Logistics Journal No. 194 / Maret 2018
 
cover maret 2018
 

Editorial - Prosedur VS Biaya
Di dunia layanan jasa dapat dipastikan setiap bentuk prosedur akan menimbulkan biaya. Perubahan prosedur bisa mengurangi biaya dapat pula menambah biaya. Setiap prosedur selalu dipastikan dapat dan harus dipahami oleh pelaksana prosedur.
SOP atau Sistim Operasional Prosedur hampir di semua kegiatan didalam organisasi, swasta ataupun pemerintah selalu ada dan dipastikan menjadi dasar langkah-langkah teknis siapa berbuat apa, mengapa harus berbuat dan sanksi apa jika tidak melaksanakan SOP. Karena SOP bisa dibuat berdasarkan kebijakan manajemen, peraturan perusahaan bahkan yang paling tinggi berbentuk peraturan pemerintah, perundang-undangan.
PMK 229 adalah sebuah peraturan yang pada hakikatnya adalah SOP mengatur tata cara dalam memenuhi Surat Keterangan Asli (SKA). Dalam beberapa minggu belakangan ini telah menjadi kendala dalam pengurusan custom clearence yang membuat PPJK resah. Karena persoalan ini muncul menimbulkan biaya yang membebani keuangan PPJK. Pihak pemilik barang tidak mau tahu biaya yang timbul yang disebabkan oleh keterlambatan penyerahan SKA. Keterlambatan tersebut ditimpakan kesalahannya pada PPJK termasuk biaya-biaya yang timbul karenanya.
Prosedur yang tertuang di PMK 229 ini adalah sebuah konsekuensi logis dari Indonesia meratifikasi kesepakatan bilateral maupun multilateral dalam perdagangan internasional antar kawasan tertentu. Sehingga pelaku usaha baik importir, eksportir dan PPJK harus memahami apa saja yang diatur dalam kesepakatan perdagangan antara kawasan satu dengan kawasan lainnya. Importir atau eksportir harus paham dan tahu persyaratan yang melekat dalam perjanjian perdagangan antar negara, jika bertransaksi dengan negara tersebut berada di kawasan yang telah mengikat dalam kesepakatan kawasan perdagangan.
Karena ketidakpahaman importir maupun eksportir dalam melakukan transaksi akan berdampak pada kuasanya, dalam hal ini PPJK, untuk mengurus custom clearencenya. Demikian pula PPJK dengan keluarnya PMK 229, ini harus menambah pengetahuan dan pemahaman teknis tentang beberapa model transaksi perdagangan dan persyaratan teknis yang melekat didalamnya. Selain untuk mengamankan pengurusan dokumen importir, juga sebagai bentuk advis dalam pelayanannya.
Sudah waktunya PPJK tidak hanya sekedar bekerja seperti pada umumnya atau lazimnya. Karena perkembangan tata cara perdagangan kadang memasuki wilayah tidak umum dan tidak lazim, artinya memerlukan ketelitian dan pengetahuan tertentu agar proses pelayanan PPJK tidak merugikan pelanggannya apalagi malah merugikan dirinya sendiri. Pemanfaatan teknologi informasi dalam berbagai media tidak hanya diisi oleh obrolan teknis belaka, tapi sudah waktunya diisi juga dengan berbagai data-data perkembangan maupun pengetahuan yang sering berusaha dalam tatanan perdagangan global. Dunia perdagangan tidak lagi harus diarungi atau diselami dengan harus hadir secara fisik dari tempat ke tempat lainnya, cukup di tangan anda bisa melakukan transaksi bisnis. (guslim-maret'18)

ALFI Beri Apresiasi Layanan Online Terpadu CEISA Terkoneksi INSW
Direktur Teknis Kepabeanan Ditjen Bea dan Cukai Kemenkeu, Fadjar Donny mengatakan instansinya mengajak semua pihak mengawasi apabila ada informasi kendala lapangan pada perizinan, terutama untuk ekspor dan izin laporan surveyor (LS) agar dapat segera diinformasikan.
Hal itu, imbuhnya, untuk memudahkan dan mempercepat koordinasi sedini mungkin dalam menindaklanjuti jika terjadi gangguan/hambatan sistem online tersebut melalui koordinasi dengan pengelola portal Indonesia National Single Window (INSW) dan juga dengan pengelola portal Inatrade Kementerian Perdagangan.
"Kami di Bea Cukai juga terus melakukan monitoring dan dari pantauan kegiatan ekspor maupun impor. Sampai dengan saat ini, tidak ada kendala di sistem CEISA dan juga di sistem INSW maupun indentifikasi komplain dari pelaku usaha," ujarnya kepada Bisnis.com, Kamis (8/3/2018).
Fadjar menyatakan hal itu merespons sempat terjadinya gangguan sistem Inatrade Kemendag pada 28 Februari 2018.
Berdasarkan komunikasi Ditjen Bea dan Cukai dengan pengelola portal INSW, kata dia, pada 28 Februari 2018 telah dilakukan server maintenance pada sistem Inatrade, dan terdapat proses back up data, yang berlangsung sekitar 3 jam. Lalu, sekitar jam 14.00 WIB pada hari yang sama proses tersebut selesai dan sistem berjalan normal lagi.
“Dalam kondisi normal per tanggal tersebut sudah terkirim sekitar 352 perizinan laporan surveyor (LS) dari Inatrade ke INSW dan diteruskan ke CEISA," paparnya.
Dia mengatakan adapun kondisi sistem sampai dengan hari ini sudah tidak ada masalah komunikasi antara sistem Inatrade dengan sistem INSW. "Hingga Rabu 7 Maret 2018 saja, ada pengaliran perizinan sekitar 600-an melalui INSW," ujar Fadjar.
Sekretaris Umum Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) DKI Jakarta, Adil Karim mengapresiasi pola monitoring terpadu Ditjen Bea Cukai terhadap sistem CIESA yang terintegrasi INSW.
Hendaknya, kata dia, kegiatan monitoring sistem juga perlu dilaksanakan instansi lainnya yang bertanggung jawab dalam pengelolaan portal berbasis online untuk pengurusan perizinan perdagangan ekspor impor.
Saat ini, setidaknya terdapat tiga portal perizinan online ekspor impor maupun pelayanan kapal di pelabuhan yang terintegrasi dengan INSW yakni CIESA Bea dan Cukai, Inatrade Kemendag, dan Inaportnet Kemenhub. "Kalau dilakukan monitoring melekat setiap saat jika ada gangguan (hank) sistem bisa segera diperbaiki dan mesti ada backup-nya sehingga tidak merugikan pelaku bisnis," ujarnya.
 
ALFI Harapkan Smart Port Bisa Semakin Diseriusi
Dalam rangka meningkatkan LPI (Logistics Perfomance Index) dan EoDB (Ease of Doing Business), Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) berharap sistem Smart Port atau Pelabuhan Pintar semakin dipertajam.
Selain itu, sistem ini diharapkan dapat digunakan oleh para anggotanya untuk membawa kemudahan pada era digitalisasi.
“Pengembangan konektvitas sistem Smart Port akan memberikan akses kepada lebih dari 53 pelayaran ocean going termutakhir dengan jadwal kedatangan dan keberangkaran kapal unlimited dari 130 negara terhubung dengan manifest Jepang, AS, Kanada track and trace container,” ujar Ketua Umum DPP ALFI Yukki Nugrahawan Hanafi seperti dikutip, Selasa (6/3/2018).
Adapun, manfaat lainnya sambung Yukki, pengguna bisa memesan slot kapal yang dituju beserta pengajuan pembuatan dokumen pengapalannya. Menurut rencana, sistem Smart Port akan di prelaunch pada akhir Maret atau paling lambat awal April 2018.
“Sistem Smart Port akan dapat diakses melalui website ALFI yang saat ini dikembangkan agar menjadi lebih komunikatif. Serangkaian uji coba juga sedang dilaksanakan sebelum sistem tersebut bisa diluncurkan akhir Maret 2018,” ujarnya.
Lebih lanjut, Yukki mengkritisi kurang tegasnya koordinasi pemerintah terkait dengan pelaksanaan PM 120/2017 mengenai pelayanan pengiriman pesanan secara elektronik (delivery order online) untuk barang impor di pelabuhan.
Dia menilai masih terdapat pihak-pihak yang menjalankan sistem secara parsial. Padahal, menurutnya, integrasi merupakan sistem yang akan membawa kemudahan bagi pemerintah maupun para pelaku usaha logistik.
Integrasi, ujarnya, merupakan keniscayaan yang akan membawa kemudahan bagi pemerintah dan pelaku usaha logistik yang tentunya akan menjadi referensi sumber data bagi pihak pemerintah untuk tujuan efisiensi pelabuhan dan logistik.
"[Semua] tergantung pemerintah apakah ingin memaksimalkan sistem ini atau hanya berkutat di birokrasi dan regulasi.”
Lebih jauh Asosiasi Logitik dan Forwarder Indonesia (ALFI) mengungkapkan guna meningkatkan logistic performance index (LPI) dan ease of doing business Indonesia, inovasi dan pengembangan terhadap sistem smart port perlu diperkuat.
Ketua Umum DPP ALFI Yukki Nugrahawan Hanafi mengatakan ALFI berharap agar sistem smart port ini dapat digunakan oleh para anggotanya yang tentunya akan membawa kemudahan di era digitilasasi saat ini.
Dia menjelaskan pengem bangan konektifitas sistem smart port akan memberikan akses kepada lebih dari 53 pelayaran ocean going, terupdate dengan jadwal kedatangan dan keberangkatan kapal unlimited dari 130 negara, serta terhubung dengan manifest Jepang, Amerika Serikat, dan Kanada, track and trace container.
"Selain itu juga pengguna bisa mem-booking slot kapal yang dituju beserta pengajuan pembuatan dokumen pengapalannya. Sistem ini akan bisa diakses melalui website ALFI yang sedang dikembangkan menjadi lebih komunikatif," ujar Yukki kepada Bisnis pada Selasa (5/3/2018).
Dia mengutarakan sistem tersebut direncanakan di prelaunch pada akhir Maret atau paling lambat awal April 2018.
"Saat ini serangkaian uji coba sedang dilaksanakan sebelum sistem tersebut bisa diluncurkan pada akhir Maret 2018," paparnya.
Yukki yang juga menjabat Chairman Asean Federation of Forwarders Association (AFFA) optimistis sistem ini membawa kemudahan bagi pelaku logistik.
Dia juga mengkritisi kurang tegasnya koordinasi pemerintah terkait dengan pelaksanaan Permnehub No: 120/2017 terhadap pihak-pihak yang menjalankan sistem secara parsial.
Yukki menjelaskan integrasi merupakan keniscayaan yang akan membawa kemudahan bagi pemerintah ataupun para pelaku usaha logistik dan tentunya akan menjadi referensi sumber data bagi pihak pemerintah untuk tujuan yang lebih besar yaitu efisiensi pelabuhan dan logistik di Indonesia.
"Smart port akan berjalan terus dan dengan konektivitas yang telah terhubung ke 130 negara, tergantung pada pemerintah apakah ingin memaksimalkan sistem ini atau hanya berkutat di birokrasi dan regulasi," ujarnya. (Logistics/bisnis.com/hd)

PT Pelindo III Lakukan Sertifikasi 500 Orang Pekerja Bongkar Muat
(LOGISTICS) : PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) melakukan sertifikasi kepada 500 pekerja bongkar muat seiring dengan arus kunjungan kapal asing yang butuh ditangani dengan standar internasional.
Direktur SDM Pelabuhan Indonesia (Pelindo) III Toto Heli Yanto mengatakan kompetensi pekerja bongkar muat harus ditingkatkan agar bisa menangani bongkar muat kapal berbendera asing secara profesional. Dia menambahkan peningkatan kompetensi tidak hanya ditujukan agar kinerja pelabuhan tetap efisien, tapi juga menjamin kesehatan dan keselamatan kerja (K3) operasional di pelabuhan.
"K3 ini tidak hanya demi pekerja operasional di terminal, tapi juga untuk pengguna jasa, mulai dari kru kapal hingga pemilik barang," tegas Toto dalam keterangan tertulis, Jumat (16/3/2018).
Direktur Utama Pelindo Daya Sejahtera (PDS) Ali Sodikin menyatakan program sertifikasi diawali dengan pelatihan Basic Safety Training (BST) oleh Improvement Center Pelindo III (ICP) yang dikelola oleh PDS. ICP bekerja sama dengan Politeknik Pelayaran Semarang dan Politeknik Pelayaran Surabaya untuk menggelar pelatihan dan sertifikasi selama 9 hari.
Dia menerangkan pelatihan dan sertifikasi merupakan bentuk Corporate Social Responsibility (CSR) yang tepat untuk diberikan kepada Koperasi Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) yang ada di pelabuhan.
"Upaya pengembangan bisnis saat ini sudah tidak bisa lagi dipisahkan dengan peningkatan skill tenaga kerja," ujar Ali.
Ketua Lembaga Sertifikasi Profesi Politeknik Pelayaran (Poltekpel) Surabaya Dwi Haryanto menuturkan meski sudah tersertifikasi oleh Kementerian Tenaga Kerja, pekerja bongkar muat Pelindo III akan kembali dilatih agar layak disertifikasi oleh Poltekpel Surabaya. Sertifikasi lanjutan ini merujuk pada konvensi internasional untuk pelatihan dan sertifikasi, Standards of Training, Certification and Watchkeeping for Seafarers (STCW).
"Sejak Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) diterapkan beberapa tahun lalu, kita harus aktif meningkatkan kompetensi dan sertifikasi pekerja lokal, agar daya saingnya tidak kalah atau bahkan tergantikan oleh pekerja asing," jelasnya.
Sementara itu, SVP HC Services Pelindo III Edi Priyanto mengungkapkan sertifikasi pekerja bongkar muat diharapkan bisa menjadi teladan bagi pekerja lain. Hal ini sejalan dengan proses transformasi perseroan yang bertumpu pada sumber daya manusia (SDM) di samping proses bisnis dan teknologi.
 
PT Pelindo III Gandeng 2 Swasta Garap Pengembangan Pelabuhan dan Industry Gula di NTT
PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) menyiapkan investasi hingga Rp1 triliun untuk penyertaaan modal ke dua perusahaan swasta dan pengembangan pelabuhan untuk menunjang industri gula di Nusa Tenggara Timur.
Direktur Utama Pelindo III, Ari Askhara mengatakan, sebanyak 70% dari investasi tersebut berasal dari penerbitan surat utang sedangkan sisanya dari kas internal. Untuk diketahui, Pelindo III memang tengah menyiapkan penerbitan surat utang global dengan nilai emisi hingga US$1 miliar atau setara Rp13,77 triliun (Kurs Rp13.774).
Ari menerangkan, perseroan sudah meneken kerja sama dengan PT Indonesia Bulk Terminal (IBT), anak usaha PT Adaro Energi Tbk. Pelindo III akan menyertakan modal dengan porsi 56,6% di IBT sehingga perseroan bisa mengembangkan pelabuhan di Mekar Putih, Kalimantan Selatan. Pelindo III juga menyiapkan Rp1,5 triliun untuk pengembangan pelabuhan di masa yang akan datang.
"Statusnya sekarang TUKS [Terminal untuk kepentingan sendiri], setelah diambil Pelindo III bisa melayani umum sehingga marketnya bertambah," ujarnya di Jakarta, Senin (12/3/2018).
David Tendean, Direktur Keuangan Adaro mengatakan pelabuhan IBT di Mekar Putih berlokasi di Pulau Laut yang berhadapa langsung dengan Laut Jawa sekaligus menjadi titik terdekat pengiriman batu bara ke Jawa.
Dia menambahkan, kedalaman pelabuhan sanggup untuk tempat sandar kapal kelas panamax. Berdasarkan informasi dari laman resmi Adaro, kapasitas curah kering di pelabuhan ini mencapai 12 juta ton per tahun.
"[Dengan lokasi strategis], potensinya pengembangannya luar biasa dan Pelindo III punya keahlian di bidang logistik, kami ikut mendukung," jelasnya.
Selain di IBT, Pelindo III juga akan mengakuisisi 30% saham PT Sriboga Flour Mill. Ari menerangkan, perseroan akan berkolaborasi dengan Sriboga untuk membangun terminal curah kering-food grain di Tanjung Emas, Semarang.
PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) menyiapkan investasi hingga Rp1 triliun untuk penyertaaan modal ke dua perusahaan swasta dan pengembangan pelabuhan untuk menunjang industri gula di Nusa Tenggara Timur.
Direktur Utama Pelindo III, Ari Askhara mengatakan, sebanyak 70% dari investasi tersebut berasal dari penerbitan surat utang sedangkan sisanya dari kas internal. Untuk diketahui, Pelindo III memang tengah menyiapkan penerbitan surat utang global dengan nilai emisi hingga US$1 miliar atau setara Rp13,77 triliun (Kurs Rp13.774).
Ari menerangkan, perseroan sudah meneken kerja sama dengan PT Indonesia Bulk Terminal (IBT), anak usaha PT Adaro Energi Tbk. Pelindo III akan menyertakan modal dengan porsi 56,6% di IBT sehingga perseroan bisa mengembangkan pelabuhan di Mekar Putih, Kalimantan Selatan. Pelindo III juga menyiapkan Rp1,5 triliun untuk pengembangan pelabuhan di masa yang akan datang.
"Statusnya sekarang TUKS [Terminal untuk kepentingan sendiri], setelah diambil Pelindo III bisa melayani umum sehingga marketnya bertambah," ujarnya di Jakarta, Senin (12/3/2018).
David Tendean, Direktur Keuangan Adaro mengatakan pelabuhan IBT di Mekar Putih berlokasi di Pulau Laut yang berhadapa langsung dengan Laut Jawa sekaligus menjadi titik terdekat pengiriman batu bara ke Jawa.
Dia menambahkan, kedalaman pelabuhan sanggup untuk tempat sandar kapal kelas panamax. Berdasarkan informasi dari laman resmi Adaro, kapasitas curah kering di pelabuhan ini mencapai 12 juta ton per tahun.
"[Dengan lokasi strategis], potensinya pengembangannya luar biasa dan Pelindo III punya keahlian di bidang logistik, kami ikut mendukung," jelasnya.
Selain di IBT, Pelindo III juga akan mengakuisisi 30% saham PT Sriboga Flour Mill. Ari menerangkan, perseroan akan berkolaborasi dengan Sriboga untuk membangun terminal curah kering-food grain di Tanjung Emas, Semarang.
Menurut Ari, Sriboga akan mendapatkan hak pengelolaan dua bidang tanah sekitar 4 hektare untuk membangun terminal curah kering-food grain. Kerja sama dilakukan dengan skema BTO (build-transfer-operate). "Dengan kami masuk di Sriboga, time horizon Sriboga bukan lagi 5 tahun, tapi bisa sampai 100 tahun," jelas Ari.
Sebagaimana diketahui, selama Sriboga menyewa lahan di Pelabuhan Tanjung Emas. Mohammad Iqbal, Direktur Operasional & Komersial Pelindo III menambahkan, perseroan bakal memperdalam kolam menjadi -12 LWS dari kondisi eksisting -9LWS. "Kami juga tambah kapasitasnya, alat-alatnya, dan storage," ujarnya.
Di NTT, Pelindo III juga siap mengembangkan Pelabuhan Waingapu dengan investasi Rp200 miliar. Ari mengatakan, kapasitas pelabuhan digenjot agar bisa melayani kargo dari aktivitas pabrik gula dan perkebunan tebu milik PT Muria Sumba Manis.
Pada proyek perkebunan tebu dan pabrik gula ini, kapal akan sandar di Pelabuhan Waingapu dan proses bongkar muat dan penumpukan akan ditangani oleh Pelindo III.
“Kami tidak hanya menjalankan bisnis dengan mengoptimalkan aset Pelabuhan, tapi juga ada semangat besar untuk turut mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi kawasan timur Indonesia," terang Ari.
 
Pelindo III Gandeng 3 Swasta Garap Sector Infrastruktur
PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) menggaet tiga perusahaan swasta guna mendukung pembangunan ekonomi di daerah, untuk penyediaan jasa kepelabuhan dan pembangunan infrastruktur pelabuhan.
Tiga perusahaan yang digandeng yakni PT Muria Sumba Manis (Grup Djarum), PT Sriboga Flour Mill (Grup Sriboga), dan PT Indonesia Bulk Terminal (Grup Adaro). Penandatanganan nota kerja sama diteken di Jakarta, Senin (12/3/2018).
Ari Askhara, Direktur Utama Pelindo III menjelaskan kerja sama dengan Muria Sumba Manis terkait dengan penyediaan fasilitas dan pelayanan jasa kepelabuhanan untuk pembangunan perkebunan tebu dan pabrik gula di Waingapu, salah satu daerah yang masuk wilayah kerja perseroan.
?Pada proyek perkebunan tebu dan pabrik gula ini, kapal akan sandar di Pelabuhan Waingapu dan proses bongkar muat dan penumpukan akan ditangani oleh Pelindo III. “Kami tidak hanya menjalankan bisnis dengan mengoptimalkan aset Pelabuhan, tapi juga ada semangat besar untuk turut mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi kawasan timur Indonesia," terang Ari di Jakarta, Senin (12/3/2018).
Dalam kerja sama dengan Sriboga, Ari menyebut Sriboga akan mendapatkan hak pengelolaan dua bidang tanah sekitar 4 hektare untuk membangun terminal curah kering-food grain. Kerja sama dilakukan dengan skema BTO (build-transfer-operate). Modal untuk unvestasi terminal berasal dari Pelindo III sebesar 30% dan 70% dari Sriboga.
Pelindo III meneken perjanjian pendahuluan dengan PT Indonesia Bulk Terminal, anak usaha PT Adaro Energy Tbk. Dua perusahaan ini berniat membentuk perusahaan patungan untuk membangun pelabuhan di kawasan ekonomi khusus Mekar Putih, Kalimantan Selatan.
"Kerja sama ini untuk mengembangan Pelabuhan Mekar Putih sebagai pusat pelabuhan penghubung yang strategis dan terminal curah yang menangani barang-barang curah kering dan curah cair serta komoditas lainnya," pungkas Ari. (Logistics/bisnis.com/hd)

Pelindo IV Jalin Kerjasama 3 BUMN Untuk Pangkas Biaya Logistic di KTI
MAKASSAR (LOGISTIK) : PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) IV menjalin kerja sama dengan tiga BUMN guna memaksimalkan upaya pemangkasan biaya logistik di wilayah Indonesia timur.
Corporate Secretary Pelindo IV Iwan Sjarifuddin mengatakan jalinan kerja sama tersebut terkait dengan pengiriman komoditas agar menekan diparitas harga di wilayah operasional perseroan.
Tiga BUMN itu meliputi PT Semen Tonasa, PT Pelni, serta Perum Bulog di mana pelabuhan kelolaan Pelindo IV menjadi pendukung konektivitas maupun pengiriman komoditas.
Secara sepesifik, skema kerja sama itu memiliki simpul dari Pelabuhan Makassar yang merupakan hub utama di wilayah timur, untuk kemudian terkoneksi dengan pelabuhan lain di Papua maupun Maluku.
"Kerja sama [dengan tiga BUMN] tengah berjalan, tetapi untuk saat ini prioritas itu ke Papua. Karena dispartitas harga antara Papua dengan daerah lain terutama Makassar, itu sangat besar," tuturnya kepada Bisnis pada Minggu (4/3/2018).
Dia menjelaskan Pelindo IV memfasilitasi akses pengiriman melalui pelabuhan kelolaan kemudian PT Pelni menyiapkan armada kapal untuk mengangkut komoditas pokok dari Bulog maupun semen dari PT Semen Tonasa.
Skema itu diklaim bisa lebih menekan biaya logistik serta lebih efesien sehingga harga yang diterima masyarakat di Papua bisa lebih murah dari biasanya.
Kendati demikian, dia belum memerinci kuantitas komoditas yang telah terkirim lantaran penghitungan dilakukan secara konsolidasian.
Secara umum, papar Iwan, kerjasama dengan Pelni, Tonasa serta Bulog itu merupakan bagian dari Sinergi BUMN dalam memberikan manfaat secara luas bagi masyarakat terutama di wilayah timur.
Di samping itu, penguatan kapasitas pelabuhan kelolaan juga terus dilakukan perseroan seperti penambahan alat bongkar muat hingga perluasan sejumlah pelabuhan.
Khusus di Papua, beberapa pelabuhan kelolaan tengah ditingkatkan dari berbagai aspek guna mengoptimalkan layanan kepelabuhan bagi pengguna jasa.
Salah satunya di Pelabuhan Merauke yang telah diperkuat dengan dua unit alat fix crane dan telah direalisasikan oleh Pelindo IV.
Sesuai dengan perencanaan, alat bongkar muat tersebut mulai dioperasikan pada pekan kedua bulan ini.
Direktur Fasilitas dan Peralatan Pelabuhan Pelindo IV Farid Padang sebelumnya mengatakan dengan penmbahan dua unit fix crane, diharapkan sirkulasi barang yang keluar dan masuk melalui Pelabuhan Merauke menjadi lebih cepat.
“Selama ini, Pelabuhan Merauke hanya mengandalkan crane kapal untuk melakukan bongkar muat barang. Selanjutnya, produktivitas bongkar muat diharapkan menjadi lebih tinggi dan otomatis waktu tunggu kapal juga menjadi lebih cepat,” kata Farid.
Dia menuturkan selama ini antrean kapal di Pelabuhan Merauke mencapai 3 – 4 hari.
Di sisi lain, lanjut Farid, status Pelabuhan Merauke juga telah memungkinkan dideklarasikan sebagai terminal peti kemas seiring dengan adanya dua unit alat fix crane tersebut.
Pelindo IV Tetap Kembangkan 9 Pelabuhan Kelolaan Secara Strategis
Disisi lain, PT Pelindo IV masih menjadikan pembangunan dan pengembangan 9 pelabuhan kelolaan sebagai program strategis perseroan pada tahun ini.
Corporate Secretary Pelindo IV iwan Sjarifuddin mengatakan proyek 9 pelabuhan kelolaan itu menjadi program tahun jamak perseroan yang diharapkan sudah bisa dimanfaatkan pada tahun depan.
"Seluruhnya dalam tahapan pengerjaan dan kontruksi fisik yang nantinya menjadi pendorong penciptaan konektivitas di timur dalam kerangka Tol Laut," katany saat berbincang dengan Bisnis Sabtu (3/3/2018) petang.
Ada pun pengerjaan fisik 9 pelabuhan kelolan perseroan itu mulai berjalan sejak medioa 2016 silam sebagai bentuk komitmen memperkuat konektivitas di wilayah timur.
Menurut Iwan, kapasitas pelabuhan menjadi sangat penting untuk ikut memangkas biaya logistik, yang mana 9 pelabuhan kelolaan tersebut diproyeksikan menjadi katalis.
Adapun proyek pembangunan dan pengembangan 9 pelabuhan itu meliputi Makassar New Port, Kendari New Port, Pelabuhan Merauke, Pelabuhan Manokwari, Pelabuhan Jayapura, Pelabuhan Ambon, Pelabuhan Ternate, Pelabuhan Bitung dan Pelabuhan Tarakan.
Sumber pendanaan proyek itu memanfaatkan kas internal perseroan, pinjaman perbankan serta pemanfaatan alokasi Penyertaan Modal negara (PMN).
 
Pelindo IV Gandeng Johor Port Benhad Malaysia Bahas OJT
PT Pelindo IV (Persero) Makassar bekerja sama dengan pihak Johor Port Berhad, Malaysia, telah membahas program 'on the job trainning (OJT)' untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) karyawan perusahaan tersebut.
"Kami telah berkunjung ke Pelabuhan Johor Berhad di Malaysia akhir pekan lalu dalam rangka membahas kerja sama OJT ini," kata Direktur SDM dan Umum PT Pelindo IV Makassar M Asyhari mengatakan di Makassar, Senin (5/3/2018).
Dalam kunjungannya ke Johor Port, Asyhari didampingi DVP Of Human Capital Development PT Pelindo IV, Mundzyr Salim untuk membicarakan masalah peningkatan SDM Pelindo IV, baik secara administrasi maupun operasional.
Pada kesempatan itu, lanjut dia, pihak Pelindo IV juga melakukan evaluasi mengenai pelaksanaan kerja sama program OJT yang selama ini sudah berlangsung delapan batch antara Pelindo IV dengan Johor Port Berhad.
Pada kunjungan yang diterima Head of Corporate Strategy and Business Development Johor Port Berhad, K.C Low dan Head of Johor Port Skill Centre, Nazry Bin Yahya ini, Direktur SDM dan Umum Pelindo IV juga membahas tentang kelanjutan kerja sama program OJT yang kontraknya akan berakhir pada 6 Maret 2018.
Asyhari mengatakan pihaknya yang mengikutikan 12 orang pegawai Pelindo untuk berkesempatan meninjau langsung aktivitas OJT Batch IX selama 2-31 Maret 2018.
"Alhamdulillah semua berjalan lancar dan diharapkan kerja sama OJT itu akan berlanjut lagi. Apalagi ini merupakan hasil evaluasi kerja sama antarnegara, maka terjadi kerja sama yang saling menguntungkan dan dapat bertukar pengalaman. (Logistics/bisnis.com/antara/hd)

BPS : Jumlah Penumpang Angkutan Laut Tumbuh 36% Pertahunnya
JAKARTA (LOGISTICS) : Di tengah penetrasi angkutan pesawat udara yang kian dalam ke daerah, moda angkutan laut ternyata masih diminati. Data menunjukkan, penumpang angkutan laut tumbuh 36% secara tahunan di awal tahun ini.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip Bisnis.com, Selasa (6/3/2018), jumlah penumpang angkutan laut mencapai 1,7 juta penumpang per Januari 2018 atau tumbuh 36% secara tahunan. Dibandingkan dengan bulan sebelumnya, jumlah tersebut memang turun 1,4%, mengikuti siklus yang terjadi di awal tahun.
Pertumbuhan jumlah penumpang angkutan laut di Januari 2018 secara tahunan melampaui pertumbuhan angkutan udara sebesar 4,6%. Moda angkutan laut melesat berkat pertumbuhan di pelabuhan di luar empat pelabuhan utama.
Data BPS menunjukkan, penumpang angkutan laut di tiga pelabuhan utama, yakni Tanjung Priok, Tanjung Perak, dan Makassar turun di kisaran 5,45% hingga 11,76%. Sementara itu, Pelabuhan Belawan di Medan masih menjadi favorit penumpang dengan pertumbuhan arus penumpang sebesar 13%.
Sementara itu, di luar pelabuhan utama, arus penumpang tumbuh 38,5% menjadi 1,63 juta. Pangsa penumpang di luar pelabuhan utama memang mendominasi dengan kontribusi 96%. Dengan kata lain, konektivitas lewat angkutan laut didominasi oleh arus penumpang di daerah, bukan kota besar dengan pelabuhan utama
Kemenhub Rilis Kapal Ptikemas Buatan PT Janata Marina Indah Kapasitas 100 TEUs
SEMARANG (3/3) - Kementerian Perhubungan melalui Ditjen Perhubungan Laut meluncurkan kapal kontainer berkapasitas 100 Teus di galangan kapal PT. Janata Marina Indah, Tanjung Emas, Jawa Tengah. SEMARANG (3/3) - Kementerian Perhubungan melalui Ditjen Perhubungan Laut meluncurkan kapal kontainer berkapasitas 100 Teus di galangan kapal PT. Janata Marina Indah, Tanjung Emas, Jawa Tengah.
Kementerian Perhubungan merilis satu kapal kontainer buatan galangan PT Janata Marina Indah, Semarang. Kapal tersebut merupakan 1 dari 15 kapal kontainer yang dipesan Kemenhub untuk program Tol Laut.
Direktur Perkapalan dan Kepelautan Ditjen Perhubungan Laut, Junaidi mengaatkan kapal yang dibuat oleh galangan Janata berkapasitas 100 TEUs ( twenty-foot equivalent unit) dan diberi nama Kendagha Nusantara 6.
"Kapal ini akan mendukung konektivitas pelayaran dal_am program Tol Laut, meningkatkan integrasi sistem angkutan untuk mengurangi disparitas harga," ujarnya dalam keterangan resmi yang dikutip Bisnis.com, Selasa (6/3/2018).
Kapal ini menurut Junaidi merupakan pesanan kesembilan dari 15 unit yang dipesan sejak 2015. Dia menambahkan, selain di galangan Janata, Kemenhub juga memesan kapal serupa di galangan yang berlokasi di Banten dan Lamongan. Kapal-kapal yang dipesan ini diharapkan bisa rampung tepat waktu dan bisa beroperasi pada April 2018.
Junaidi menuturkan, kapal kontainer milik negara diproyeksi bisa mendukung upaya penurunan harga bahan pangan dan bahan bangunan yang diangkut lewat program Tol Laut. Di samping kapal laut, Kemenhub juga memadukan akses darat dan udara untuk memperluas distribusi barang kebutuhan pokok ke wilayah terdepan, terpencil, dan pedalaman.
Di 2018, Kemenhub membuka 15 trayek Tol Laut dengan tiga pangkalan utama, yakni Teluk Bayur, Tanjung Priok, dan Tanjung Perak. Kemenhub menggelontorkan anggaran sebanyak Rp447,62 miliar untuk penyelenggaraan Tol Laut tahun ini. (Logistics/bisnis.com/hd)

Pelindo III Targetkan Flyover Terminal Teluk Lamong Tuntas Awal 2019
SURABAYA (LOGISTICS) : PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) III menargetkan proyek pembangunan flyover menuju Terminal Teluk Lamong (TTL) rampung pada awal 2019 seiring dengan target peningkatan layanan peti kemas hingga 50%.
CEO Pelindo III I Gusti Ngurah Askhara Dana Diputra atau yang biasa disapa Ari Askhara mengatakan pembangunan flyover dan tapper sepanjang 2,45 km yang digarap oleh PT Wijaya Karya Tbk (Wika) dengan investasi Rp1,3 triliun itu telah dimulai yang ditandai dengan proses pemasangan tiang pancang perdana.
"Pembangunan flyover ini akan menjawab masalah kemacetan di Jl. Kalianak dan Osowilangun yang kerap dilewati truk dan kendaraan pribadi. Sehingga nantinya truk petikemas yang akan menuju TTL sudah bisa terintegrasi langsung dari tol menuju pelabuhan," katanya di sela-sela seremoni pemasangan tiang pancang perdana dan kerja sama BUMN pada Rabu (7/3/2018).
Adapun saat ini kapasitas TTL mencapai 1 juta TEUs per tahun, dan telah melayani arus petikemas mencapai 500.000 TEUs per tahun. Dengan dibangunnya aksesbilitas tersebut, diharapkan dapat meningkatkan kinerja petikemas setidaknya tumbuh 50% atau mencapai 750.000 TEus.
Direktur Operasi I Wika Chandra Dwi Putra menambahkan pembangunan tahap pertama akan dimulai dengan pondasi dulu yang diperkirakan selesai di pertengahan tahun ini. Setelah pemasangan pondasi, Wika akan melakukan izin dengan kesehatan, keamanan, dan keselamatan kerja (K3).
"Standar proyek kita memang sudah masuk kategori tetapi memang harus diuji dulu dengan K3," tuturnya.
Dalam pembangunan flyover tersebut Wika akan menggunakan sistem jembatan unibridge yakni jembatan balok beton (girder) komposit dengan menggunakan pin pada setiap sambungan antar-girder dengan konsep modular.
Flyover memiliki panjang 1,8 km. Untuk jalan darat di sisi Benowo memikiki panjang 363 meter dan sisi Teluk Lamong sepanjang 350 meter, dengan lebar flyover 40 meter.
Disisi lain, PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) memulai proyek pembangunan jalan layang akses menuju Terminal Teluk Lamong sepanjang 2 kilo meter. Pembangunan proyek senilai Rp1,3 triliun tersebut ditandai dengan pemancangan tiang beton pertama, Rabu (7/3/2018).
Berdasarkan kontrak dengan PT Wijaya Karya Tbk selaku kontraktor yang ditunjuk Pelindo III akan membangun jalan akses yang menghubungkan Terminal Teluk Lamong dengan Tol Surabaya–Gresik melalui Jalur Lingkar Luar Barat (JLLB).
Proyek tersebut diproyeksi bisa rampung dalam satu tahun atau 365 hari kalender, dilanjutkan dengan masa pemeliharaan selama 720 hari kalender.
Direktur Utama Pelindo III, Ari Askhara mengatakan operasional jalan layang dan tapper (radius untuk belokan jalan) akan meningkatkan aksesibilitas ke Terminal Teluk Lamong. Menurutnya, jJalan layang juga menjadi solusi yang ditunggu pengguna jalan karena akan lebih mempercepat pergerakan arus barang.
“Selain itu, kemacetan di jalan raya yang biasa digunakan oleh para pengguna kendaraan roda dua akan berkurang karena langsung terhubung ke jalan tol,” jelas Ari imbuh Ari dalam siaran pers, Rabu (7/3/2018).
Direktur Wijaya Karyaz Chandra Dwiputra berharap proses pengerjaan flyover Terminal Teluk Lamong dapat berjalan lancar. Sebelumnya, di Terminal Teluk Lamong, Wijaya Karya juga mengerjakan pembangunan container yard tahap II pada 2017.
Candra menjelaskan, dalam konstruksi jalan layang akses Terminal Teluk Lamong, perseroan akan menggunakan sistem jembatan "unibridge", yakni jembatan balok beton (girder) komposit yang menggunakan pin pada setiap sambungan antar girder dengan konsep modular.
Sistem ini tidak memerlukan pengencangan berkala, seperti halnya penggunaan baut pada model konvensional. Selain itu, material jembatan memiliki desain yang kompak dan ringan, serta lebih efisien dan lebih cepat dalam proses pembangunannya.
 
Terminal Teluk Lamong Lakukan Pendalaman Kolam Hingga -16 LWS
PT Terminal Teluk Lamong, anak usaha PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) akan mengeruk kolam pelabuhan hingga kedalaman 16 meter guna mengakomodasi kapal-kapal berbobot tambun.
Direktur Utama TTL, Dothy mengatakan saat ini kedalaman kolam pelabuhan di Teluk Lamong mencapai 14 meter muka air laut (LWS). Kolam sedalam itu menurutnya sudah bisa mengakomodasi kapal-kapal berbobot mati 80.000 ton.
Salah satu kapal teranyar yang merapat adalah MV Bulk Japan yang berbobot mati 82.951 ton. Kapal curah kering berbendera Liberia itu menjadi kapal curah terbesar yang singgah di Teluk Lamong. Dothy menyebut, semakin besar ukuran kapal, potensi efisiensi yang bisa dicatat juga semakin tinggi bagi pelaku industri logistik.
Dia menambahkan, pihaknya sudah menggelontorkan dana untuk membangun infrastruktur di Teluk Lamong. Dengan kedatangan kapal besar, Dothy menilai investasi yang dilakukan perseroan sudah mulai membuahkan hasil. "TTL sangat siap melayani kapal berukuran besar karena saat ini memiliki kedalaman kolam pelabuhan hingga -14 meter LWS (di bawah permukaan air), nantinya akan dikeruk menjadi -16 meter LWS,” jelas Dothy, Selasa (27/2/2018).
Menurut Dothy, kesiapan infrastruktur pelabuhan dan efektivitas operasional bongkar muat menjadi faktor penting untuk menarik minat kapal-kapal asing berukuran besar bersandar di pelabuhan Indonesia. Sebelumnya, kapal asing enggan mampir karena infrastruktur pelabuhan pelabuha di Indonesia kurang memadai sehingga kapal lebih memilih transit di negara lain.
Di Terminal Teluk Lamong, proses bongkar muat dilakukan semi otomatis. Bongkar muat curah kering soya bean meal (bahan pakan ternak) juga didukung peralatan berupa 2 unit grab ship unloader berkapasitas hingga 2.000 ton per jam per unit. Bahan curah kering lalu diangkut menggunakan 2 lane conveyor langsung ke silo dan gudang berkapasitas total hingga 200.000 ton.
Bila kondisi cuaca kondusif, kecepatan bongkar muat curah kering di TTL bisa mencapai rata-rata 20.000 ton per hari. Walhasil, kapal berkapasitas sejenis dengan MV Bulk Japan bisa menyelesaikan bongkar muat dan pembersihan maksimal empat hari. “Kapal MV Bulk Japan asal Brazil mempercayai TTL untuk menjadi single port (satu-satunya destinasi pelabuhan) di Indonesia untuk membongkar seluruh muatan,” imbuh Dothy.

Pelindo III Targetkan Penggunaan Aplikasi Home Terminal Bisa Dipakai Semua Terminal
Pelindo III berinovasi mempercepat dan mempermudah proses pemesanan layanan jasa kepelabuhanan dengan meluncurkan aplikasi mobile, Home Terminal, pada Kamis (1/2). Dengan memanfaatkan teknologi tersebut, pengguna jasa dapat memesan berbagai jasa kepelabuhanan cukup melalui aplikasi smartphone. Foto : Dokumen Pelido 3
Pelabuhan Indonesia III (Persero) menargetkan penggunaan aplikasi Home Terminal di seluruh terminal Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.
Aplikasi yang dirilis pada awal Februari 2018 itu semula hanya bisa dipakai di Terminal Petikemas Surabaya dan Terminal Teluk Lamong.
CEO Regional Jawa Timur Pelindo III, Onny Djayus, mengatakan perseroan terus melakukan sosialisasi penggunaan aplikasi Home Terminal kepada pengguna jasa, mulai dari agen pelayaran, cargo owner, perusahaan bongkar muat (PBM), freight forwarder, organda, pengelola depo hinggaa ekspedisi muatan kapal laut (EMKL).
“Aplikasi Home Terminal baru dapat digunakan di Terminal Petikemas Surabaya dan Terminal Teluk Lamong pada tahap awal. Pada tahap berikutnya (Maret 2018), implementasi HTS dilakukan di seluruh terminal di Pelabuhan Tanjung Perak,” ujarnya pada Kamis (1/3/2018).
Onny mengatakan aplikasi Home Termnal terintegrasi denga sistem operasi terminal. Aplikasi ini untuk tahap awal memiliki empat fitur utama, yakni vessel service, port activities, logistic dan container management. Keempat fitur tersebut memungkinkan pengguna jasa memantau pergerakan kapal dan barangnya secara real-time.
Menurut Onny, untuk tahap awal, Home Terminal menyediakan pelayanan kapal/vessel service meliputi pemanduan, penundaan, penyandaran kapal, pengisian bahan bakar, pengisian air bersih. Layanan lain yakni jasa tambat, port clearance, penampungan limbah, daya kelistrikan, dan crew transfer.
Aplikasi Home Terminal merupakan marketplace di mana pengguna jasa bisa memilih aneka jasa kepelabuhan dari penyedia jasa yang ada di pelabuhan dengan harga yang transparan. Lewat aplikasi itu, layanan jasa kepelabuhan diharapkan bisa berlangung lebih cepat, ringkas, dan efisien. (Logistics/bisnis.com/hd)