Logistics Journal NO. 196 / Mei 2018
cover Mei 2018

 
Editorial - INFRA STRUKTUR
Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar US terus tergerus turun, demikian pula hutang pemerintah terus naik untuk menutup defisit anggaran. Ekonomi mikro juga terpengaruh dengan pergerakan ekonomi makro. Namun dari pihak pemerintah terus memberi keyakinan pada publik, bahwa ekonomi nasional sebenarnya tidak terpengaruh dengan naiknya kurs rupiah terhadap US dollar karena hutang Indonesia tidak dalam bentuk US dollar.
Kenyataan empiris di dunia usaha selalu digambarkan tidak terlalu resah, jika membaca media cetak mainstream. Karena memang sedikit yang terberitakan tentang dinamika dunia pelaku usaha secara umum. Kalaupun tergambar dalam berita dan bingkai photo adalah kesibukan peresmian berbagai proyek infrastruktur yang sudah banyak selesai pengerjaannya. Tentunya banyaknya infra struktur yang selesai, mulai dari jalan toll, pelabuhan dan bandara udara. Maka ada harapan baik bagi sektor logistik. Yaitu pengiriman lebih cepat dan biaya dapat ditekan lebih murah (harapannya). Kecepatan pelayanan dan produktivitas lebih tinggi sehingga akan menekan biaya labuh disetiap dermaga pelabuhan, karena waktu labuh lebih singkat. Panjang landasan dan terminal cargo udara yang lebih luas, maka akan menambah daya tampung volume cargo udara yang akan mampu menggerakkan ekonomi sekitar bandara udara.
Namun jarang ada pemberitaan dibukanya kawasan industri baru di kawasan Sulawesi, Sumatera, Kalimantan, Maluku atau Papua. Yang banyak adalah berita tentang berlomba-lombanya para kepala daerah di kawasan pulau Jawa untuk mendapatkan anugerah di bidang investasi. Sehingga para kepala daerah bersaing ketat dengan daerah lainnya untuk membuka kawasan industri, tidak peduli apakah itu akan mengalih fungsikan lahan pertanian produktif. Karena infra struktur jalan toll sudah melewati daerahnya. Mindset ini unik sekaligus berbahaya untuk kepentingan jangka panjang.
Banyaknya infra struktur pelabuhan dan bandara yang sudah selesai di bangun, seharusnya secara bersamaan juga segera dibangun kawasan yang menopang infra struktur yang sudah tersedia. Karena prinsip “the ship follow the trade” konsekuensinya harus diciptakan di berbagai kawasan perdagangan di nusantara ini. Tidak seperti saat ini, karena tidak meratanya perkembangan kawasan industri yang menopang kawasan perdagangan. Maka yang berlaku adalah prinsip “the trade follow the ship”
Ilustrasi di atas menggambarkan keresahan naiknya kurs dollar tidak terlalu dihiraukan karena kesibukan akan keberhasilan lain sektor yang terus disampaikan ke masyarakat. Semoga tanda-tanda keresahan itu hanya semu saja. Yang benar adalah saat ini sedang menyiapkan dinamika ekonomi baru di masyarakat dengan hadirnya infra struktur yang akan terus banyak diresmikan. Selama bulan puasa ini insyaallah semua keresahan dapat ditahan karena hati dan pikiran sedang fokus untuk menjalankan ibadah. (guslim-Mei18)

IPC Akan Genjot Kargo Ekspor Harapannya Tumbuh 10 %
JAKARTA (LOGISTICS) : PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) atau Indonesia Port Corporation (IPC) bakal menggenjot kargo ekspor sejalan dengan pembukaan pelayaran langsung (direct call) dari Pelabuhan Tanjung Priok. Peningkatan kargo ekspor diharapkan bisa berkontribusi terhadap target pertumbuhan arus peti kemas perseroan sebesar 10% pada 2018.
Direktur Utama IPC, Elvyn G. Masassya mengatakan sejak 2017 Pelabuhan Tanjung Priok sudah melayani direct call ke Amerika Serikat dan Eropa dengan kapal berkapasitas 8.000 TEUs. Kini, Tanjung Priok kedatangan kapal berukuran lebih besar, yakni CMA CGM Tage berukuran 10.000 TEUs, menyusul kapal APL Salalah berkapasitas 10.642 TEUs yang sudah singgah pada 3 Mei 2018 lalu.
Elvyn menuturkan, kehadiran kapal raksasa telah menarik kargo dari luar Jawa untuk singgah di Tanjung Priok sebelum diekspor ke luar negeri. Untuk itu, IPC tengah fokus melakukan konsolidasi kargo dari luar Jawa ke Jakarta. "Kami harapkan Tanjung Priok jadi transhipment port. Jadi kargo dari domestik lebih baik dikumpulkan di sini ketimbang ke Singapura karena bisa lebih murah," jelasnya selepas acara pelepasan ekspor kapal CMA CGM Tage, Selasa (15/5/2018).
Elvyn mengatakan, biaya pengiriman kontainer dengan direct call lebih hemat US$300 per kontainer untuk ukuran 40 kaki dan US$100 untuk ukuran 20 kaki. Selain itu, waktu tempuh mencapai 24 hari, lebih cepat ketimbang pengiriman tanpa direct call yang memakan waktu hingga 32 hari.
Sementara itu, kapal CMA CGM Tage yang berlabuh di Tanjung Priok mencatat bongkar muat 4.290 TEUs. Jumlah tersebut terdiri dari kargo muat 2.385 TEUs dan kargo yang dibongkar sebanyak 1.905 TEUs.
Muatan yang diangkut kapal berbendera Malta itu berasal dari berbagai daerah ; seperti ikan beku dari Bitung ; barang elektronik dari Surabaya ; furnitur dan alas kaki dari Semarang ; karet dan kertas dari Medan ; serta garmen, ban, sepatu dari Bandung dan Jabodetabek.
Elvyn mengungkapkan, perusahaan pelayaran lain juga tertarik untuk memboyong kapal raksasa berkapasitas 14.000 TEUs ke Tanjung Priok. "Kami jajaki dengan yang lain, yang 14.000 TEUs itu rencananya pertengahan Juni akan datang," ujarnya.

Pemerintah Kesulitan Realisasikan Target Ekspor
Pemerintah diyakini bakal kesulitan merealisasikan target pertumbuhan ekspor sebesar 11% pada tahun ini, setelah melihat tren penurunan permintaan terhadap sejumlah komoditas andalan Indonesia.
Kementerian Perdagangan telah menargetkan performa ekspor (migas dan nonmigas) tahun ini mampu mencapai US$188,7 miliar, naik dari realisasi senilai US$169,0 miliar pada tahun lalu. Sejauh ini, ekspor secara kumulatif pada tahun ini baru mencapai US$58,74 miliar.
Ekonom Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia Mohammad Faisal berpendapat meskipun pada kuartal I/2018 defisit neraca perdagangan RI masih di bawah kendali, pada kuartal II/2018 potensi pelebaran defisit akan semakin menguat.
“Selain karena kenaikan impor konsumsi jelang Ramadan, ekspor manufaktur juga bakal mengalami perlambatan. Di sisi lain, Indonesia masih bergantung pada ekspor komoditas dasar seperti CPO dan batu bara,” ujarnya kepada Bisnis.com.
Permasalahannya, lanjut Faisal, kedua komoditas tersebut mengalami tekanan permintaan akibat berbagai hambatan, mulai dari isu lingkungan hingga rencana pelarangan biodiesel berbahan minyak sawit dan pengenaan bea masuk CPO oleh Amerika Serikat dan India.
Badan Pusat Statistik (BPS) mendata ekspor batu bara April hanya US$1,87 miliar, turun dari capaian US$2,29 miliar bulan sebelumnya. Ekspor CPO turun dari US$1,70 miliar menjadi US$1,62 miliar, ekspor perhiasan dan permata turun dari US$594 juta menjadi US$522 juta, dan ekspor besi dan baja turun dari US$532 juta menjadi US$364 juta.
“Di sisi lin, [ekspor produk] manufaktur [yang seharusnya] menggantikan ekspor komoditas belum terlalu kuat. Itulah mengapa kami pesimistis target ekspor 11% bisa tercapai. Apalagi, jika melihat performa [ekspor] pada April yang pertumbuhannya malah negatif,” tuturnya.
Nilai ekspor April 2018 hanya menyentuh US$14,47 miliar, anjlok 7,19% dari bulan sebelumnya. Meskipun demikian, secara year on year, nilai tersebut masih lebih tinggi dari capaian bulan yang sama tahun lalu yaitu US$13,27 miliar.
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira juga menilai pemerintah akan sangat kesulitan merealisasikan target ekspor 11%. Sebab, selain permintaan CPO dan batu bara turun, produk alas kaki dan tekstil Indonesia mulai dikalahkan oleh ekspor produk manufaktur Vietnam selama lima tahun terakhir.
Dia menilai salah satu cara yang paling efektif untuk mendongkrak performa ekspor pada tahun ini adalah dengan melakukan diplomasi intensif dengan negara-negara mitra untuk menganulir hambatan dagang agar iklim perdagangan global lebih kondusif.
Selain itu, pemerintah harus lebih gencar menjajaki pasar ekspor nontradisional untuk menangkal dampak perang dagang antara China dan AS. “Dua kawasan yang potensial untuk dijadikan pasar [ekspor] baru adalah Amerika Latin dan Afrika.”
Dari sisi industri, kata Bhima, pemerintah harus serius dengan program penghiliran agar pasar dalam negeri tidak selamanya kecanduan produk impor. Upaya penghiliran harus mengerucut pada produk-produk bernilai tambah.
Dia menambahkan strategi jangka pendek yang dapat dilakukan pemerintah untuk memapah kinerja ekspor yang semakin loyo adalah memberikan insentif fiskal dan nonfiskal seperti tax holiday, khususnya untu produk industri berorientasi ekspor.
“Proses distribusi di pelabuhan juga harus lebih efisien untuk memangkas dwelling time. Pemerintah harus melakukan itu semua dalam waktu dekat karena pemilu sudah semakin dekat. Dikhawatirkan, nanti mereka akan kurang fokus [meningkatkan ekspor],” tegasnya.
Dihubungi terpisah, Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan (BP3) Kementerian Perdagangan Kasan Muhri tetap optimistis target pertumbuhan ekspor 11% pada tahun ini bisa direalisasikan.
Toh, defisit neraca perdagangan April 2018 lebih dikarenakan defisit migas senilai US$1,1 miliar, sedangkan nonmigas hanya US$0,5 miliar. Dia juga mengatakan secara volume, ekspor April naik 11,9% dari periode yang sama tahun lalu.
“Artinya kenaikan ekspor secara riil dari sisi volume lebih besar dibandingkan dengan pengaruh tekanan harga komoditas,” ujarnya. Menurutnya, kenaikan volume ekspor nonmigas itu merupakan refleksi masih kuatnya permintaan terhadap komoditas.
“Jika mengacu pada capaian [ekspor pada] empat bulan pertama [2018] dan perkiraan ekonomi global serta harga komoditas yang mulai membaik pada Juni—ditambah dengan dukungan ekonomi nasional—kami yakin dalam sisa waktu delapan bulan ke depan tren peningkatan ekspor diperkirakan masih akan berlanjut.”
Selama ini, klaim Kasan, pemerintah telah berjuang mencapai target ekspor seperti melalui promosi dan misi dagang, penanganan hambatan nontarif, pembukaan akses pasar via kerja sama perdagangan, dan pendekatan diplomasi perdagangan bilateral dengan mitra dagangan utama dan tradisional.

Jokowi Lepas Kapal Petikemas Raksasa Jakarta - Los Angeles
Empat menteri Kabinet Kerja mendampingi Presiden Joko Widodo saat pelepasan ekspor kontainer rute langsung Jakarta-Los Angeles dan peninjauan infrastruktur pelabuhan di dermaga Jakarta International Container Terminal (JICT) Tanjung Priok Selasa (15/5/2018).
Keempat menteri yang mendampingi Presiden Jokowi itu adalah Menteri BUMN Rini Sumarno, Menteri Perindustrian Erlangga Hartarto, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukito, dan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi.
Pelepasan ekspor itu dilakukan menggunakan kapal kontener ukuran raksasa berkapasitas 10.000 twenty foot equivalent units (TEUs). Kapal itu adalah CMA CGM Tage yang melayani rute langsung (direct call) rute Tanjung Priok Jakarta-Los Angeles, Amerika Serikat.
Direktur Utama Pelindo II, Elvyn G. Masassya mengatakan kehadiran kapal-kapal besar ke Tanjung Priok itu menunjukkan perseroan siap mengelola pelabuhan bongkar muat terbesar di Indonesia itu.
"Didukung dengan IT sistem dan peralatan modern yang ada, kami bekerja seefektif dan seefisien mungkin mendukung peningkatan ekspor,” ujar Elvyn melalui siaran pers-nya, saat pelepasan ekspor itu.
Elvyn juga mengatakan, bahwa RI sudah berada dijalur yang tepat untuk menjadi poros maritim dunia.
Wakil Dirut JICT Riza Erivan mengatakan untuk pengapalan ekspor kali ini memuat sebanyak 4000-an
Pengoperasian JICT saat ini dikelola melalui kepemilikan saham oleh PT.Pelabuhan Indonesia II/IPC dan Hutchison Port Indonesia (HPI). (Logistics/bisnis.com/hd)

Tekan Biaya Logistic Perlu Bangun Konektivitas Industri
JAKARTA (LOGISTICS) : Pemerintah diminta menekan biaya logistik yang terlalu tinggi di antaranya dengan membangun konektivitas industri, selain memberangus pungutan liar dan membangun infrastruktur.
"Pungli masih banyak seperti dikeluhkan sopir truk. Kemudian dampak infrastruktur ternyata hanya menurunkan biaya logistik 2,5%," kata ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira pada Rabu (16/5/2018).
Dia menjelaskan meski pemerintah gencar membangun infrastruktur, yang perlu difokuskan adalah membangun konektivitas industri.
Ini bisa dilihat dengan masifnya pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung atau kereta ringan yang tidak berkaitan dengan logistik barang.
Bhima juga memandang masalah birokrasi masih tetap perlu dibenahi. Dia melihat masalah waktu masuk barang impor ke pelabuhan masih berbelit-belit. Terakhir perlu ada evaluasi tim Saber Pungli. "Kalau sudah ada Satgas, kenapa pungli masih banyak?”
Berdasarkan catatan Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI), biaya logistik Indonesia pada 2014 sebesar 25,7% dari produksi atau nilai barang. Tahun ini diprediksi turun menjadi 22,1% dan tahun depan ke angka 21%.
Sementara, dibandingkan dengan negara Asean lainnya, Indonesia masih jauh tertinggal. Pada 2014 biaya logistik Thailand 13,2%, Myanmar 13%, Singapura 8,1%, dan Vietnam 25%.
Meski Vietnam hampir sama dengan Indonesia, nilai ekspor mereka meningkat dua kali lipat pada tahun yang sama dan diprediksi tahun ini berada di bawah 15%.

Pemerintah Diminta Menghitung Ulang Biaya Logistic 2018
Pemerintah akan menghitung ulang biaya logistik tahun ini. Jika sebelumnya berdasarkan produk domestik bruto (PDB), tahun ini dipertimbangkan juga faktor lain.
Asisten Deputi Pengembangan Logistik Nasional Kementerian Koordinator bidang Perekonomian Erwin Raza mengatakan perhitungan dalam PDB tetap diperlukan sebagai komparasi dengan negara lain.
"Namun, perlu dilengkapi dengan pengukuran lain seperti berdasarkan cost of sale (CoS) perusahaan-perusahaan industri manufaktur di setiap daerah. Tidak hanya perusahaan besar, tetapi juga UKM," ungkapnya kepada Bisnis pada Rabu (16/5/2018).
Pengukuran dengan faktor lain dirasa perlu agar lebih dapat menggambarkan kondisi sebenarnya kinerja logistik Indonesia baik berdasarkan industrinya, daerah, atau kotanya.
Erwin menjelaskan perhitungan tersebut tidak sekadar menghasilkan angka, tetapi dapat menjadi acuan dalam pembuatan kebijakan untuk perbaikan kinerja logistik nasional di masa datang.
Terakhir kali biaya logistik diteliti pada 2014. Selama 4 tahun, pelaku usaha dan pemerintah hanya menerka-nerka berapa jumlah beban pengiriman barang. Sementara, dalam rencana pemerintah jangka menengah nasional 2015-2019 ditargetkan biaya logistik bisa turun 5% per tahun.
"Jadi, kita harus hitung. Orang selalu bilang 25%, ada juga 26%. Kita mau hitung ulang lagi. Harusnya minimal 2 tahun sekali sehingga kita tahu pengurangan dan kinerja pemerintah," tutur Erwin.

Industri Masih Kesulitan Tenaga Terampil Bidang Logistic
Masih sedikitnya lulusan khusus logistik membuat perusahaan kesulitan memiliki pekerja yang ahli di bidang rantai pasok.
Direktur Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Iman Gandhi mengatakan jurusan tersebut masih bisa dihitung jari. Masalah ditambah ketika saat kuliah, para mahasiswa hanya mempelajari ilmu teori, tidak sampai level teknis.
"Perusahaan butuh kemampuan karyawan baru yang bisa langsung pakai tanpa harus diberikan pemahaman lebih dalam," katanya kepada Bisnis hari ini Selasa (15/5/2018).
Iman menjelaskan minimal para pekerja mengerti pemahaman dasar mengenai rantai pasok karena banyak perusahaan kecil tidak memiliki dana untuk mengadakan pendalaman profesi.
Faktor lain penyebab jurusan logistik kecil adalah peminatnya masih sedikit. Menurut Iman kebanyakan pelaku logistik tidak pernah berpikir akan menggeluti pekerjaan ini.
Akan tetapi dalam waktu dekat profesi logistik akan meninggkat melihat profesi tersebut sedang naik daun seiring tumbuhnya dagang elektronik.
Selain butuh karyawan yang siap kerja, industri logistik juga membutuhkan spesialisasi keahlian di bidang tersebut dalam waktu lima tahun.
Dia mencontohkan keahlian dalam mengurus pengiriman logistik ke perusahaan atau pelanggan individu memiliki tindakan berbeda-beda.
Catatan Supply Chain Indonesia pada 2017, hanya ada empat perguruan tinggi yang memiliki program studi logistik. (Logistics/bisnis.com/hd)

IPC dan Semen Indonesia Jalin Kerjasama Pemanfaatan Lahan dan Jasa Kepelabuhanan
JAKARTA (LOGISTICS): PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) atau Indonesia Port Corporation (IPC) menjalin kerja sama dengan PT Semen Indonesia Tbk (Persero) untuk pemanfaatan lahan dan jasa kepelabuhan
Kerja sama itu tertuang dalam nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) yang diteken di Jakarta pada Rabu (17/5/2018) oleh Direktur Utama IPC Elvyn G. Masassya dan Direktur Semen Indonesia Hendi Priyo Santoso.
MoU mencakup pemanfaatan produk semen dan nonsemen PT Semen Indonesia dan afiliasinya dalam pengembangan pelabuhan di wilayah kerja IPC. Kerja sama juga termasuk kegiatan Semen Indonesia Logistik dalam hal bongkar muat produk semen dan/atau nonsemen.
IPC juga akan melayani pelayanan pemanduan, penundaan kapal, dan pelayanan barang di Terminal Khusus (Tersus)/TUKS Semen Indonesia dan afiliasinya.
Elvyn mengemukakan kerja sama dengan Semen Indonesia bertujuan membangun kemitraan dan sinergi antar-BUMN. Kongsi itu dinilai bakal menguntungkan masing-masing pihak dengan bersandar pada tata kelola yang baik.
“Semen lndonesia dan IPC memiliki kemampuan dan fungsi yang dapat ditingkatkan dan karenanya kami berharap dapat meningkatkan potensi yang dimiliki kedua belah pihak," ujar Elvyn dalam siaran pers.
Untuk diketahui, IPC mengelola 12 pelabuhan, termasuk Tanjung Priok yang menjadi pelabuhan terbesar di Indonesia. IPC juga memiliki 17 anak usaha, termasuk PT Jasa Armada Indonesia Tbk yang bergerak di usaha pemanduan dan penundaan kapal.

Kapal Petikemas Raksasa/CMA CGM Tage Siap Layani Angkutan Jakarta - Los Angeles
Pelabuhan Tanjung Priok kembali kedatangan kapal kontainer raksasa yang bisa menampung 10.000 TEUs (twenty-foot equivalent unit). Kapal berukuran besar diharapkan bisa menekan biaya pengiriman kontainer sekaligus meningkatkan daya saing produk ekspor nasional.
Berdasarkan pantauan Bisnis di Pelabuhan Tanjung Priok, kapal besar yang tengah bersandar bernana CMA CGM Tage. Kapal berbendera Malta ini akan mengangkut muatan dari Jakarta menuju Los Angeles, Amerika Serikat.
Rencananya, Presiden Joko Widodo akan meninjau infrastruktur pelabuhan sekaligus pelepasan ekspor yang diangkut kapal CMA CGM Tage. Untuk diketahui, kapal ini merupakan salah satu kapal yang rutin melayani direct call atau pelayaran langsung Jakarta-Los Angeles.
Direktur Utama Pelindo II, Elvyn G. Masassya mengatakan kehadiran kapal-kapal besar ke Tanjung Priok menunjukkan perseroan siap mengelola pelabuhan bongkar muat terbesar di Indonesia itu.
"Didukung dengan IT System dan peralatan modern yang ada, kami bekerja seefektif dan seefisien mungkin mendukung peningkatan ekspor,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (15/5/2018).
Selain kapal CMA CGM Tage, beberapa kapal besar (mother vessel) juga akan rutin berlabuh di Tanjung Priok, seperti generasi Post Panamax APL Salalah dan Vessel Pelleas.
Kapal APL Salalah singgah perdana pada 3 Mei 2018 lalu di terminal Jakarta International Container Terminal (JICT) dengan membongkat 1.666 TEUs dan memuat 2.818 TEUs. Walhasil, total bongkar muat dari kapal tersebut mencapai 4.484 TEUs dalam pelayaran perdananya ke Indonesia
Elvyn menuturkan, kapal-kapal ukuran raksasa tersebut menawarkan layanan angkutan barang yang lebih kompetitif dan waktu pengiriman lebih cepat sehingga berpotensi meningkatkan daya saing produk-produk ekspor Indonesia, khususnya di Amerika Serikat.
Sebelumnya, Presiden Direktur CMA-CGM Indonesia Farid Belbouab, mengatakan permintaan pengguna jasa untuk rute JAX Services terus bertumbuh sehingga pihaknya mendatangkan kapal yang lebih besar. Rute ini resmi dibuka pada April 2017 lalu.
"Kami mulai dengan kapal 8.000 TEUs sejak tahun lalu dan hasilnya sangat sukses. Secara bertahap kami membawa kapal yang lebih besar, 9.000 TEUs lalu 10.000 TEUs, bahkan mendekati 11.000 TEUs," jelasnya.

Arus Petikemas 2017 tumbuh 7,89% capai 14,92 juta TEUs
Kementerian Perhubungan melansir statisik arus peti kemas di pelabuhan-pelabuhan yang dikelola empat BUMN kepelabuhan, PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo I-IV).
Pada 2017, arus peti kemas tercatat tumbuh 7,89%, tertinggi sejak 2013 sekaligus melampaui pertumbuhan rerata dalam 4 tahun terakhir.
Data Statisik Perhubungan yang dikutip pada Kamis (17/5/2018) menunjukkan total arus peti kemas yang dicatat Pelindo I, Pelindo II, Pelindo III, dan Pelindo IV mencapai 14,92 juta TEUs (twenty-foot equivalent unit).
Pelindo II mencetak arus peti kemas terbesar yakni 6,91 juta TEUs, disusul Pelindo III (4,91 juta TEUs), Pelindo IV (1,94 juta TEUs), dan Pelindo I (1,14 juta TEUs).
Selain mencatat arus peti kemas terbanyak, Pelindo II juga mencetak pertumbuhan tertinggi, yakni 11,15%. Pertumbuhan tersebut diikuti Pelindo III yang mencatat pertumbuhan arus peti kemas 6,68% dan Pelindo IV sebesar 5,12%. Sementara itu, Pelindo I mencatat koreksi sebesar -0,43%.
Secara umum, pertumbuhan arus peti kemas pada 2017 lebih tinggi dibandingkan dengan kinerja tiga tahun sebelumnya yang tidak pernah tumbuh di atas 5%. Di 2015, arus peti kemas malah turun 5,32%.
Sementara itu, pada 2014, arus peti kemas hanya tumbuh 1,48%. Secara merata, pertumbuhan arus peti kemas dalam periode 20133-2017 mencapai 2,39%.
Tahun ini, BUMN kepelabuhan optimistis bisa melanjutkan tren pertumbuhan arus peti kemas.
Direktur Utama Pelindo II Elvyn G. Masassya mengatakan tahun ini perseroan membidik pertumbuhan sekitar 10%. Dia mengutarakan perseroan terus berupaya mendatangkan kapal besar untuk menggenjot arus peti kemas, terutama kargo ekspor.
Sejak April 2017, Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta yang dikelola Pelindo II sudah melayani direct call ke Amerika Serikat dan Eropa dengan kapal berkapasitas 8.000 TEUs.
Kini, Tanjung Priok kedatangan kapal berukuran lebih besar, yakni CMA CGM Tage berukuran 10.000 TEUs, menyusul kapal APL Salalah berkapasitas 10.642 TEUs yang sudah singgah pada 3 Mei 2018 lalu.
Elvyn mengungkapkan perusahaan pelayaran lain juga tertarik untuk memboyong kapal raksasa berkapasitas 14.000 TEUs ke Tanjung Priok. "Kami jajaki dengan yang lain, yang 14.000 TEUs itu rencananya pertengahan Juni datang," ucapnya.

OP Tanjung Priok Imbau Semua Instansi Untuk Tingkatkan Pengamanan
Kantor Otoritas Pelabuhan Utama Tanjung Priok Jakarta mengimbau kepada seluruh instansi terkait, terminal operator serta stakeholders untuk meningkatkan pengawasan dan penjagaan dalam rangka pengamanan objek vital diwilayah kerja pelabuhan tersibuk di Indonesia itu.
Hal itu disampaikan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Kantor Otoritas Pelabuhan Tanjung Priok, Lollan Panjaitan melalui Surat Edaran nomor: UM/14/10/OP.TPK-2018, yang diterbitkan pada 15 Mei 2018.
Himbauan itu, dalam rangka menjamin ketertiban umum, keselamatan dan keamanan pelayaran serta kelancaran kegiatan operasional kepelabuhanan di wilayah kerja pelabuhan Tanjung Priok sebagai objek vital nasional mengingat kejadian ledakan bom dan aksi terorisme akhir-akhir ini.
Dalam Surat Edaran tersebut, Kantor OP Tanjung Priok menekankan tiga aspek yang mesti dilaksanakan di pelabuhan Priok untuk menjamin kelangsungan kegiatan layanan jasa kepelabuhan dan angkutan laut di Priok.
Pertama, agar semua stakeholder meningkatkan koordinasi dengan seluruh instansi terkait pengamanan khususnya Polri dan TNI untuk merumuskan langkah-langkah antisipatif pencegahan dan penanggulangan ancaman dan gangguan keamanan diwilayah kerja pelabuhan Priok.
Kedua, agar tidak memberikan izin kegiatan yang berpotensi menimbulkan gangguan keamanan dilingkungan pelabuhan guna menjaga kelangsungan kegiatan di wilayah pelabuhan Priok.
Ketiga, memastikan kepada port facility security officer (PFSO) bahwa security management system di wilayah kerja pelabuhan Priok berfungsi dengan baik.
Sekjen Indonesia Maritime Logistic & Transportation Watch (IMLOW) Achmad Ridwan Tento, mengatakan, semua stakeholder mesti mematuhi dan menjalankan himbauan sesuai dengan SE Kantor OP Tanjung Priok itu.
“Pelabuhan dan Bandar Udara merupakan objek vital kegiatan perekonomian suatu negara, oleh karenanya perlu dijamin kemanan dan kenyamanannya dari gangguan maupun ancaman terorisme," ujar Ridwan kepada Bisnis hari iniRabu (16/5/2018). (Logistics/bisnis.com/hd)

Peluang Ekspor Sarang Wallet RI ke Cina Meningkat
JAKARTA (LOGISTICS) : Peluang ekspor sarang burung wallet Indonesia ke China semakin besar dengan diadakannya seminar perdana untuk komoditas tersebut yang bertajuk 1st China Bird's Nest Industrial Summit.
Seminar tersebut diselenggarakan di Xiamen, RRT, pada tanggal 18 Mei 2018 yang disponsori oleh Yan Palace sebuah perusahaan importie sarang burung walet terbesar di Tiongkok khususnya dalam hal market share dan volume perdagangan.
Selain itu, Yan Palace juga importer utama bagi produk sarang burung walet Indonesia.
Duta Besar Republik Indonesia untuk China, Djauhari Oratmangun menyampaikan bahwa Indonesia sudah menjalin perdagangan luar negeri pada abad ke-17, untuk komoditas sarang burung walet yang mulai berkembang di Tiongkok saat dinasti Ming.
“Sarang burung walet, Caviar of the East, telah dikenal sejak abad ke-15 dimulai dari petani kecil di kawasan yang kini dikenal sebagai Jawa Timur dan Kalimantan Timur. Sejak saat itu, khususnya pada abad ke-17, perdagangan sarang burung walet mulai berkembang dan semakin banyak pedagang Tiongkok dari dinasti Ming mulai mencari dan memperdagangkan sarang burung walet atau 'yan wo' dengan produk-produk lainnya seperti porselen, sutra, dan obat-obatan tradisional,” katanya pada Jumat (18/5).
Djauhari menambahkan ekspor produk sarang burung walet menjadi salah satu pembahasan dalam pertemuan Presiden RI Joko Widodo dan Perdana Menteri RRT Li Keqiang dalam kunjungannya awal bulan Mei 2018 yang lalu.
Menurutnya, dengan kedekatan perdagangan sarang burung wallet antara Indonesia dan China hal ini bisa membuka peluang dalam menghadapi ekonomi masa depan. China diproyeksikan dapat tumbuh sebagai ekonomi nomor satu di dunia dan Indonesia sebagai ekonomi terbesar ke-5 di dunia.
“Indonesia, RRT, dan ASEAN akan menjadi pemain utama dalam pertumbuhan ekonomi global, dan hal ini dimulai dari hal kecil dengan meningkatkan perdagangan kedua negara, khususnya sarang burung walet yang merupakan komoditas strategis perdagangan Indonesia-Tiongkok,” katanya.
China mulai membuka ekspor langsung sarang burung walet Indonesia ke pada tahun 2015. Selama tiga tahun belakangan nilai perdagangan produk tersebut terus meningkat dari tahun ke tahun.
Pada 2015, pengekspor sarang burung walet asal Indonesia mengirimkan 14 ton ke China. Lalu meningkat menjadi 26 ton pada tahun 2016 dan 52 ton pada tahun 2017. Sementara harganya tergantung kualitas barang tapi berada di kisaran USD1.500-2.000.
Perkumpulan Pengusaha Sarang Burung Indonesia (PPBSI) optimistis industri sarang burung berpotensi untuk terus tumbuh dan bisa berkontribusi terhadap pendapatan negara. Apalagi harga sarang burung dunia dijual cukup mahal yakni dikisaran USD1.500-2.000.
Sampai dengan tahun 2017, sarang walet Indonesia menguasai sekitar 70% pasar China bila dibandingkan dengan Malaysia dan Thailand.
Pada tahun 2017, nilai ekspor sarang burung walet ke Tiongkok mencapai 102,8 juta USD. Hingga April 2018, tercatat sebanyak 17 eksportir Indonesia telah tersertifikasi untuk dapat melakukan ekspor langsung ke Tiongkok.
Ekspor komoditas sarang burung wallet ke China kian menunjukkan tren yang positif.
Berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), Kamis (17/5), angka kenaikan nilai ekspor komoditas pertanian mencapai 298,5 juta USD atau tumbuh 6,11 persen (month to month) dan 7,38 persen (year on year).
Secara detil, komoditas pertanian yang meningkat month to month adalah jagung dan biji kakao. Sedangkan komoditas pertanian yang melonjak year on year yaitu getah karet dan sarang burung walet.
Adapun dalam catatan BPS pada periode pertama 2018 yaitu Januari – April, China menjadi sasaran utama sebagai negara tujuan ekspor non-migas. Total ekspor China selama periode tersebut adalah US$8,16 milliar atau setara dengan 15,2% kegiatan ekspor Indonesia.
Anggota Komisi IV DPR Rahmat N Hamka mengatakan,sSektor agraris merupakan potensi dasar yang cukup besar dan potensial seperti perkebunan, holtikultura dan tanaman hutan lainnya.
Rahmat merasa optimis jika ke depan semakin banyak sektor agraris lain yang diseriusi, maka angka ekspor komoditas pertanian Indonesia bakal semakin melonjak.
Dengan data yang menunjukkan hasil peningkatan ekspor, Rahmat berpendapat, komoditas pertanian dapat berkontribusi penting untuk dukungan pertumbuhan perekonomian Indonesia.
"Kontribusi untuk perekonomian bisa menjadi tumpuan dasar. Sebab pertanian ini kan sifatnya merata, bukan golongan tertentu saja. Artinya semua kalangan masyarakat bisa mengelola,” katanya.
Sementara itu, wilayah seperti Sumatra, Kalimantan hingga Sulawesi berpotensi sebagai daerah penghasil sarang burung walet.
Sejauh ini pun daerah-daerah di wilayah tersebut yang selama ini menghasilkan sarang burung walet terbesar.
Sementara untuk pulau Jawa, meskipun sempat menjadi daerah dengan produksi terbesar namun saat ini terus menunjukan penurunan. Papua, menurut Perkumpulan Pengusaha Sarang Burung Indonesia (PPBSI), tapi belum ada pengembangan karena satu dan lain hal.

PPBSI Sebut Sejumlah Daerah Potensial Penghasil Sarang Burung Wallet
Perkumpulan Pengusaha Sarang Burung Indonesia (PPBSI) menilai beberapa wilayah di Indonesia potensial untuk dijadikan sentra penghasil sarang burung walet.
Ketua Umum Perkumpulan Pengusaha Sarang Burung Indonesia (PPBSI) Boedi Mranata mengatakan wilayah seperti Sumatra, Kalimantan hingga Sulawesi berpotensi sebagai daerah penghasil sarang burung walet. Menurutnya, daerah-daerah di wilayah tersebut pun selama ini menjadi penghasil sarang burung walet terbesar.
Sementara untuk Jawa, meskipun sempat menjadi daerah dengan produksi terbesar tapi saat ini terus menunjukan penurunan. Papua juga dipandang potensial, tapi belum ada pengembangan karena satu dan lain hal.
"Kalau produksi sarang walet dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi menjadi pusatnya. Jawa dulu ada tapi sekarang ekosistemnya sudah rusak hingga turun," terang Boedi, Jumat (2/3/2018).
Boedi menyatakan potensi sarang burung walet sebagai komoditas ekspor non migas pun terbuka lebar. Apalagi, Pemerintah China kini terbuka untuk melakukan ekspor langsung setelah sebelumnya harus melewati negara ketiga seperti Hong Kong dan Vietnam.
"Sejak sarang burung walet terbukti memiliki kandungan 10% sialic acid pada 2015, konsumsi burung walet menjadi booming," paparnya.
Telur ataupun daging pun memiliki zat serupa, tapi sarang burung walet memiliki kandungan tertinggi dengan nilai 10%. Sementara itu, kandungan yang dimiliki komoditas lain tidak lebih dari 1%.
Alhasil, tren tersebut ikut mendongkrak ekspor sarang burung walet indonesia ke China tiap tahunnya. Pada 2015, pengekspor sarang burung walet asal Indonesia mengirimkan dari 14 ton komoditas ini ke Negeri Panda.
Jumlahnya meningkat menjadi 26 ton pada 2016 dan 52 ton pada 2017.
"Nilai ekspor ke China itu US$87,4 juta atau setara Rp1,18 triliun. Sementara itu, harganya tergantung kualitas barang tapi berada di kisaran US$1.500-US$2.000," sebut Boedi.
Menurutnya, industri sarang burung berpotensi untuk terus tumbuh dan bisa berkontribusi terhadap pendapatan negara. Apalagi, harga sarang burung dunia pun dijual cukup mahal. (Logistics/bisnis.com/hd)

Presiden RI Akan Resmikan KA Bandara Minangkabau
Presiden Joko Widodo didampingi Ibu Negara Iriana Joko Widodo akan meresmikan pengoperasian kereta api (KA) Bandara Internasional Minangkabau, Provinsi Sumatra Barat (Sumbar).
Melalui Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma Jakarta, Kepala Negara beserta rombongan bertolak menuju Sumbar dengan menggunakan Pesawat Kepresidenan Indonesia-1 pada Senin (21/5/2018) pukul 07.50 WIB, seperti dikutip dari keterangan resmi.
Tiba di Bandara Internasional Minangkabau, Kabupaten Padang Pariaman pukul 09.15 WIB, Presiden dan Ibu Iriana disambut Gubernur Sumbar Irwan Prayitno, Pangdam I/Bukit Barisan Mayjen TNI Ibnu Triwidodo, dan Kapolda Sumbar Irjen Pol Fakhrizal.
Dari Ruang Tunggu Utama Bandara, Presiden dan Ibu Iriana bersama rombongan akan menuju tempat acara peresmian KA bandara tersebut dengan menggunakan kendaraan minibus.
Menurut Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden Bey Machmudin, Jokowi juga akan mencoba langsung kereta api yang diberi nama KA Minangkabau Ekspres tersebut untuk menuju Padang.
Setibanya di Padang, Presiden dijadwalkan meresmikan gedung sekolah SMP, SMA, dan rumah susun yang ada di Pondok Pesantren Modern Prof. Dr. Hamka II. Sore harinya, Presiden beserta rombongan dijadwalkan kembali ke Jakarta.
Turut menyertai Presiden dan Ibu Iriana, di antaranya adalah Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Sofyan Djalil, dan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Archandra Tahar. (Logistics/bisnis.com/hd)

Pelindo III Siapkan 14.009 Tiket Gratis Bagi Pemudik 2018
SURABAYA (LOGISTICS) : PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) menyediakan 14.009 tiket gratis bagi pemudik yang berminat menggunakan angkutan laut tahun ini. Perseroan membuka pendaftaran hingga 12 Juni 2018 mendatang bagi masyarakat yang tertarik.
Direktur Utama Pelindo III, Ari Ashkara mengatakan kuota tiket gratis tahun ini dua kali lebih banyak dibandingkan kuota pada tahun lalu sebesar 6.000 tiket. Dia menuturkan program mudik gratis merupakan representasi kepedulian negara dalam memberikan rasa nyaman dan kemudahan dalam pelaksanaan mudik.
“Tahun lalu, antusiasme pemudik kapal laut cukup tinggi dalam memanfaatkan program mudik gratis yang kami sediakan. Okupansinya bahkan mendekati 100 persen,” ujarnya dalam siaran pers, Sabtu (19/5/2018).
Dalam program mudik gratis tahun ini, Pelindo III bekerja sama dengan PT Pelni selaku penyedia moda transportasi laut dan Perum Damri yang menyediakan angkutan darat.
Ari merinci, sebanyak 1.700 tiket disiapkan untuk pemudik yang menumpang kapal laut berangkat dariPelabuhan Kumai atau Pelabuhan Sampit dengan tujuan Semarang dan Surabaya. Sementara itu, 12.300 tiket lainnya dibagikan kepada penumpang kapal laut yang tiba di Pelabuhan Tanjung Perak dan Pelabuhan Tanjung Emas dan hendak meneruskan perjalanan ke sejumlah kota di Jawa Timur dan Jawa Tengah.
“Kami menyediakan 260 trip mudik gratis melalui bis. Rinciannya adalah 150 trip diberangkatkan dari Pelabuhan Tanjung Perak dan 110 trip dari Pelabuhan Tanjung Emas,” kata Corporate Secretary Pelindo III Faruq Hidayat.
Bersama Perum Damri, Pelindo III mengerahkan 15 armada bis di Pelabuhan Tanjung Perak dan 10 armada bis di Pelabuhan Tanjung Emas.
Dari Pelabuhan Tanjung Perak, ke-15 bis tersebut akan berangkat menuju lima kota yang merupakan tujuan akhir, yaitu: Jember, Madiun, Trenggalek, Cepu, dan Blitar. Sementara untuk sepuluh bis dari Pelabuhan Tanjung Emas, akan bertolak menuju 7 kota tujuan akhir, yaitu: Yogyakarta, Rembang, Wonosobo, Purworejo, Solo, Purwodadi, dan Tegal.
Hingga hari Kamis (17/05/2018), Pelindo III menerima 1.540 pendaftar mudik gratis menggunakan kapal laut. Untuk peserta mudik gratis menggunakan bis, Pelindo III telah menjaring sebanyak 1.514 pemudik. Artinya, kuota penumpang bis masih tersedia cukup banyak. (Logistics/bisnis.com/hd)