis.
(guslim-jan'14)
 

kadin desak
KADIN Desak Pelindo II
Selesaikan Proyek Pelabuhan Kalibaru
JAKARTA (Logistik): Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mendesak PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II segera menyelesaikan pembangunan Pelabuhan Kalibaru sebagai pengembangan Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta untuk mendukung kelancaran distribusi logistik
“Sejak awal Pelabuhan Kalibaru memang disiapkan menjadi pelabuhan penopang Priok mengingat kondisi Pelabuhan Tanjung Priok semakin berat menampung arus kontainer yang masuk dalam jumlah besar,” kata Ketua Komisi Tetap Bidang Logistik Kadin Akbar Djohan di Jakarta, Sabtu (11/1/14).
Akbar mengingatkan dalam pengembangan Pelabuhan Tanjung Priok, PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II telah menyiapkan Masterplan Pelabuhan Kalibaru atau New Tanjung Priok yang diperkirakan menelan investasi hingga Rp22,66 triliun. Konsepnya dicetuskan Juni 2010, dan pemancangan tiang pertama (ground breaking) dilakukan pertengahan Maret 2013.
Terminal New Tanjung Priok Tahap I nantinya terdiri tiga terminal petikemas dan dua terminal petroleum yang dibangun di atas lahan 195 hektare, sehingga akan menambah kapasitas pelabuhan menjadi 4,5 juta twenty-foot equivalent units (TEUs) peti kemas, serta 9,4 juta meter kubik produk minyak dan gas.
Hingga akhir Desember 2013, Pelindo II mengklaim kemajuan pembangunan Terminal Kalibaru mencapai 20% dan optimistis rampung untuk dioperasikan pada akhir 2014. “Persoalannya kini, apakah Pelindo II mampu menyelesaikan target pengembangan Pelabuhan Tanjung Priok itu tepat waktu, karena pertumbuhan arus barang di pelabuhan sudah sangat tinggi trafiknya.”
Akbar juga mengingatkan, kondisi internal manajemen Pelindo II tengah mengalami gangguan pasca pengunduran diri sejumlah pejabatnya yang ikut diwarnai aksi mogok kerja para pekerjanya Disisi lain, Dalam pembangunan proyek Pelabuhan Kalibaru PT Pelabuhan Indonesia II (Pelindo II) diperkirakan akan menghabiskan dana senilai total US$4 miliar. Dalam pembangunannya tersebut Pelabuhan Kalibaru ini direncanakan dibangun dua tahap.
Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia II RJ Lino mengatakan, pihaknya akan sangat serius menanamkan investasinya hingga Rp22,66 triliun atau setara dengan US$2,5 miliar untuk tahap pertama dari nilai total pembangunan proyek yang senila US$4 miliar untuk seluruh terminal, baik ditahap pertama maupun kedua.
"Pendanaan pada pembangunan tahap pertama ini kan berasal dari internal perusahaan, pinjaman perbankan, dan obligasi," ujar Direktur Utama Pelabuhan Indonesia II RJ Lino, saat Ground Breaking Pembangunan Pelabuhan Kalibaru, di Jakarta, pada Maret 2013.
Dia menegaskan, pendanaan pada tahap tersebut sama sekali tanpa melibatkan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN). "Benar-benar tidak ada pendanaan dari APBN pemerintah, ini kita harus bangga," imbuhnya.
Lino menjelaskan, pembangunan pelabuhan pada tahap pertama tersebut terdiri atas tiga terminal peti kemas dan dua terminal produk bahan bakar minyak.
Lanjut dia, NewPriok tahap pertama akan dibangun di atas lahan seluas 195 hektare (ha) dengan penambahan kapasitas 4,5 juta TEUs peti kemas serta 9,4 juta m3 produk minyak dan gas. Pada tahap ini diharapkan seluruh terminal sudah beroperasi pada 2018.
Sedangkan untuk tahap pembangunan kedua akan dimulai apabila utilisasi dan pengoperasian tahap pertama mencapai 70 sampai 80 persen. "Tahap ini terdiri atas empat terminal kontainer dengan daya tampung delapan juta TEUs," tutupnya.(hd/Logistics)

arus petikemas
TAHUN 2013 ARUS PETIKEMAS DI TANJUNG PERAK TEMBUS 3,1 JUTA TEU's
Meningkat 11,89% Dibandingkan Tahun Sebelumnya
SURABAYA (Logistics): Nampaknya perekonomian Jawa Timur selama empat tahun terakhir yang terus tumbuh, bahkan lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional tercermin dengan peningkatan arus barang khususnya petikemas yang melalui pelabuhan utama bagi Jawa Timur dan Kawasan Timur Indonesia, yaitu Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.
Pada tahun 2012 misalnya, pertumbuhan ekonomi di Jawa Timur berada pada angka 7,27% atau naik 0,05% dari tahun 2011 yang tercatat sebesar 7,22%. Angka itu jelas lebih tinggi di atas pertumbuhan ekonomi nasional yang hanya 6,23%.
Pada tahun 2013 ini, perekonomian Jatim tumbuh sebesar 7%. Meski nilai pertumbuhan tersebut lebih rendah dibandingkan pertumbuhan ekonomi tahun 2012 sebesar 7,27%, namun pertumbuhan ekonomi 7% tersebut masih lebih tinggi dibandingkan nasional. Bahkan pertumbuhan ekonomi Jatim pada 2013 ini adalah yang tertinggi dibandingkan provinsi lain di Jawa maupun luar Jawa.
Berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik Jawa Timur, salah satu penyumbang pertumbuhan ekonomi di Jawa Timur adalah sektor perdagangan yang menyumbang 22,3%. Wajar saja, mengingat saat ini Jawa Timur merupakan pintu gerbang perdagangan wilayah timur Indonesia dengan Pelabuhan Tanjung Perak sebagai pendukungnya.
Kepala Humas PT Pelindo III Edi Priyanto mengungkapkan bahwa kecenderungan arus petikemas yang melalui Pelabuhan Tanjung Perak nampaknya terus mengalami pertumbuhan.
Berdasarkan data internal PT Pelindo III tercatat sepanjang Januari hingga Desember 2013 arus petikemas melalui Pelabuhan Tanjung Perak sudah mencapai 3.188.036 TEU’s atau setara 2.510.589 Box. Dengan demikian realisasi arus petikemas (TEU’s) di Pelabuhan Tanjung Perak sepanjang tahun 2013 tersebut menunjukkan peningkatan sebesar 11,89 % dibandingkan tahun sebelumnya, dimana pada tahun 2012 tercatat 2.849.138 TEU’s.
Realisasi tersebut menurutnya terdiri dari arus petikemas internasional sebanyak 1.269.266 TEU’s atau sebesar 42,31% dari total arus petikemas (TEU’s), dimana setara 894.099 Box atau 35,61 % dari total arus petikemas (Box). Sedangkan arus petikemas domestik tercatat sebanyak 1.730.683 TEU’s atau 57,69 % dari total arus petikemas (TEU’s), setara dengan 1.616.490 Box atau 64,39 % dari total arus petikemas (Box).
Jika dilihat dari kontribusinya, terbesar disumbang oleh arus petikemas di Terminal Petikamas Surabaya (TPS), selanjutnya di Terminal Berlian Jasa Terminal Indonesia (BJTI) dan sisanya dari berbagai Terminal Konvensional Pelabuhan Tanjung Perak yang terdiri dari Terminal Jamrud, Terminal Nilam dan Terminal Mirah.
Adapun rinciannya, lanjut Edi, untuk arus petikemas di Terminal Petikemas yang dioperasikan oleh PT TPS mencapai sebanyak 1.365.617 TEU’s atau setara dengan 998.503 Box. Realisasi tersebut memberikan kontribusi sebesar 42,8% TEU’s dan 39,8% Box dari total arus petikemas yang melalui Pelabuhan Tanjung Perak. Diantara total arus petikemas tersebut, petikemas internasional masih mendominasi dengan total 1.177.530 TEU’s, sedangkan petikemas domestik hanya mencapai 188.087 TEU’s.
Selanjutnya disusul Terminal Berlian yang dioperasikan oleh PT BJTI yang pencapaiannya sepanjang Januari hingga Desember 2013 sebanyak 1.157.274 TEU’s atau 888.940 Box. Realisasi tersebut memberikan kontribusi sebesar 36,3 % TEU’s dan 35,4 % Box dari total arus petikemas yang melalui Pelabuhan Tanjung Perak. Diantara total arus petikemas tersebut, petikemas domestik masih mendominasi dengan total 880.711 TEU’s, sedangkan petikemas internasional hanya mencapai 88.476 TEU’s.
Sementara arus petikemas di Terminal Konvensional Pelabuhan Tanjung Perak meliputi terminal Jamrud, Nilam dan Mirah sejak Januari sampai dengan Desember tahun 2013 terealisir sebanyak 665.145 TEU’s atau setara dengan 623.146 Box. Diantara total arus petikemas tersebut, petikemas domestik masih mendominasi dengan total 661.885 TEU’s, sedangkan petikemas internasional hanya mencapai 3.260 TEU’s. "Realisasi tersebut memberikan kontribusi sebesar 20,9% untuk satuan TEU’s dan 24,8% untuk satuan Box dari total arus petikemas yang melalui Pelabuhan Tanjung Perak," katanya.
Pencapaian tersebut menurut Edi disebabkan karena pelabuhan Tanjung Perak sendiri selain sebagai gerbang utama arus barang tidak hanya skala internasional tetapi juga menjadi arus domestik bagi Jawa Timur dan terhadap daerah lain di Kawasan Timur Indonesia.
"Karenanya Pelabuhan Tanjung Perak memiliki peran sebagai infrastruktur penting bagi perdagangan dan transportasi bagi Jawa Timur dan Kawasan Timur Indonesia," ujarnya.
Berikut rincian data realisasi arus petikemas di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya :
Tabel arus petikemas
Peningkatan arus petikemas yang melalui Pelabuhan Tanjung Perak pada tahun 2013 tersebut menunjukkan bahwa angkutan barang melalui transportasi laut menggunakan petikemas saat ini masih menjadi primadona.
Petikemas (container) sendiri merupakan sebuah peti berbentuk empat persegi panjang yang dirancang khusus dengan ukuran tertentu terbuat dari besi maupun alumunium serta memiliki pintu pada salah satu sisinya serta dapat digunakan berulang kali juga digunakan sebagai tempat untuk menyimpan sekaligus mengangkut muatan yang ada didalamnya. (hd/Logistics)

dereksi teluk lamong
Ket : gambar
Prasetyadi dilantik menjadi Direktur Utama PT Terminal Teluk Lamong,
didampingi dua Direksi lainnya yaitu Agung Kresno Sarwono sebagai
Direktur Operasi dan Teknik serta Harijana sebagai Direktur Keuangan dan SDM.
 
DIREKSI PT TERMINAL TELUK LAMONG DILANTIK
SURABAYA (Logistics): Keseriusan pengoperasian Terminal Teluk Lamong awal Mei 2014 mendatang nampaknya mulai dibuktikan oleh PT Pelindo III, pada penghujung tahun 2013, tepatnya hari Selasa 31 Desember 2013 pukul 09.00 WIB, Direktur Utama PT Pelindo III Djarwo Surjanto melantik jajaran Direksi PT Terminal Teluk Lamong.
Prasetyadi dilantik menjadi Direktur Utama PT Terminal Teluk Lamong, didampingi 2 (dua) Direksi lainnya yaitu Agung Kresno Sarwono sebagai Direktur Operasi dan Teknik serta Harijana sebagai Direktur Keuangan dan SDM. PT Terminal Teluk Lamong sendiri didirikan dan dicatatkan didepan notaris pada tanggal 30 Desember 2013 dan resmi menjadi anak perusahaan PT Pelindo III, dengan komposisi kepemilikan saham 98% PT Pelindo III dan sisanya sebesar 2% Kopelindo 3.
Prasetyadi Direktur Utama PT Terminal Teluk Lamong, merupakan alumnus program master Universitas Le Havre Perancis ini menduduki jabatan terakhir adalah Senior Manajer Pemeliharaan Fasilitas dan merangkap sebagai pemimpin proyek pengadaan peralatan di Terminal Teluk Lamong. Agung Kresno Sarwono Direktur Operasi dan Teknik PT Terminal Teluk Lamong, sebelumnya Agung setelah sempat menjadi Manajer Operasi di PT TPS dan melanjutkan karir di negara ginseng Korea sebagai Operations Director di Pusan Newport Company, dan jabatan terakhir adalah Senior Manajer Perencanaan dan Pengembangan SDM. Sedangkan Harijana Direktur Keuangan dan SDM PT Terminal Teluk Lamong, jabatan terakhirnya adalah sebagai Senior Manajer Teknologi Informasi.
Berdasarkan progress fisik pembangunan Terminal Teluk Lamong hingga 27 Desember 2013, secara total proyek (overall) telah tercapai 71,65%, dengan perincian : pada paket A (Dermaga Internasional) telah selesai 100%, paket A' (Dermaga Domestik) telah selesai 100 %, paket B (Lapangan Penumpukan dan Causeway) terealisasi 73,78%, paket C (Jembatan Penghubung) telah selesai 100%, Paket D (Bangunan Perkantoran) tercapai 47,18% dan Paket E (Peralatan Bongkar Muat) telah tercapai 50,49% serta konsultan Supervisi tercapai 81,79%.
Dalam pelantikan yang digelar di auditorium Bromo lantai V Kantor Pusat PT Pelindo III, Djarwo Surjanto juga melantik struktural Kantor Pusat lainnya yaitu Gugus Widjanarko sebagai Senior Manajer Perencanaan, Sapto Wasono Soebagio sebagai Senior Manajer Akuntansi Manajemen, Dothy sebagai Pjs. Sekretaris Perusahaan, Pengembangan Organisasi dan SDM, Robby Dayoh sebagai Pjs. Senior Manajer Pemeliharaan Fasilitas, Ismartadianto sebagai Pjs. Senior Manajer Teknologi informasi, Warsilan sebagai Pjs. Kepala Biro Pengadaan Barang dan Jasa, Nugroho Dwi Priyohadi menjadi Pjs. Senior Manajer Kesejahteraan dan Kinerja SDM, Andito Sutarto sebagai Pjs. Senior Manajer Umum/Kepala Kantor Pusat.
Nahkoda Baru Pelabuhan Tanjung Perak dan Banjarmasin Nahkoda Pelabuhan Tanjung Perak dan Banjarmasin dipenghujung tahun 2013 ini juga mengalami pergantian, Toto Heli Yanto yang sebelumnya menjabat General Manajer PT Pelindo III Cabang Banjarmasin dilantik menjadi General Manajer PT Pelindo III Cabang Tanjung Perak, sedangkan General Manajer PT Pelindo III Cabang Banjarmasin dipercayakan kepada Hengky Jajang Herasmana yang sebelumnya menjabat sebagai Senior Manajer Akuntansi Manajemen Kantor Pusat PT Pelindo III.
Di sela-sela acara pelantikan tersebut, Edi Priyanto Kepala Humas PT Pelindo III menjelaskan bahwa agenda pelantikan Direksi PT Terminal Teluk Lamong, General Manajer PT Pelindo III Cabang Tanjung Perak dan Banjarmasin serta pejabat struktural lainnya di Kantor Pusat PT Pelindo III adalah sebagai upaya dan kesungguhan manajemen Pelindo III dalam rangka mewujudkan integrasi logistik khususnya pelabuhan merupakan salah satu mata rantainya, dan saat ini Pelindo III telah mulai melakukan rekonfigurasi Pelabuhan Tanjung Perak, sedangkan Tanjung Perak merupakan international hub port yang mulai mengalami shortage capacity, sehingga diperlukan penataan dari unterminal system menjadi terminal system.
“Pelaksanaan rekonfigurasi sejalan dengan pengembangan Terminal Teluk Lamong yang dikembangkan dengan konsep full handling terminal, setelah rekonfigurasi Pelabuhan Tanjung Perak dikerjakan, masih terdapat over cargo untuk petikemas dan curah kering dan dalam rangka menampung limpahan cargo tersebut dibangunlah Terminal Teluk Lamong, Terminal Teluk Lamong Pelabuhan Tanjung Perak pada tahap I akan mulai beroperasi pada awal Mei tahun 2014”, jelas Edi.
Sama halnya dengan penataan atau rekonfigurasi di Pelabuhan Tanjung Perak, Pelabuhan Gresik juga di rekonfigurasi menjadi segmented terminal dan cargo (satu jenis cargo satu terminal), manfaatnya adalah terjadinya peningkatan produktivitas B/M terminal, pada tahun 2014 proyeksi limpahan cargo curah kering batu bara, curah kering non food grain dan kayu log akan dilayani di Pelabuhan Gresik.
Java Integrated Industrial and Port Estate menjadi rangkaian pengembangan konsep The Greater Java Port. Selain untuk menampung arus general cargo setelah hasil rekonfigurasi Tanjung Perak, Pelabuhan Manyar ditargetkan dapat menciptakan pasar baru, karena mengintegrasikan wilayah industri dengan area pelabuhan. Ekspektasi stakeholder akan pengembangan pelabuhan untuk memenuhi kebutuhan industri yang terintegrasi dengan aktivitas kepelabuhanan menjadi dasar pengembangan pelabuhan Manyar.
Pengembangannya akan dilakukan di daerah Manyar Gresik yang berlokasi di sebelah utara pelabuhan Gresik, yang akan menampung limpahan arus barang dari Tanjung Perak dan Terminal Teluk Lamong pada tahun 2015.
Saat ini JIIPE mulai siapkan “Basic Infrastructur” seperti jaringan listrik, air, jalan dan fasilitas dermaga. Dengan konsep integrated industrial dan port estate, didalamnya akan terdapat diantaranya lokasi industri, port and logistic services, kawasan berikat, perumahan dan apartemen, perkantoran, dll.
“Rekonfigurasi Pelabuhan Tanjung Perak, Pengembangan Terminal Teluk Lamong, Rekonfigurasi Pelabuhan Gresik dan Pengembangan Java Integrated Industrial and Port Estate di Pelabuhan Manyar tidak akan berjalan optimal apabila pengembangan Alur Pelayaran Barat Surabaya (APBS) tidak segera diselesaikan, sehingga Pelindo III telah merencanakan untuk melakukan revitalisasi APBS dapat dimulai awal tahun 2014 mendatang”, pungkas Edi. (hd/Logistics)

garuda indo
Garuda Indonesia Tambah Armada, Investasi Rp. 2,5 Triliun
JAKARTA (Logistik): PT Garuda Indonesia (Persero),Tbk realisasikan pengembangan armada sebesar Rp2,5 triliun, dan dana belanja modal perseroan mencapai Rp446 miliar. Biaya tersebut merupakan realisasi penggunaan dana hasil penawaran umum (Initial Public Offering/IPO) sebesar Rp3,02 triliun.
"Total hasil bersih dana IPO Garuda Indonesia sendiri mencapai Rp3,18 triliun," kata Direktur Keuangan PT Garuda Indonesia (Persero), Tbk Handrito Hardjono dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesiadi Jakarta, Senin (13/1/14).
Penggunaan dana IPO untuk pengembangan armada sesuai dengan rencana penggunaan dana menurut prospektus. Sedangkan untuk belanja modal perseroan, dana yang direncanakan sebesar Rp637 miliar. Dengan demikian, sisa dana dari hasil IPO yang disimpan di deposito mencapai Rp171 miliar.
Handrito menambahkan, total dana hasil bersih penawaran umum obligasi berkelanjutan sebesar Rp1,99 triliun. Seluruhnya dipergunakan untuk melakukan pembayaran uang muka pembelian pesawat serta pembayaran sewa pesawat.
Adapun dana yang digunakan untuk pembayaran uang muka pembelian pesawat mencapai Rp1,6 triliun, dan untuk pembayaran sewa pesawat mencapai Rp398 miliar. "Dana hasil penawaran umum obligasi berkelanjutan I, penggunaannya sesuai dengan rencana," pungkasnya.
Disisi lain, sebelumnya PT Garuda Indonesia baru saja mendatangkan pesawat baling-baling (turboprop) pertamanya, yakni ATR72-600. Di mana pada 2013, Garuda berencana mendatangkan dua pesawat ATR72-600.
Pesawat ATR72-600 yang berkapasitas 70 kursi ini mampu terbang hingga 6.400,800 meter di atas permukaan laut. Standar layanan yang diberikan ATR72-600 ini sama dengan Garuda Indonesia, yakni full service (layanan penuh).
Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar menuturkan, pesawat ini nantinya akan melayani kota-kota terpencil di Indonesia. Rencananya pesawat ini mulai beroperasi pada 2 Desember 2013, dengan rute Denpasar-Labuan Baju-Denpasar-Bima.
"Dengan pesawat ini Garuda diharapkan dapat ikut menyumbang pengembangan ekonomi Indonesia di kota-kota kecil karena pertumbuhan ekonomi tidak hanya di kota besar saja," ucap Emir di Jakarta, Senin (25/11/13).
Pengoperasian pesawat turboprop ini lanjut Emir juga sejalan dengan program peningkatan layanan yang dilakukan Garuda, dengan memberikan lebih banyak pilihan destinasi kepada penumpang. "Ini juga seiring langkah Garuda menjadi anggota aliansi global SkyTeam pada bulan Maret 2014," pungkasnya.
Pesawat ATR72-600 dikenal dengan kehandalan, biaya operasional, dan konsumsi bahan bakar yang efisien. Efisiensi bahan bakar ini juga membuat pesawat ini dapat mengurangi dampak pencemaran lingkungan secara signifikan. Pesawat ini memiliki jarak antar kursi (seat pitch) sebesar 30 inci dan juga dilengkapi dengan interior 'Armonia' yang dirancang khusus oleh biro desain Giugaro dari Italia –yang berpengalaman memodifikasi sejumlah mobil sport-, sehingga nyaman bagi penumpang.
Armada jenis pesawat ATR72-600 mulai dipasarkan pada tahun 2010 dan hingga bulan Agustus 2013 setidaknya ada lebih dari 600 pesawat jenis ini yang telah dioperasikan oleh maskapai-maskapai internasional lain, antara lain Iberia, Aer Lingus, Air New Zealand, Jet Airways, LOT, Czech Airlines, dan Malaysia Airline.
Sejalan dengan ekspansi yang terus dilaksanakan perseroan melalui program jangka panjang pada tahun 2013 ini, Garuda Indonesia akan mendatangkan sebanyak 26 pesawat baru untuk mendukung penguatan dan pengembangan jaringan penerbangan nasional maupun internasional, terdiri dari empat B777-300 ER, tiga Airbus A330, 10 B737-800NG, tujuh Bombardier CRJ1000 NextGen, dan dua ATR72-600. (hd/Logistics)

ekspor minerba
Aturan Ekspor Minerba Tanpa Diolah Diperlonggar
DPP HIPPI nilai ada kebohongan publik atas terbitnya PP I/2014
JAKARTA (Logistics): Presiden RI Soesilo Bambang Yudhoyono segera mengeluarkan peraturan tambahan yang mengijinkan perusahaan tambang emas dan tembaga raksasa melanjutkan ekspor mereka seperti biasa.
Secara khusus Pemerintah Indonesia mulai Minggu (12/1/14) mulai melarang ekspor bahan-bahan tambang yang belum diproses, guna meningkatkan industri lokal dan menciptakan lapangan kerja baru.
Meski demikian, kata kantor berita Reuters, karena khawatir larangan ekspor itu akan berdampak besar pada perekonomian Indonesia, Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono segera mengeluarkan peraturan tambahan yang mengizinkan perusahaan tambang emas dan tembaga raksasa seperti Freeport-McMoRan dan Newmont Mining Corporation melanjutkan ekspor mereka seperti biasa.
Menko Ekonomi Hatta Rajasa mengatakan dekrit itu ditanda-tangani oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Sabtu malam (11/1/14). Hatta Rajasa menambahkan sejumlah peraturan akan dikeluarkan oleh kementerian yang terkait dalam pelaksanaan peraturan ini.
Larangan ekspor bahan-bahan mineral ini dikeluarkan berdasarkan Undang-undang pertambangan yang disahkan oleh DPR tahun 2009, yang mengatakan semua biji-bijian mineral harus diproses di pabrik-pabrik peleburan logam di Indonesia mulai 12 Januari 2014.
Sementara itu, Dewan Pimpinan Pusat Himpunan Pemuda Pertambangan Indonesia (DPP HIPPI) merespon negatif langkah Presiden SBY menerbitkan PP No 1 tahun 2014 dan Permen ESDM No 1 tahun 2014 tentang usaha pertambangan mineral yang di tetapkan dan langsung berlaku.
Ketua Umum DPP HIPPI Fadhly Alimin Hasyim menyatakan bahwa sangat aneh terkait penerbitan PP soal minerba ini ketika di tetapkan tanpa sosialisasi dan masyarakat luas tidak pernah di beri peluang melihat, memantau isi peraturan itu sampai sekarang
Lebih jauh Fadhly menerangkan peraturan ini jelas-jelas telah mengkebiri UU Minerba itu sendiri, peraturan ini memberi izin kembali perusahaan asing untuk tetap bisa eksport mineral mentah ke luar negeri
“Pernyataan pemerintah yang di wakili Hatta Rajasa [Menko perekonomian] dan Jero Wacik [Menteri ESDM] bahwa akan menjalankan UU Minerba tanpa pandang bulu, tegas dan nasionalis adalah kebohongan dan dusta belaka. Buktinya pemerintah melindungi kepentingan perusahaan asing di Indonesia,” kata Fadly seperti dikutip dari Siaran Pers yang diterima redaksi Logistik, Januari 2014.
Lebih dalam Fadhly menerangkan sedang terhadap BUMN, BUMD, Perusahaan swasta nasional menengah-kebawah sengaja di bunuh atas nama undang-undang. Syarat-syarat ketat dalam PP No 1 tahun 2014 dan Permen ESDM No 1 tahun 2014 jelas sekali sudah di desain untuk kepentingan asing. Hanya perusahaan kakap yang di perbolehkan eksport mineral mentah ke luar negeri atas syarat pembangunan smelter merupakan aksi tipu- tipu.
Apalagi momentum ini, kata Fadhly, dilakukan menjelang pemilu 2014, yang nota bene partai politik dan kandidatnya membutuhkan dana kampanye. Menurut kami ini adalah perampokan dan pengkhianatan luar biasa yang dilakukan pemerintah R.I dengan berkaloborasi dengan perusahaan asing.“DPP HIPPI akan melakukan upaya hukum untuk melawan ketidak adilan tersebut.” (hd/Logistics)

Program Kerja DPW ALFI/ILFA Propinsi Jawa Timur Tahun 2014
proker alfi1 2014
proker alfi2 2014