I N F O

Download Sosialisasi BTKI dan  Registrasi Kepabeanan [unduh]

baca

ALFI Harapkan INSW Tidak Mudah Shut-Down
Indonesia harus segera mengadopsi sistem national single window dari beberapa negara lain di Asia Tenggara untuk menin gkatkan kualitas Indonesia National Single Window agar tak mudah down.
Yukki Nugrahawan Hanafi, Ketua Umum DPP Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) ini mengatakan dalam satu tahun terakhir Indonesia National Single Window (INSW) bisa mengalami permasalahan dan menyebabkan down system hingga empat kali.
“INSW kita ini kalah di [ ... ]

baca

ALFI Yakin Bisnis Cargo Udara Naik 10%
JAKARTA (LOGISTICS) : Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia optimistis keterisian kargo internasional bisa meningkat 10% jika dibuka kran bisnis kargo di bandara-bandara utama sebagai hub udara keluar negeri lain.
Arman Yahya, Wakil Ketua Umum Angkutan Udara Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) DKI Jakarta memprediksi ada kenaikkan yang pesat jika pemerintah membuka beberapa peluang baru pada bisnis kargo.
“Kenaikkan berpeluang minimal antara [ ... ]

baca

18 Bank Setuju Tampung Dana Repatriasi Hasil Tax Amnesty   JAKARTA (LOGISTICS) : Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Robert Pakpahan mengatakan sebanyak 18 bank setuju untuk menampung dana repatriasi modal dari hasil program amnesti pajak. Bank yang memenuhi syarat ada 19, tapi setelah dipanggil tadi hanya 18 yang bersedia," kata Robert dalam jumpa pers terkait kebijakan amensti pajak di Jakarta, Senin (18/7/16).
Robert menjelaskan 18 bank perseps [ ... ]

baca
 
Logitics Journal Nomor : 183 / April 2017
 
Cover April 2017
 

 
 
Editorial - Waktunya Bersatu
ASEAN Free Trade Area sudah berjalan, masyarakat ekonomi ASEAN tengah berlangsung dan China-ASEAN Free Trade Area sudah disepakati sejak 2002 dan berlaku efektif 2010. Apalagi yang belum dilaksanakan oleh Indonesia untuk mengikuti dan patuh pada faham pasar bebas, pasar global ataupun mekanisme pasar yang tanpa batas. Realitas dari kesepakatan internasional tersebut mempunyai tujuan utama untuk memajukan ekonomi nasional Indonesia secara menyeluruh. Artinya tidak hanya pada sektor tertentu yang menonjol, sedang sektor lainnya terseok-seok bahkan mulai tersengal-sengal mulai kehabisan nafas.
Derasnya arus transaksi perdagangan internasional adalah konsekuensi dari hasil kesepakatan perdagangan internasional tersebut, walau pada kenyataannya neraca perdagangan nasional tidak pernah surplus tapi pertumbuhan ekonomi nasional masih positif dan optimistik di kisaran 5. Kegiatan ekonomi yang masih menggeliat akan berdampak pula pada pelaku usaha forwarder untuk melakukan aktivitas logistik yang mendistribusikan cargo keseluruh antero negeri Indonesia. Persoalannya seberapa besar peran forwarder domestik mendapatkan porsi kuwe distribusi logistik yang ada.
Pengusaha logistik saat ini memang sebagian besar dilakukan oleh usaha forwarder dengan Surat Izin Usaha Jasa Pengurusan Transportasi (SIU JPT). Perkecualian untuk pelaku usaha logistik berskala besar yang jumlahnya terbatas lebih mampu melakukan akses kepada para pelaku investasi usaha asing yang masuk ke Indonesia. Sedangkan pelaku usaha logistik kelas menengah dan kecil yang jumlahnya lebih dari 85% dari total pelaku usaha logistik, kebanyakan pemain dengan omzet usaha per tahunnya berada dikisaran 5 – 10 miliar rupiah, bahkan masih banyak yang berada di bawahnya. Pengusaha forwarder yang tergabung dalam Asosiasi Logistik & Forwarder Indonesia (ALFI) seharusnya mengantisipasi perkembangan ini dengan melakukan konsolidasi atau menyatukan kehendak bersama dengan satu tujuan memperkuat bargaining position terhadap pelaku usaha forwarder dan logistik yang bermain dalam skala global.
Seiring dengan kegiatan investasi di Indonesia akan diikuti dengan kegiatan logistik, mulai dari membangun proyek industri, sampai dengan hasil industri yang harus dipasarkan dan didistribusikan akan menggunakan jasa forwarder. Melalui kebersamaan antara asosiasi dengan anggotanya kita meningkatkan daya tawar kita terhadap pemilik barang (pabrikan) yang berskala global atau dengan forwarder yang bergerak di skala usaha global. Tawaran kita kepada mereka adalah agar mereka jangan mengerjakan pekerjaan mulai dari hulu sampai hilir, karena mereka memiliki permodalan yang kuat sangat memungkinkan semuanya dikerjakan sendiri.
Mereka, baik pelaku usaha industri besar maupun perusahaan forwarder/logistik asing skala global, perlu segera diajak bersama untuk duduk satu meja guna membicarakan dan menggagas B to B yang bisa memberikan manfaat dan keuntungan bersama sekaligus bisa mengefisiensikan kinerja dan menekan biaya logistik pada skala yang lebih rasional. Untuk menyatukan gagasan bersama dan bisa bergerak bersama-sama di antara pelaku usaha forwarder tidaklah mudah, karena mereka mindsetnya adalah bersaing bukan bekerjasama, saling meniadakan bukan saling menopang, saling mendorong bukanlah saling mendukung. Namun bukannya tidak mungkin untuk tidak bersama-sama dalam bekerja. Situasi saat ini menuntut untuk saling berbagi dan bekerja bersama-sama.
Mengapa harus bekerja bersama-sama? Karena kalau bersama-sama akan bisa saling menutupi kekurangan dan kelemahan masing-masing. Bisa mengumpulkan dan menggabungkan kekuatan dan kelebihan masing-masing atau memadukan profesionalitas dan ketrampilan dalam menghandle barang yang kesemuanya itu untuk dijadikan potensi tawar-menawar dengan pemilik barang atau pesaing dengan modal lebih kuat. Pertanyaan mendasar, apakah sesama anggota ALFI bisa menghilangkan sekat psikologis dan mindset yang bernama persaingan, saling berebut atau saling menjatuhkan tarif. Selama sekat-sekat tersebut masih melekat dalam pergaulan usaha forwarder, maka kita akan sulit untuk bersama-sama bekerja untuk membantu pemilik barang dan pelaku usaha logistik skala global untuk berbagi mengerjakan pekerjaan yang menjadi porsi forwarder skala domestik khususnya UMKM.
Kapan lagi kita mau mengkonsolidir diri di saat berbagai bentuk kesepakatan (agreement) perdagangan global sudah mengepung kita, namun kita belum memanfaatkan dan mendapatkan keuntungan secara optimal. Akankah kita selalu menjadi penonton yang terkagum-kagum. Ataukah kita lebih suka menjadi profesional yang dipekerjakan atau menjadi entrepreneur yang memberikan kesempatan kerja bagi warga bangsa Indonesia ? (guslim-april'17)
 

 
 
Jokowi Resmikan Tol Akses Tanjung Priok 11,4 km Sempat Molor 5 Tahun
JAKARTA (LOGISTICS) : Presiden ke-7 RI Joko Widodo didampingi Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Plt. Gubernur DKI Jakarta Soemarsono meresmikan ruas tol Akses Tanjung Priok sepanjang 11,4 Km, hari ini, Sabtu (15/4/17).
kowi menekan tombol sirene sebagai tanda diresmikannya pengoperasian Jalan Tol tersebut.
Presiden Jokowi dalam sambutannya mengatakan dengan dioperasikannya jalan tol ini maka keluar masuk kontainer dari Pelabuhan Tanjung Priok sebagai pelabuhan utama Indonesia akan lebih cepat dan lancar sehingga meningkatkan daya saing produk-produk Indonesia.
Lebih jauh ditambahkannya pembangunan jalan tol yang dimulai sejak 2008 ini sempat mengalami permasalahan pengadaan lahan dan ketidaksesuaian mutu beton sebanyak 69 pilar sehingga dilakukan pembongkaran dan pergantian. Dengan kendala tersebut, penyelesaian jalan Tol Akses Tanjung Priok mengalami keterlambatan hingga 5 tahun.
"Sekitar 3.600 truk kontainer akan lalu lalang di jalan tol ini. Dengan adanya tol akses Tanjung Priok ini, kecepatan keluar masuk pelabuhan kontainer dapat ditingkatkan, artinya kapal- kapal petikemas tersebut bisa dilayani dengan baik," jelas Presiden Jokowi.
Mantan Gubernur DKI Jakarta ini berharap dengan dioperasikannya jalan tol ini akan mampu menjadi faktor peningkat daya saing Indonesia khususnya dalam hal logistik.
Nantinya, jalan tol ini akan dilewati sekitar 3.600 kontainer setiap hari sehingga mampu menurunkan biaya logistik di Indonesia, terutama yang melalui pelabuhan ini.
"Ini akan memiliki daya saing kecepatan pengantaran barang-barang dari dan ke Pelabuhan Tanjung Priok karena ini merupakan main port kita Begitu di sini tidak lancar semua akan jadi lambat. Segera bisa dioperasikan ke akses tol Tanjung Priok ini, sehingga kecepatan kapal konter masuk dan keluar bisa dilayani dengan baik," ujarnya.
Jokowi menambahkan dengan dioperasikannya jalan tol sepanjang 11,40 km ini akan meningkatkan kapasitas jalan metropolitan Jakarta dan semakin memperkuat konektivitas dalam mengembangkan potensi ekonomi Indonesia.
"Ini juga mampu mengurangi waktu tempuh dan menurunkan biaya transportasi sebesar kurang lebih 30%, serta memperlancar perpindahan arus angkutan barang dari dan menuju Pelabuhan Tanjung Priok sebagai pelabuhan kontainer terbesar di tanah air," tuturnya.
Untuk diketahui, Jalan Tol Akses Tanjung Priok merupakan bagian dari Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta (JORR) dan tersambung dengan Jalan Tol Dalam Kota yakni di Seksi North South (NS) yang akan menghubungkan lalu lintas dari JORR ke Cawang, Pluit, serta langsung ke pelabuhan.
Turut hadir dalam peresmian tersebut Anggota Komisi V DPR-RI, Nusyirwan Soejono, Direktur Utama Pelindo II Elvyn G Masassya, Direktur Jenderal Binamarga Arie Setiadi Moerwanto, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Danis H. Sumadilaga, Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Herry Trisaputra Zuna dan Pejabat Tingkat Madya dan Pratama Kementerian PUPR lainnya.
Menteri Basuki yang ditemui usai acara mengatakan bahwa jalan Tol Akses Tanjung Triok merupakan jalan tol yang diresmikan pertama dari 392 Km jalan tol yang akan diresmikan sepanjang tahun 2017 ini. Selain itu, Kementerian PUPR saat ini tengah melaksanakan proses pengadaan lahan pada Seksi W2 sepanjang 6 Km yang akan menghubungkan jalan Tol Akses Tanjung Priok dengan Tol Dalam Kota dan ditargetkan akan rampung pada akhir 2019 bila tidak ada kendala pembebasan tanah dan pembiayaan.
"Namun demikian kita perlu memonitor hubungan antara pola transportasi dan tata guna lahan yang berubah dengan keberadaan ruas tol baru ini," tambah Menteri Basuki.
Sementara itu Direktur Jenderal Bina Marga Arie Setiadi Moerwanto dalam laporannya menyampaikan dengan kehadiran jalan tol ini akan meningkatkan kapasitas jalan metropolitan Jakarta dan semakin memperkuat konektivitas dalam mengembangkan potensi ekonomi Indonesia, mengurangi waktu tempuh dan menurunkan biaya transportasi.
Selain itu jalan tol yang dibangun dengan biaya konstruksi Rp 4,1 triliun ini juga menjadi percontohan jalan tol ramah lingkungan yang dilengkapi dengan _sound barrier_ terutama yang berada disamping Rumah Sakit Koja sehingga tidak mengganggu ketenangan aktivitas rumah sakit.
Jalan Tol Akses Tanjung Priok terdiri dari lima seksi yakni Seksi E-1 Rorotan-Cilincing (3,4 Km), E-2 Cilincing-Jampea (2,74 Km), E-2A Cilincing-Simpang Jampea (1,92 Km) dan NS Link Yos Sudarso-Simpang Jampea (2,24 Km) dan NS Direct Ramp (1,1 Km).
Setelah diresmikan pada hari Sabtu, 15 April 2017 hingga 1 bulan ke depan, ruas tol ini sementara akan dioperasikan tanpa tarif. Untuk sementara, pengoperasian Jalan Tol Akses Tanjung Priok akan dilaksanakan oleh PT. Jasa Marga dan PT. Citra Marga Nusaphala Persada (CMNP). (Logistics/hd)
 

 
 
Pelindo II Gandeng Operator Kapal Container Prancis, CMA-CGM
JAKARTA (LOGISTICS) : PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II atau saat ini dikenal dengan sebutan Indonesia Port Corporation (IPC) memastikan salah satu perusahaan kapal kontainer raksasa di dunia asal Prancis, CMA-CGM mulai pekan depan akan melayari Pelabuhan Tanjung Priok.
Kepastian kerja sama Pelindo II dengan perusahaan pelayaran bernama lengkap Compagnie Maritime d'Affretement - Compagnie Generali Maritime (CMA-CGM) itu akan diwujudkan dengan kedatangan kapal raksasa berkapasitas hingga sekitar 8.500 TEUS di Tanjung Priok pada 9 April 2017.
Kapal raksasa dengan bobot 95.367 ton, berkapasitas 8.469 TEUS, panjang 335 meter dengan estimasi draft sekitar -14 mLWS dan bakal menjadi kapal kontainer terbesar yang melayari Tanjung Priok itu bernama CMA-CGM Titus.
"Akhir pekan ini, 9 April 2017, satu kapal dari CMA-CGM kapasitas 8.500 TEUS akan sandar di Tanjung Priok untuk pertama kalinya. Rencananya, ke depan akan melayani setiap pekan sekali," tutur Prasetyadi, Direktur Operasi dan Sistem Informasi Teknologi Pelindo II, kepada Bisnis, Rabu (5/4/2017).
Menurutnya, CMA-CGM Titus yang merupakan kapal generasi kelima yang termasuk jenis Post Panamax Plus itu akan melayani pengangkutan barang-barang yang akan di ekspor atau impor ke Amerika Serikat dengan nama layanan Java Sea Express (JAX).
"Rencananya akan datang melayani seminggu sekali. Tapi kalau secara bertahap ternyata muatannya terus bertambah banyak, mereka juga akan mendatangkan kapal yang lebih besar lagi dengan kapasitas hingga 14.000 TEUS," ujarnya.
Jumlah bongkar muat perdana di Tanjung Priok untuk diangkut ke Amerika Serikat sebanyak 2.300 TEUs, di mana sebagian dari muatan sebanyak itu, merupakan barang barang hasil transhipment dari sejumlah pelabuhan di Tanah Air.
Pihaknya berharap dengan kehadiran CMA-CGM Titus dapat menjadi pemicu hadirnya shippingline raksasa lainnya untuk melayari Tanjung Priok, sehingga Priok benar-benar dapat menjadi transhipment port besar di kawasan Asia.
"Karena dengan semakin banyaknya kapal besar yang masuk, akan berdampak pada penurunan biaya logistik yang harus ditanggung eksportir maupun importir," ujarnya.
 
Kapal Titus-CMA-CGM Tiba di TG Priok
Kapal kontainer raksasa CMA-CGM Titus dengan kapasitas hingga sekitar 8.500 TEUs yang akan mengangkut barang-barang petikemas ekspor ke Amerika, telah tiba di Pelabuhan Tanjung Priok, Minggu (9/4/2017).
Prasetyadi, Direktur Operasional dan Sistem Informasi PT Pelindo II / IPC mengatakan kapal dengan bobot 95.367 ton dan panjang 335 meter berkapasitas pasti 8.469 ton dan memiliki estimasi kedalaman draft sekitar -14 mLWS itu tiba dan sandar di Jakarta International Terminal Container (JICT) sekitar pukul 05.20 WIB.
"CMA-CGM Titus sudah sandar di dermaga JICT jam 5.20 WIB," ujarnya, Minggu (9/4/2017).
Kapal kategori Post Panamax Plus milik perusahaan kapal kontainer raksasa asal Prancis, CMA-CGM itu tiba dan sandar di JICT langsung melakukan pengangkutan kontainer yang direncanakan sebanyak 2.300 TEUs.
CMA-CGM Titus menjadi kapal kontainer terbesar pertama yang pernah melayari Pelabuhan Tanjung Priok dan akan mengangkut barang barang yang akan di ekspor ke Amerika.
Direncanakan, kapal tersebut akan melayani jasa pengangkutan barang dari dan ke Amerika dengan nama layanan Java Sea Express (JAX) setiap sepekan sekali, yang akan dimulai pada hari ini, Minggu (9/4/2017).
Prasetyadi berharap dengan hadirnya CMA-CGM Titus, dapat menjadi trigger bagi kedatangan kapal kapal besar lainnya, sehingga langkah awal mewujudkan Tanjung Priok sebagai transshipment port juga dapat tercapai dengan baik.
Selain itu, kata dia, dengan kapal besar, diharapkan biaya yang harus dikeluarkan pemilik barang dapat ditekan menjadi lebih rendah sehingga pada ujungnya dapat menekan biaya logistik yang tinggi di tanah air.
Dijadwalkan, Menhub Budi Karya Sumadi juga akan menghadiri ceremonial penyambutan kedatangan kapal tersebut siang di ini di JICT. (Logistics/bisnis.com/hd)
 

 
 
ALFI Desak Pemerintah Provinsi Jateng Benahi System Layanan Logistik
SEMARANG (LOGISTICS) : Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) mendesak pemangku kebijakan khususnya Pemprov Jawa Tengah memiliki sistem logistik daerah yang mumpuni.
Ketua Umum Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Yukki Nugrahawan mengatakan jika provinsi Jawa Tengah bisa memperbaiki sistem logistik, pertumbuhan ekonomi akan lebih baik. Dia menjelaskan berdasarkan survey Bank Dunia biaya logistik nasional mencapai 24,6%.
Menurut proyeksi pihaknya, dengan memiliki sistem logistik daerah (sislogda) yang mumpuni dalam tiga tahun bisa menurunkan 4% hingga 5%.
“Dari angka Bank Dunia 24,6% menjadi sekitar 19% itu akan jauh lebih baik. Bisa mendorong pertumbuhan ekonomi daerah lebih baik lagi 0,5% hingga 0,8% itu bukan angka yang kecil,” katanya di sela-sela musyawarah wilayah ALFI pada Kamis (6/4/2017).
Dia mencontohkan pembenahan sislogda tersebut bisa diaplikasikan dengan kegiatan logistik yang dikaitkan semua rantai pasok pemenuhan kebutuhan masyarakat yang utama. Menurutnya, setiap daerah memiliki potensi berbeda.
Dengan demikian, pemerintah kota/kabupaten harus bekerja sama dengan pemprov satu agar jika mengalami kelebihan pasokan komoditas atau barang di satu wilayah, bisa dikirim ke daerah lain bahkan diekspor. Hal ini, lanjut dia, butuh perencanaan dibarengi dengan sistem industrti yang dibangun.
Jawa Tengah dinolainya memiliki prospek yang sangat baik mengingat digenjotnya sektor industri dan perdagangan. Hal itu tak terlepas dari upah pekerja yang masih kompetitif dibandingkan dengan daerah lain seperti Jawa Barat.
Selain itu, dari segi geografis Jawa Tengah cukup baik. Di provinsi ini pun, iklim politik cenderung lebih kondusif.
“Walaupun pelabuhannya terjepit Tanjung Perak dan Tanjung Priok, kalau industri dan perdagangannya digenjot prinsipnya akan ship follow the trade,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Industri Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Edy Putra Irawady menyebut dengan adanya pembenahan silogda yang mumpuni akan memberikan kesempatan yang lebih besar kepada pemain lokal untuk menguasai pasar domestik.
Dia menyebut potensi perputaran uang di sektor logistik nasional mencapai Rp2.000 triliun per tahun yang 70%-nya masih dinikmati asing.“Logistik itu nyawanya daya saing global, 40% harga ritel itu logistik. Kalau mau unggul harus kuasai logistik, dan logistik yang harus dikuasai adalah logistik maritime kita harus beri kesempatan lebih buat pemain lokal,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Dewan Pimpinan Wilayah ALFI Jawa Tengah Ari Wibowo mengatakan hambatan sektor logistik yangpertama adalah menyelaraskan aturan daerah dengan peraturan pusat.
“Contohnya, di bidang transportasi itu di perizinan ada angkutan multi moda, di negara lain regulasi ini mencakup darat, laut dan udara. Di Indonesia terpisah jadi boros perizinan sehingga menimbulkan high cost,” ucapnya.
Kedua, mengenai bisnis BUMN yang sering bertabrakan dengan yang skalanya lebih kecil. Padahal BUMN bisa melakukan bisnis di luar yang sudah ALFI lakukan bahkan melakukan ekspansi di tingkat regional.
Ketiga, di Jawa Tengah infrastruktur bandara belum mengikuti standar international. Dia menyebut, di Jawa Tengah rerata muatan udara setiap hari mencapai 400 ton, sedangkan yang bisa dilayani bandara hanya sekitar 20%.
“Kendala terbesar di situ, kemudia masih jarangnya kapal direct langsung ke negara lain dari Tanjung Emas,” ujarnya.
Di sisi lain pihaknya tahun ini menargetkan pertumbuhan logistik mencapai 12%, atau lebih besar dari tahun lalu yang hanya 6%. Hal ini seiring dengan membaiknya pertumbuhan ekonomi di tataran nasional dan global.
Untuk merealisasikan hal itu pihaknya akan lebih gencar berkoordinasi dengan dinas perdagangan provinsi, bea cukai dan dinas perhubungan. (Logistics/bisnis.com/hd)
 

 
 
Terminal 3 Soetta Boleh Layani Penerbangan Internasional Awal Mei 2017
TANGERANG (LOGISTICS) : Kementerian Perhubungan akhirnya memberikan lampu hijau bagi Terminal 3 Internasional Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng untuk mulai melayani penerbangan antar negara pada 1 Mei 2017.
h mengevaluasi kesiapan terminal 3 Soekarno-Hatta. Meski terdapat hal-hal yang perlu diperbaiki, Garuda Indonesia dapat mulai melayani penerbangan internasional pada 1 Mei 2017.
“Setelah saya lihat memang ada beberapa yang mesti di-improve. Tapi kita putuskan 1 Mei 2017, Garuda bisa beroperasi, semuanya,” katanya saat berkunjung ke Terminal 3 Soekarno-Hatta, Jumat (14/04).
Setelah itu, lanjut Budi, PT Angkasa Pura (AP) II dan Garuda Indonesia juga diharapkan untuk dapat menggelar latihan atau simulasi secara terus menerus hingga 1 Mei 2017, khususnya pada waktu ramai (peak time).
Menurutnya, simulasi itu diperlukan agar pengelola bandara dan maskapai dapat melihat sejauh mana kelancaran operasi penerbangan internasional nantinya, mulai dari sisi SDM, peralatan,groundhandling dan lain sebagainya.
“Katakanlah jam 8 malam ke luar negeri dengan 8 pesawat itu beroperasi. Nah, bagaimana cara kerja daripada check-in, BHS [baggage handling system] petugas yang melayani dan lainnya. Ini masih ada waktu 15 hari, SOP dan peralatan harus siap,” tuturnya.
Presiden Direktur PT Angkasa Pura (AP) II Muhammad Awaluddin menuturkan bahwa masih terdapat hal-hal yang perlu diperbaiki pada Terminal 3. Namun demikian, hal tersebut bersifat minor, misalnya AC yang kurang dingin, dan rambu yang perlu ditambah.
Selain itu, perseroan yang mengelola 13 bandara di Indonesia barat tersebut juga akan segera mengirimkan surat kepada Garuda Indonesia, dimana surat tersebut menyatakan Terminal 3 Internasional siap beroperasi pada 1 Mei 2017.
“Jadi surat itu menjadi dasar bagi Garuda untuk declare kepada mitra mereka yang tergabung dalam aliansi Skyteam. Surat ini diperlukan karena Garuda akan connecting dan landing ke terminal baru,” ujarnya.
Seperti diketahui, pengembangan Terminal 3 Soekarno-Hatta dilakukan secara bertahap. Saat ini, Terminal 3 sudah melayani seluruh penerbangan domestik Garuda. Secara keseluruhan, kapasitas Terminal 3 akan mencapai 25 juta penumpang.
AP II siap operasikan layanan internasional di Terminal III
Sebelumnya, operator 13 bandara di Indonesia barat, Angkasa Pura II, menyebutkan kesiapan pengoperasian penerbangan internasional di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng sudah hampir rampung.
Public Relation Manager PT Angkasa Pura II Yado Yarismano mengatakan kesiapan Terminal 3 Soekarno-Hatta untuk menggelar operasi penerbangan internasional terbatas telah masuk tahap final, atau sudah mencapai 98%.
“Sudah masuk dalam tahap finishing. Setelah itu, akan ada proses seperti yang terjadi saat operasional domestik, seperti proses verifikasi dari Direktorat Perhubungan Udara, simulasi keberangkatan dan lain sebagainya,” katanya di Jakarta, Senin (9/1/2017).
Apabila tidak ada aral melintang, pengoperasian penerbangan internasional secara terbatas akan dilakukan pada April 2017. Nantinya, AP II akan melibatkan Garuda Indonesia dalam operasi terbatas itu.
Setelah itu, maskapai yang terafiliasi dengan aliansi Skyteam mulai melayani penerbangan internasional di Terminal 3 pada Mei 2017. Adapun, operasi penerbangan internasional akan berjalan secara penuh pada Juli 2017.
“Untuk full penerbangan internasional pada Juli 2017, progres kesiapannya saat ini baru mencapai 94%. Nanti, tahapan prosesnya itu, lebih kurang sama seperti operasi terbatas Garuda,” ujar Yado.
Dia menambahkan jadwal detail persiapan operasi penerbangan internasional di Terminal 3 Soekarno-Hatta sampai saat ini masih disiapkan. Menurutnya, jadwal detail akan disesuaikan dengan tim operasi AP II.
Pada sisi lain, progres pembangunan kereta tanpa awak atau biasa disebut dengan Automated People Mover System (APMS) masih terus dikerjakan. Rencananya, proyek APMS bakal rampung pada Juni 2017.
Director Operation & Engineering Angkasa Pura II Djoko Murjatmodjo mengatakan pembangunan APMS masih sesuai dengan jadwal yang ditetapkan (on track). Nantinya, APMS akan menghubungkan seluruh terminal dan stasiun kereta api.
“Progresnya sekarang sedang rolling stock, sama sedang dikerjakan di Korea, infrastruktur juga terus dikerjakan. Juni sudah komitmen, sebelum Lebaran. APMS-nya akan seperti di Bandara Changi Singapura,” tuturnya.
Asal tahu saja, penyediaan kereta tanpa awak di Seokarno-Hatta itu akan dikerjakan oleh PT Len Industri—yang bekerjasama dengan perusahaan asal Korea Selatan, Woojin—dengan nilai kontrak sebesar Rp530 miliar.
Kedua perusahaan nantinya akan menggunakan teknologi sistem sinyal modern tanpa awak (communication based train control/CBTC Driverless) dengan panjang lintasan 2,98 km untuk melayani lima terminal di sisi darat bandara. (Logistics/bisnis.com/hd)
 

 
 
Serikat Pekerja JICT Tolak Pengelolaan Asing
JAKARTA (LOGISTICS) : ? Serikat Pekerja Jakarta International Container Terminal (JICT) menuntut penolakan perpanjangan kontrak antara Pelindo II dengan Hutchinson Port Holding (HPH) yang dinilai akan merugikan negara karena dikelola pihak asing.
Nova Sofyan Hakim, ?Ketua Serikat Pekerja JICT menilai seharusnya pelabuhan peti kemas terbesar di Indonesia yang menjadi pintu masuk atau keluar kegiatan ekspor/impor dan juga gerbang ekonomi nasional dikelola oleh Indonesia.
"Seharusnya aset negara seperti ini dikelola secara mandiri, sebagai wujud kedaulatan ekonomi negara," tuturnya di Jakarta, Selasa (11/4).
Dia juga mengatakan perpanjangan kontrak kerja sama yang dilakukan antara JICT dan Hutchinson tersebut hanya sepihak oleh Direktur Utama (Dirut) PT Pelindo II RJ Lino. Menurutnya, perpanjangan tersebut dilakukan dengan hanya bekal izin prinsip dari Menteri BUMN yang notabenenya belum dipenuhi oleh Pelindo II secara keseluruhan.
"Tanpa izin konsesi otoritas pelabuhan dan Menteri Perhubungan, RJ Lino nekat memutuskan untuk menandatangani perpanjangan kontrak dengan Hutchinson," katanya.
Menurutnya, perpanjangan kontrak tersebut dinilai telah melanggar dan mencederai hukum di Tanah Air karena telah menabrak peraturan perundangan-undangan. Dia menjelaskan Undang-Undang (UU) tentang BUMN disebutkan tidak ada nomenklatur tentang izin prinsip yang dikeluarkan oleh Menteri BUMN.
"Bahkan, sampai hari ini saham Pelindo II di JICT belum mayoritas sesuai yang tercantum di dalam izin prinsip Menteri BUMN. Selain itu, pelanggaran juga diduga terjadi atas UU tentang Pelayaran dan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 61 Tahun 2009 tentang Pelayaran," tukasnya.
Padahal, menurutnya, Panitia Khusus (Pansus) Pelindo II yang dibentuk DPR RI dengan tegas merekomendasikan agar kerja sama dengan Hutchinson dihentikan karena telah terjadi pelanggaran aturan dan ada potensi kerugian negara.
"Sesuai dengan laporan BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) yang menemukan fakta bahwa Pelindo II melanggar UU dan menemukan kerugian negara dalam bentuk ketidakoptimalan uang muka perpanjangan oleh Hutchinson sebesar Rp650 miliar," ujarnya.
Sebelumnya dalam kontek yang relative sama Serikat Pekerja PT Terminal Petikemas Surabaya pada 2015 sempat melakukan proses penolakan perpanjangan pengelolaan anak perusahaan PT Pelindo III oleh asing, bahkan SP PT TPS berharap pada saat berakhirnya masa kontrak konsesi kerjasama antara PT Pelindo III dengan Dubai Port pada 2019, ada proses buyback yang dilakukan pemerintah atau BUMN yang bergerak dikepalabuhanan tersebut.
Meski demikian oleh Direksi PT Pelindo III yang lama aksi para karyawan yang didukung oleh SP Pelindo III Pusat itu berhasil ditekan dan dipatahkan sehingga keinginan tersebut saat ini belum lagi terdengar kabar beritanya. (Logistics/bisnis.com/hd)
 

 
 
KA Bandara Adi Sumarmo Rampung 2018
SOLO (LOGISTICS) Pemerintah menargetkan pembangunan Perkeretapian Bandara Adi Soemarmo akan rampung pada 2018.
Presiden Joko Widodo mengatakan Solo akan memiliki infrastruktur baru berupa sarana transportasi terintegrasi. Dari bandara tersedia jalur kereta api langsung ke pusat kota.
"Targetnya, semua pembangunan itu selesai pada 2018," kata Jokowi dalam siaran pers, Sabtu (8/4/2017).
Pembangunan tersebut dilakukan dalam upaya berkompetisi global dengan memiliki daya saing tinggi. Semua hal yang berkaitan dengan transportasi baik laut, darat, dan udara wajib efisien.
Presiden berpesan agar masalah pembebasan lahan tidak menjadi hambatan karena sudah menjadi tanggung jawab bupati dan walikota setempat. Masyarakat harus paham dan memberikan dukungan penuh karena untuk kepentingan rakyat.
"Pembangunan sarana transportasi terintegrasi di Solo akan langsung dimulai oleh Angkasa Pura 1. Sementara, PT Inka langsung mengerjakan keretanya di Madiun," tuturnya.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan, Bandara Adi Soemarmo akan menjadi bandara besar dengan terminal seluas 13.000 m2 yang akan diperluas menjadi 26.000 m2.
Adapun, kapasitas sebesar 1.525.013 penumpang per tahun akan dikembangkan secara bertahap dalam dua tahun.
 
KA Bandara Soetta Rampung 2017
PT Angkasa Pura II (Persero) optimistis pembangunan stasiun kereta di Bandara Internasional Soekarno-Hatta dapat dituntaskan pada akhir Maret 2017, seiring terus meningkatnya progres pengerjaannya hingga saat ini.
President Director PT Angkasa Pura II (Persero) Muhammad Awaluddin mengatakan bahwa progres proyek stasiun kereta bandara dengan investasi sekitar Rp160 miliar itu, per awal februari 2017 telah mencapai 85% atau sesuai jadwal semenjak dimulainya pembangunan pada Juni 2015.
“Stasiun kereta di Bandara Internasional Soekarno-Hatta akan selesai pada Maret 2017 atau bersamaan dengan selesainya pembangunan stasiun Skytrain,” ujarnya, Minggu (26/2).
Menurutnya operasional kereta tersebut cukup penting guna mendukung konektivitas transportasi dari Jakarta menuju bandara atau sebaliknya.
“Selain itu juga dapat mengurangi penggunaan kendaraan pribadi sehingga membantu mengurangi kepadatan lalu lintas,” ujarnya.
Menurutnya dengan segera selesainya pembangunan itu, maka mobilitas penumpang pesawat atau pengunjung bandara dari Stasiun Manggarai di Jakarta ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta atau sebaliknya akan lebih mudah, nyaman, dan cepat. “Karena waktu tempuh hanya sekitar 45 menit,” jelasnya.
Dia menerangkan stasiun kereta tersebut didesain untuk terkoneksi dengan stasiun Skytrain, sehingga bagi penumpang pesawat atau pengunjung yang tiba di bandara dengan kereta, dapat langsung memilih Skytrain sebagai moda transportasi untuk menuju Terminal 1, 2, atau 3.
Kapasitas stasiun kereta bandara dapat menampung hingga 3.500 penumpang, terdiri dari kapasitas peron sebanyak 2.000 penumpang dan kapasitas daya tampung di bangunan sebanyak 1.500 penumpang.
Sejumlah fasilitas yang tersedia di stasiun kereta bandara antara lainticketing counter, public hall, tapping gate in, waiting lounge, commercial area, toilet, musholla, station headroom, konektivitas keintegrated building serta stasiun Skytrain, dan sebagainya.
Adapun kereta bandara ini akan dioperasikan oleh PT Railink yang merupakan anak usaha dari PT Angkasa Pura II (Persero) dan PT Kereta Api Indonesia. Kereta bandara ini akan mulai beroperasi pada Juli 2017 dengan enam kereta berkapasitas 272 penumpang atau dalam 1 hari dapat melayani sebanyak 35.000 penumpang. Total trek dari kereta bandara ini sejauh 36,3 km.
“Saat ini dalam 1 hari Bandara Internasional Soekarno-Hatta melayani penerbangan sekitar 150.000 penumpang, sehingga diperkirakan kereta bandara akan mengurangi 20-30% volume kendaraan umum atau pribadi yang menuju bandara,” tambahnya. (Logistics /bisnis.com/hd)
 

 
 
Jokowi : Kapal Besar Mulai Banyak Berlabuh di Tanjung Priok
JAKARTA (LOGISTICS) : Presiden Joko Widodo mengatakan kapal-kapal besar akan mulai merapat di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta menyusul upaya perbaikan pelayanan yang terus dilakukan baik pemerintah maupun operator.
"Sebentar lagi atau pekan depan, akan ada kapal besar berukuran 10.000 TEUs [twenty feet equivalent units] yang masuk ke Tanjung Priok," kata Presiden Jokowi ketika meresmikan pengoperasian Jalan Tol Akses Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta Utara, Sabtu (15/4/17).
Secara khusus Jokowi berharap beroperasinya kapal besar di Palabuhan Tanjung Priok dapat meningkatkan daya saing Indonesia dan akan mengurangi biaya transportasi.
"Kita harapkan arus keluar masuk barang di pelabuhan dapat berlangsung cepat," katanya.
Presiden Jokowi juga berharap nantinya semua kontainer tujuan Indonesia tidak perlu transit di Singapura tapi langsung ke Tanjung Priok.
Presiden Jokowi menyebutkan barang-barang masuk ke Indonesia, sebelum disebar ke seluruh Tanah Air atau sebaliknya, dikumpulkan dulu di Tanjung Priok.
"Begitu di Tanjung Priok tidak lancar, yang lain juga tidak lancar. Alhamdulillah dengan peresmian Jalan Tol Akses Priok maka kecepatan kapal keluar atau masuk ke Priok dapat lebih baik, ini juga akan meningkatkan daya saing Indonesia," katanya.
Presiden juga menyebutkan pembangunan Jalan Tol Akses Priok sepanjang 11,4 km itu sempat tertunda karena sejumlah kendala.
"Saya masih ingat waktu menjadi gubernur DKI, pembangunan jalan tol ini mundur dua tahun karena masalah pembebasan lahan. Saya turun beberapa kali ke sini, hingga akhirnya masalah lahan dapat diselesaikan," katanya.
Penyebab lainnya adalah adanya kesalahan di struktur awal jalan tol itu. Sebanyak 69 tiang harus dipotong sehingga harus mundur lima- enam tahun.
Ia menyebutkan jalan tol itu nantinya akan dilewati sekitar 3.600 kontainer per harinya.
"Tol ini akan dilewati 3.600 kontainer, itu banyak sekali dan diharapkan memberi kecepatan dan daya saing yang baik bagi Indonesia," katanya.
Pembangunan jalan tol itu dibiayai Pemerintah Jepang melalui JICA sebesar Rp4,1 triliun. Pembangunan. Jalan tol itu dimulai tahun 2003, kemudian tertunda dan dimulai lagi tahun 2008.
 
ALFI : Kapal Besar Akan Semakin Banyak Merapat di Tg Priok
Asosiasi logistik dan forwarder Indonesia (ALFI) meyakini kapal berukuran besar (mother vessel) global lainnya akan memanfaatkan fasilitas pelabuhan Tanjung Priok pasca dibukanya direct call kapal peti kemas Compagnie Maritime d'Affretement-Compagnie Generali Maritime (CMA-CGM) Titus, pada awal pekan ini.
Sekretaris ALFI DKI Jakarta, Adil Karim mengatakan, dengan hadirnya mother vessel tersebut., membuka peluang bagi Indonesia untuk mengurangi kegiatan transshipment angkutan ekspor impor di pelabuhan Negara tetangga.
“Direct call ini sangat jelas menguntungkan Indonesia, sebab kargo ekspor impor kita gak perlu lagi nggak perlu lagi singgah di singapura maupun di Tanjung Pelepas Malaysia. Apalagi pasar muatan Indonesia selama ini sangat besar,” ujarnya kepada Bisnis, Selasa (11-4-2017).
Pada awal pekan ini, PT Pelabuhan Indonesia II (Persero)/IPC menggandeng perusahaan pelayaran asal Prancis CMA-CGM membuka layanan baru (direct call), yakni Java South East Asia Express Services/ Java SEA Express Services/ JAX Services.
Dalam kerja sama itu, CMA-CGM menge rahkan kapal petikemas raksasa berkapasitas 8.500 TEUs dengan rencana sandar reguler secara mingguan (weekly call).Servis ini melayani rute Pelabuhan Tanjung Priok ke West Coast (LA dan Oakland) Amerika Serikat dengan menggunakan kapal berkapasitas 8.500 TEUs, melalui Jakarta International Container Terminal (JICT).
“Kami sangat mengapresiasi direct call itu dan ini merupakan kesuksesan Kementerian Perhubungan. Dengan adanya mother vessel kapasitas besar akan menurunkan cost logistik dan transhipment di Priok akan menjalankan amanat tol laut yang diinginkan Presiden Jokowi.
Adil mengatakan, dengan direct call itu, pengelola pelabuhan mesti terus meningkatkan performance-nya untuk membawa pelabuhan Tanjung Priok lebih baik lagi dimasa mendatang sebagai pelabuhan terbesar di Indonesia, sehingga target untuk kapal mampu mendatangkan kapal diatas 10.000 TEUs bisa direalisasikan.
“Semakin banyak direct call dengan mother vessel akan lebih mengefisienkan biaya logistik,” tuturnya.
Sebelumnya, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, yang menghadiri trial inspection kapal CMA-CGM Titus itu di Dermaga Jakarta International Container (JICT) pada awal pekan ini, juga mengapresiasi pembukaan layanan tersebut.
“Ini merupakan satu prestasi, satu quantum leap yang membanggakan.Pada 23 April kita akan mengundang Bapak Presiden ke dermaga JICT, karena ada pengangkutan dengan jumlah logistik yang sangat signifikan. Ini akan secara intensif kita lakukan," ungkap Menhub. (Logistics /bisnis.com/hd)